logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 20 Juni 2007 BUDAYA
Line

Ekspresi Galau Hati

KONON, setiap kali jatuh cinta semua orang dinaungi kepiawaian penyair. Mereka mudah menggoreskan pena untuk membuat untaian kata-kata indah. Larik-larik puisi. Namun, apakah orang perlu jatuh cinta setiap hari untuk membuat puisi? Jika mau tahu jawabnya, bertanyalah pada siswa SMA 2 Semarang yang tergabung dalam Sanggar Sastra. Sebab, mereka telah menunjukkan kepiawaian menulis puisi.

Ya, Senin (18/6), para siswa kreatif itu meluncurkan antologi puisi karya mereka. Buku berjudul Cermin Hati itu berisi 54 puisi karya 15 penyair. Itu antologi puisi pertama terbitan Sanggar Sastra yang baru berdiri dua tahun lalu.

Peluncuran itu digelar secara sederhana di aula SMA 2 Jalan Sendangguwo Baru I, Pedurungan, dirangkai dengan "In Memoriam Chairil Anwar". Chairil tak lain tak bukan penyair Angkatan 45, yang banyak berpengaruh pada penyair generasi berikutnya.

Di panggung, silih berganti siswa dan guru sekolah itu membacakan puisi. Sebagian membacakan puisi karya Chairil, sebagian karya mereka yang tak kalah menarik. Perhelatan itu dimeriahkan "Jurnalis Baca Puisi".

"Antologi ini harus dimaknai sebagai buah kreativitas yang perlu dipacu agar mereka dapat melahirkan karya yang lebih bergigi," kata Ida Yunara, pembimbing Sanggar Sastra.

Mengalir

Buku itu cukup lux, dengan kulit muka didominasi warna hitam dan gambar hati berwarna merah yang merupakan ikon cinta. Dalam buku itu, para penyair pemula meruapkan galau hati tentang berbagai hal.

Menikmati puisi mereka terasa seperti mengunyah gado-gado aneka rasa. Di dalamnya ada tema sosial, religiositas, kemarahan, kelakar, dan tentu saja cinta. Semua mengalir renyah, dengan diksi gampang dicerna.

Coba simak pemujaan Indriyarti Rima Prasetyani pada sosok sang ibu lewat puisi "Bunda". "Aku sungguh memujamu/ engkau pelita hati yang tak pernah padam//Aku sungguh menyanjungmu/engkau pedoman titian langkahku/menuju haribaan Ilahi."

Liliek Handoko lain lagi. Siswa kelahiran Demak yang bercita-cita jadi presiden itu mencipta puisi yang sarat religiositas. Dalam "Menanti Ajal", dia menulis, "Ya Rahman/apakah awalku sudah cukup untuk masuk sorga-Mu//Ya Rahim/aku ingin diberi waktu lagi/agar hambamu ini dapat menjawab pertanyaan/malaikat nanti."

Ada beberapa karya mengingatkan pada puisi mbeling yang diproklamasikan Japi Tambayong alias Remy Sylado dan kawan-kawan dekade 1960-an. Coba simak penggalan puisi "Sembelit" Aninda Wida (Tata). "Desah derit perih menghimpit/tak jelas//Aduh... aduh/ah... lega."

Warna senada muncul pada puisi "Cokelat Hangat, Kopi Pekat" Ayu Atika Dewi. "Baunya/tampilan memikat/warnanya/disentuh hangat//Hemm/ kudekati kuhirup aromanya/seperti manis/hangat dan nikmat//Aku angkat/mataku terpejam dibuai aroma cokelat/dan aku tercekat/pahit lekat." (Achiar M Permana-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA