| Rabu, 20 Juni 2007 | NASIONAL |
Suara Biduan Itu Tak Lagi TerdengarSUARA Novalinda Kusumadewi, kini sudah tak lagi terdengar. Warga RT 01 RW 02 Dusun Tegal Weden, Tegalgondo, Wonosari, Klaten itu meninggal setelah minum insektisida bersama kekasihnya, Budi Harjo. Keluarga gadis itu mengaku pasrah dengan kenyataan tersebut. Kemarin, beberapa kerabat berdatangan menyampaikan bela sungkawa. Di halaman rumah masih terpasang terpal. Sejumlah kursi sewa juga belum dikembalikan. Menurut keluarganya, gadis tamatan SD itu memang punya suara indah. Bakat menyanyi diperoleh dari ibunya, Muji Rahayu, yang pada masanya juga menjadi biduan dangdut. Kematian pasangan kekasih itu seolah mengingatkan kisah asmara yang sedang mereka jalani sebelumnya. Nova, menurut warga sempat, Minggu lalu (17/6) terlihat menangis ketika Budi datang ke rumahnya. Tidak ada yang tahu apa yang mereka pikirkan pada saat itu. Akan tetapi, sore itu, keduanya terlihat lebih mesra dibandingkan hari-hari sebelumnya. Saat itu ayahnya berencana mengorek ''masalah'' yang mereka sembunyikan. "Rencananya, malam harinya (Minggu malam) Nova mau saya ajak bicara, tapi karena ada keperluan lain, akhirnya belum sempat," ujar Lantono, ayah Nova. Di tengah kesunyian malam, Nova tiba-tiba pergi tanpa pamit. "Saat Nova pergi, saya sudah tidur. Baru tahu setelah ada tetangga yang memberitahu," kata Muji Rahayu. Kepergian penyanyi campursari itu bisa jadi karena malam itu juga ingin bertemu Budi. Ada kabar malam itu Budi menjemput di suatu tempat yang telah dijanjikan, setelah dia memperoleh SMS dari Nova. ''Yen ora rono aku iso mati,'' kata Suwarti (55), tetangga Budi mengutip isi SMS dari nomor ponsel Nova. Rupanya malam itu Nova pergi ke rumah Budi hingga akhirnya pagi harinya mereka diketahui minum racun bersama. "Saya kaget ketika dikabari dua anak itu minum racun dan sudah dibawa ke PKU," tutur Muji. Keluarga hanya bisa menduga-duga kenekatan itu dilatarbelakangi masalah penundaan pernikahan sejoli itu. Mereka ingin menikah secepatnya, namun karena kakak Budi baru saja menikah, acara itu tertunda. Menurut perhitungan Jawa, dalam satu tahun tidak boleh menikahkan anak dua kali. Akan tetapi semua hanya bisa mengira-ngira latarbelakang kejadian tersebut. Yang jelas, suara biduan itu kini tak lagi terdengar. (Dini Tri W-46) |