logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Juni 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Sulit Berantas Korupsi

Tindak pidana yang banyak merugikan negara antara lain adalah korupsi. Meski demikian korupsi tidak terberantas secara tuntas di negeri ini. Justru dari hari ke hari terasa terus berkembang. Terbukti sorotan internasional yang menyatakan korupsi di Indonesia sudah di atas rata-rata negara lain.

Ditinjau dari sudut apa pun, korupsi sangat merugikan. Tetapi mengapa di negeri ini justru malah berkembang. Padahal secara budaya, bangsa ini punya budaya luhur. Korupsi ibarat penyakit menular di mana ada kesempatan, terus menjalar tanpa batas. Bahkan mampu merontokkan mental sebagai benteng terakhir penangkal tindak korupsi.

Pemberantasan korupsi, sebenarnya sudah banyak dilakukan. Mulai bentuk pembinaan mental melalui penataran, sampai pengawasan langsung/melekat yang masih ditambah dengan ancaman hukuman pidana. Tapi mengapa semua itu tidak mempan menghalau tindak korupsi dan kenapa pelakunya tidak merasa malu.

Seharusnya mereka malu jika dikatakan koruptor/tikus yang menggerogoti keuangan negara. Melihat kenyataan ini sangat sulit merumuskan penyebab korupsi secara pasti. Apalagi memberantas secara tuntas. Satu-satunya yang bisa diharapkan hanya mengurangi tindak korupsi. Selama ini hanya bisa mengurangi korupsi, bukan memberantas tuntas.

Salah satunya dengan menempatkan orang jujur, punya idealisme dan komitmen tinggi pada kepentingan negara sebagai tampuk pimpinan pada jabatan strategis. Dengan pimpinan yang bisa jadi panutan, diharapkan mampu mengerem lajunya korupsi.

Selain itu yang terpenting, tidak dibuka kesempatan. Segala peluang yang mengarah korupsi harus ditutup. Kesempatan sekecil apa pun akan bisa berkembang menjadi penyakit korupsi. Sanksi hukum berat juga merupakan cara mengurangi tindak korupsi. Dengan ancaman hukuman berat serta rasa malu, diharapkan punya dampak psikologis bagi pelakunya.

Mereka akan merasa jera. Tapi ada kelemahannya, yatu tergantung pada penegak hukum yang bertanggung jawab mengemban hukum. Ancaman hukuman berat bisa mencapai sasaran bila hukum ditegakkan secara jujur di semua lembaga pemerintahan.

Amar Makruf

Purwogondo, Kalinyamat, Jepara

Tontonan Seronok

Belum lama ini saya belanja di Pasaraya Luwes Purwodadi. Saya kaget ketika di pintu masuk melihat hal yang tidak pantas untuk ditampilkan di tempat belanja. Sebuah pertunjukan musik yang menampilkan 3 penyanyi perempuan seksi dengan (maaf) paha dan perut terlihat. Hal ini sungguh tidak pantas, karena pasaraya tersebut tempat belanja keluarga.

Jadi tidak hanya bapak-bapak saja yang belanja dan kebetulan nonton, tapi juga para remaja dan anak-anak yang belum waktunya melihat hal semacam itu. Yang saya sayangkan, tempat dan waktu pelaksanaannya. Panggung yang ditempatkan di bagian depan gedung ditambah sound system yang keras bisa mengganggu pengguna jalan.

Waktu penyelenggaraannya juga tidak tepat, menjelang magrib dan saat banyak orang tua beserta anak-anaknya untuk jalan-jalan atau berbelanja.

Saya berharap pengelola tidak menyelenggarakan acara seperti itu lagi. Kalau ingin mengadakan acara seperti itu alangkah bijaknya jika lokasinya di gedung tertutup dan diadakan malam hari.

Tontonan semacam itu dapat merusak mental dan pikiran anak-anak dan remaja. Semoga keluhan saya ini juga dijadikan pertimbangan Pemkab Grobogan dan aparat yang berwenang untuk terus konsisten melaksanakan fungsinya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

Dimas Galih Kusuma Putra

Penganten RT 1/RW 2 Putat, Purwodadi

***

Sopir pun Berganti

Pak Amien Rais berkata, ibarat bus umum Indonesia sudah harus berganti sopir dan hal ini dikatakan sejak zaman Pak Harto yang lama jadi sopir. Banyak yang setuju melihat fakta bahwa setelah 60 tahun kemerdekaan, bus yang bernama Indonesia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sampai pada tujuan, negara yang adil dan makmur untuk seluruh rakyatnya.

Kini bus umum itu telah beberapa kali ganti sopir (baca: presiden), lalu bagaimana dengan tujuan yang ingin dicapai. Banyak pakar mengatakan belum kelihatan tanda-tanda akan nyampai, lebih parah lagi jalannya semakin tidak terarah meski bila ditanyakan ke sopir, mereka selalu menjawab bus telah berjalan sesuai tracknya.

Rakyat sebagai pemilik bus dan sekaligus penumpangnya dari jendela bisa melihat tanda kalau bus sudah dekat dengan tujuan yaitu pemandangan yang asri dan indah. Anak-anak bersenda gurau, orang tua-muda hidup rukun karena tercukupinya pangan, sandang, papan dan lapangan pekerjaan.

Tapi sayang sepanjang jalan masih terlalu sering penumpang melihat pemandangan yang menyedihkan. Anak kurang gizi, makan nasi aking, perut buncit, mati kelaparan, para ibu berdiri berdesakan antre beras, minyak tanah, gedung kumuh berserakan diterjang banjir, gempa dan aneka bencana lain.

Lalu terdengar jerit tangis anak dan wanita menghiba meminta bantuan. Apa salah rakyat telah memilih sopir atau barangkali peran sopir tidaklah segalanya. Ada kondektur, kernet, teknisi dan banyak calo yang lebih menentukan arah dan jalannya bus.

Pemilik bus telah mengutus wakil-wakilnya untuk merancang arah dan sekaligus mengawasi jalannya bus agar berjalan terarah dan sampai pada tujuan. Tapi sayang sebagian besar utusan itu lebih banyak bertindak sebagai calo yang mengutamakan keuntungan pribadi keluarga dan golongannya.

Para calo tidak peduli pada arah dan jalannya bus serta keselamatan dan kenyamanan para penumpang apalagi memikirkan keuntungan pemilik bus. Yang terpenting bagi mereka, dapat setoran hari ini, dapat untung sebanyak-banyaknya selagi masih dipercaya. Bahkan kalo perlu bus itu sendiri digerogoti, dipreteli, digadaikan atau dijual. Serakah.

Kini saatnya pemilik bus sadar dan belajar dari pengalaman bahwa kalau mau menentukan kriteria yang ketat ternyata bukan hanya pada calon sopirnya, namun yang jauh lebih penting justru pada orang yang akan mewakili.

Mereka harus bersih, jujur, cerdas dan amanah agar tidak mudah diapusi sopir, kernet dan para teknisinya. Bersih, jujur dan amanah sangat penting agar tidak mudah dirayu, disuap dan diajak berkhianat. Semoga pemilik bus mendapatkan wakil yang benar-benar seperti itu.

Khamim Budiarto

Jl Unta Raya 2, Semarang

***

AVID

Pasca dihentikannya tayangan WWF Smack Down, pemerintah harus lebih berhati-hati lagi dan selektif memonitor perkembangan industri media. Perhatikan materi siaran teve yang sering mengadopsi (dengan cara membeli hak?) siaran teve asing. Apakah akan menjadi bangsa terbelakang bila tidak menyiarkan Sponge Bob, Fear Factor, Who Want To Be Millionair dan lainnya.

Padahal terbukti keteledoran masalah jam dan materi tayang telah menimbulkan aspek sosial yang tinggi bahkan nyawa menjadi taruhan. Sama sekali tidak rugi bila kita tidak memiliki John Cena -John Cena yunior. Yang kita inginkan adalah generasi penerus Umar Syarif (karateka), Taufik Hidayat (bulutangkis), Lisa Rumbewas (angkat besi).

Pengarang buku On Killing: The Psychological Cost of Learning to Kill in War and Society, Letkol David Drossman, bekas guru besar psikologi di West Point, akademi militer AS adalah pakar desensitisasi (hilangnya kepekaan perasaan). Selama puluhan tahun dia melatih para prajurit Amerika agar tega terhadap musuh.

Caranya dengan menghilangkan perasaan perajurit dan lebih menggunakan okol-nya pada saat bertempur. Namun ternyata lama kelamaan para prajurit bahkan yang sudah purnawirawan, mengalami sindrom yang disebut Acquired Violence Immune Deficiency (AVID).

Sindrom ini bisa mengancam siapa saja termasuk anak-anak. Virusnya menyebar melalui tayangan kekerasan siaran teve atau elektronic game macam play station atau video game yang beberapa tahun ini makin merambah perumahan dan perkampungan.

Namun tayangan tersebut tidak pernah disebut sebagai bentuk kekerasan, hanya sekadar aksi laga. Coba cari di seluruh stasiun teve kita, adakah siaran kekerasan, tayangan kekerasan atau sinetron kekerasan. Pasti yang ada aksi laga, sinetron laga, tayangan laga, film laga, atau film aksi.

Menurut Stephen Kline, guru besar komunikasi sekaligus peneliti electronic game, untuk merasakan desensitisation effect saat bermain video game hanya butuh waktu satu jam.

Ini bisa melahirkan apa yang disebut oleh Sissela Bok sebagai compassion fatigue yaitu keletihan yang membuat kita tidak sanggup lagi merasa terharu atau berbelas kasihan pada orang lain.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Soal Parkir

Saya belum lama ini ke Matahari Plaza Simpanglima Semarang. Saat membayar parkir motor terdapat pengumuman yang tertempel di pos pintu masuk yaitu "Parkir Roda Dua Rp 1.250".

Namun di karcis ternyata masih tertera Rp 1.000, sedang angka Rp 1.250 hanya berupa cap/stempel. Mohon penjelasan pengelola parkir mengapa bisa terjadi demikian (fotokopi terlampir).

Kepada Dipenda, bagaimana detail perda tentang perparkiran di Pemkot Semarang sebab saya baca ada dua perda yang tercantum di kertas parkir yaitu berdasarkan Perda No 10 Tahun 2001dan Perda No 11 Tahun 2002. Mana yang benar dan berapa sih tarif parkir untuk roda dua yang benar, kok ada yang Rp 500, Rp1.000 dan Rp1.250.

Di tempat atau lahan seperti apakah bebas parkir dan di tempat yang bagaimana diwajibkan membayar retribusi parkir. Apakah dibenarkan penarikan retribusi parkir di halaman kantor/lembaga pemerintah/BUMN sebab kenyataannya sering harus bayar tanpa bukti karcis parkir. Apakah pemerintah/aparat tidak bisa menertibkan perparkiran.

Suprayitno

Jl Tlogomukti Timur I/878, Semarang

***

Pungutan Sekolah

Setiap awal tahun ajaran baru , fenomena pungutan sekolah jadi topik para orang tua. Hal ini sebagai buah simalakama para pendidik (guru) di mana pun. Bila menggunakan aturan baku yakni atas dasar ketentuan UUD 1945, maka guru bernyali kuat tidak akan menarik sepeser pun pungutan sekolah.

Namun bila ada faktor X serta didorong nafsu semata atau jabatan tanpa nurani, maka mereka akan tetap membuat kebijakan demi peningkatan mutu (katanya) sehingga pungutan jadi proyek. Pemerintah dengan aturan yang ada dan terukur sudah menggariskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawabnya.

Lewat kucuran dana APBN/APBD dan BOS serta dana lain tidak mengikat, sudah seharusnya pungutan pada awal tahun ajaran baru sebagai barang haram. Untuk sekolah unggulan/favorit dengan semua Ievel/tingkatan wajib meniadakan pungutan apa pun bentuk serta alasannya. Pungutan harus ditolak oleh semua orang tua.

Bila pungatan demi peningkatan mutu, perlu dipertanyakan kebenarannya. Sebab fasilitas sekolah yang lengkap tidak menjamin mutunya. Sarana yang komplit sekolah tidak menjamin 100% lulusannya bisa hidup mapan. Singkat kata, keberhasilan anak didik tidak 100% ditentukan fasilitas sekolah.

Juga tidak ditentukan sebutan sekolah unggulan/favorit dan oleh panjangnya gelar yang disandang gurunya. Keberhasilan murid ditentukan si murid sendiri. Bagaimana dia bisa mengelola waktu belajarnya secara disiplin, sungguh-sungguh dan efisien dengan iringan doa.

Wisnu Widjanja

Jl Sindoro I/16 Panggung Tegal

***

Perbaikan Pasar Johar

Gagasan merenovasi bangunan Pasar JoharSemarang yang kontroversial nampaknya mulai diungkap lagi setelah sekian lama hilang dari pemberitaan. Baik pihak pro maupu kontra, sebenarnya punya visi sama yaitu ingin menghilangkan kesan kumuh serta memberi tempat berjualan yang nyaman bagi para pedagang.

Tetapi mengingat nilai sejarah bangunan Pasar Johar yang telah menjadi landmark Kota Semarang, alangkah sayangnya bila peninggalan arsitek Thomas Kaarsten tersebut dibongkar, walau nantinya diganti dengan bangunan yang lebih megah. Apalagi kalau dilihat dari kondisi fisiknya yang masih kokoh dan dapat dipertahankan.

Timbulnya gagasan membongkar Pasar Johar sehenarnya ada dua yaitu kekhawatiran bangunan akan menjadi rusak akibat rob dan semrawutnya tata letak para pedagang sehingga timbul kesan kumuh. Sebelum diputuskan perbaikan sebaiknya Pemkot Semarang menunggu hasil perbaikan sistem drainase yang dananya disediakan Jepang (Japan Bank for International Cooperation atau JBIC).

Proyek tersebut selain membangun waduk Jatibarang dan perbaikan sistem Sungai Kaligarang/Banjirkanal Barat, juga untuk menormalisasi Kali Semarang, Kali Baru, Kali Asin. Juga mencakup pembangunan dua polder dan dua stasiun pompa berkapasitas cukup besar untuk membebaskan wilayah Semarang Tengah dari rob maupun banjir kiriman.

Dana pinjaman Jepang yang sudah disepakati sejak dua tahun lalu tersebut sampai kini belum ada tindak lanjutnya. Pemerintah sudah harus membayar bunga yang tidak kecil sejak perjanjian pinjaman ditandatangani. Bila pemerintah lebih proaktif menindaklanjuti pinjaman tersebut, diperkirakan dalam tahun 2010 wilayah Semarang Tengah akan bebas dari banjir akibat rob termasuk Johar dan sekitarnya.

Untuk menghilangkan kesan kumuh, sebaiknya diadakan penataan pedagang yang ada di dalam rnaupun luar Pasar. Hal ini perlu sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat yang persuasif sehingga dapat dicapai kesepakatan yang diterima semua pihak.

Ir Mestika Dipl HE

Jl KH Wahid Hasyim 24, Semarang

***

RSUD Dr Suwondo

Beberapa waktu lalu anak saya masuk ke RSU Dr Suwondo Kendal karena DB, dirawat di ruang VIP Anggrek 10. Pada suatu hari pukul 10.00 bertepatan dengan visit dokter, kebetulan dia sedang di WC. Karena cukup lama dokter pun batal memeriksa dengan pesan kepada istriku yang menunggui agar segera menghubunginya bila sudah selesai buang hajat.

Sesuai pesan, istriku segera menghubungi dokter untuk melaporkan dan sekaligus konsultasi tentang perkembangan kesehatan anak. Adakah kemungkinan dapat pulang mengingat dia harus mengikuti Ujian Nasional. Sungguh tak terduga, jawaban dokter tidak profesional: "Ibu lebih mementingkan kesehatan anak atau ujian sekolah ?".

Jawaban dokter tidak kooperatif dan kurang simpatik tersebut lebih membuat saya kurang hormat pada institusi yang memiliki motto: "Senyumku adalah penyembuhanmu", yang terpampang di depan pintu masuk rumah sakit. Terlebih lagi sejak pagi itu anak saya tidak mendapatkan pelayanan dokter spesialis sampai ada pergantian dokter.

Semoga pengalaman ini menjadi masukan untuk direktur dalam membenahi sistem manajerial personal di RSU Kendal yang telah berani mengubah paradigma "Sekarang melayani masyarakat lebih baik", hingga pasien senang menggunakan jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit kebanggaan masyarakat Kendal ini.

Bustari

Tanjungmojo RT 1/ RW 3 Kangkung, Kendal

***

Mohon Pertolongan

Saya mengetuk hati dermawan karena tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan agar bisa menyelesaikan kuliah. Saya mahasiswi semester 6 program studi Bimbingan dan Konseling FKIP UKSW Salatiga dengan IPK 3,53, sudah berusaha mencari sponsor orang tua asuh baik di Salatiga maupun di Kota/Kabupaten Pekalongan, tetapi belum berhasil. Saya ingin menyelesaikan kuliah dan karenanya mohon dermawan menolong.

Nur Hanifah

Kalilembu RT 1/RW 1 Karangdadap, Pekalongan


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA