SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Sabtu, 07 Juli 2007

Musim liburan sekolah telah beberapa hari berlangsung, bersamaan dengan musim mencari sekolah bagi anak-anak yang baru lulus. Di saat seperti ini kita menyaksikan betapa para orangtua berada dalam posisi cemas, ragu bersamaan pula dengan kegembiraan. Segala perasaan hadir di saat seperti ini. Mereka yang sudah diterima lega tetapi masih masih ada yang cemas soal biaya, yang belum diterima apalagi. Ada kegembiraan ketika semua syarat sudah terpenuhi, yakni diterima sekaligus mampu membayar biaya pendidikannya. Tetapi, ada yang tidak bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi karena terbentur dengan biaya yang tidak semakin mengecil itu.

Silih berganti harga barang naik. Setelah bahan bakar bakar minyak (BBM), lalu menyusul elpiji, minyak goreng, dan akhir-akhir ini susu formula. Meski sudah sering terjadi, kita selalu merespon dengan sikap terkaget-kaget dan panik. Ketika harga susu mulai naik pekan lalu, tak sedikit orang tua yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun (balita) langsung memborong susu formula untuk persediaan minimal sebulan. Pertimbangannya mumpung harga belum naik terlalu tinggi karena ada isyarat produsen akan menaikkan secara bertahap. Apalagi ditambah ada isu yang berembus kencang bahwa kenaikan harganya bisa mencapai 100%. Kepanikan pun tak lagi bisa terelakkan.

MANUVER aksi sejumlah aktivis Republik Maluku Selatan (RMS) yang menyusup sebagai kelompok penari Cakalele, merupakan bentuk tindakan makar secara politik. Tindakan RMS selama ini diakui atau tidak telah menciptakan instabilitas politik lokal ,

OBJEKTIVITAS muncul dari pandangan positivisme, yang melihat realitas adalah sesuatu yang tunggal. "Positif" sama dengan "faktual", yaitu segala sesuatu yang berdasarkan fakta. Pengetahuan tidak melampaui fakta. Itulah sebabnya, positivisme menolak metafisika.

MESKIPUN pilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah masih cukup lama, suhu politik yang berkaitan dengan masalah tersebut sudah mulai terasa. Ada balon gubernur yang sudah menyatakan dengan siapa ia akan bergandengan. Ada yang masih mencari-cari siapa yang layak,

Presiden dalam suatu acara di Prambanan beberapa waktu lalu menyatakan Indonesia tidak akan maju dan tidak tampil terhormat jika pendidikan yang ada tidak bermutu. Pernyataan itu saya nilai tepat sekali. Karenanya para pakar pendidikan, mendiknas beserta jajarannya sampai tingkat kakancam perlu mawas diri.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA