| Sabtu, 02 Juni 2007 | NASIONAL |
Peluru Masih Bersarang di Dada KhoirulMALANG-Nasib bocah Khoirul Anwar (3), yang kini dirawat secara intensif di ruang 13 atau ruang pemulihan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, sudah mulai membaik. Ia yang sempat dikabarkan meninggal dunia justru sudah mulai tersenyum. Bahkan bocah itu sudah bisa minum dan makan. Apalagi kini sudah ditemani Sutrisno, bapaknya. Sementara Agung, anak sulung pasangan Sutrisno dan Mistin (almarhumah) terpaksa ditititipkan ke saudaranya di Alas Tlogo. "Kita tunggu perkembangan kesehatannya, karena untuk operasi pengambilan pecahan peluru di dada kirinya kondisi tubuh harus sehat" kata Noviani, kepala humas RSSA. Tim dokter rumah sakit belum bisa mengambil peluru yang bersarang di dadanya karena kondisi kesehatannya belum stabil. Di dada kirinya, masih nampak perban yang diplester untuk menutup lukanya. Khorul sendiri masih bertelanjang dada, kalaupun tidur ia diberi selimut dan di tangannya masih terpasang selang infus. Khoirul Anwar dan Erwanto (bukan Irwanto) dipindahkan ke ruang 13 atau ruang pemulihan setelah dioperasi pada Rabu malam (29/5). Khoirul masuk ruang pemulihan pada Kamis pukul 01.00 dini hari, sedangkan Erwanto masuk setengah jam kemudian setelah usus yang luka akibat kena tembakan terpaksa dipotong. Sementara itu Sutrisno masih nampak wajah kusut dan rona duka merasakan beratnya beban pikiran dan kesedihannya. Ia belum bisa berbicara banyak, bahkan beberapa kerabatnya ada yang menghibur untuk menguatkan hatinya setelah ditinggal mati istrinya karena kena peluru anggota Marinir. Sementara salah satu anaknya masih tergolek di tempat tidur di rumah sakit dengan nasib yang sama, kena terjangan peluru tajam anggota TNI. Bayangan di kala mereka masih kumpul dalam satu keluarga seakan sirna begitu saja saat mendapati istrinya, Mistin (26) terbujur kaku di depan mushala dengan luka di punggung dan tembus ke dada. Sementara anaknya yang ada dalam gendongan Mistin ikut juga tertembus peluru yang hingga kini masih tertanam di dada sebelah kirinya. Dari beberapa informasi yang berhasil dihimpun, sebelum musibah terjadi Mistin sedang membelah kayu dengan menggendong Khoirul tidak jauh dari rumahnya. Begitu mendengar suara tembakan ia mencoba lari karena ketakutan. Namun upaya menyelamatkan diri kalah cepat dengan lajunya peluru yang akhirnya menewaskan dirinya. Empat jenazah yang sudah dimakamkan di TPU Desa Alas Tlogo masing-masing Mistin luka tembak pada punggung tembus dada, Siti Khotijah (20) yang sedang hamil lima bulan kena mata dan dahi kanan, Sutam (45) kena kepala, dan Rochman (25) luka di bagian kepala yang akhirnya meninggal dalam perjalanan ke RSSA Malang.(jo-41) |