| Sabtu, 02 Juni 2007 | SEMARANG |
Kebakaran Pasar Boja (1)Pengepul Besi Rongsok PanenPASCAKEBAKARAN hebat yang menimpa sebagian kompleks Pasar Boja, Kendal, ternyata memunculkan berkah tersendiri bagi beberapa orang. Salah-satu di antaranya dirasakan Ny Hidayah (48) warga RT 1 RW 4 Desa Gentan Kidul Kecamatan Boja. Ibu lima anak itu bukan berarti merasa bersyukur atas musibah yang menimbulkan kerugian materi mencapai miliaran rupiah bagi ratusan pedagang. Namun, dia hanya sebatas pandai melihat dan memanfaatkan peluang bisnis, setelah terjadi musibah kebakaran. Bersama suaminya, Diyono (48), wanita yang berprofesi sebagai pengepul barang rongsok tersebut, Jumat (1/6) siang ''panen rezeki'' dan terlihat sibuk menimbang puing-puing besi sisa-sisa kebakaran. Dengan membawa alat timbang duduk, dan dibantu empat tenaga kerja, hanya dalam waktu beberapa jam saja, dia sudah mendapatkan ratusan kilogram besi bekas. ''Ada beberapa jenis besi rongsok sisa-sisa kebakaran, yang saya beli dari pedagang. Antara lain, besi pipa bekas pemutar kerai kios dan seng,'' tutur Hidayah saat ditemui di lokasi kebakaran, kemarin. Puing-puing besi yang dibelinya terlihat menumpuk di sekitar dia menimbang. Beberapa kali truk pengangkut datang dan pergi untuk mengambil dan membawa pergi besi bekas tersebut ke seorang pengepul besar di Kota Semarang. ''Sampai siang ini, ada sekitar 500 kg besi bekas yang sudah saya beli dari pemiliknya,'' ungkap wanita ramah itu. Aluminium Selama sekitar 10 tahun menekuni profesi sebagai pengepul besi dan barang rongsok, imbuh dia, Hidayah baru sekali itu mendapatkan peluang tersebut. ''Walau bagaimana pun, saya ikut merasa sedih terhadap musibah yang menimpa ratusan pedagang ini. Saya berharap, uang penjualan barang rongsok ini, dapat membantu meringankan mereka.'' Sembari menyerahkan uang pembayaran kepada penjual besi, Hidayah menjelaskan untuk besi jenis pipa dia beli Rp 1.800/kg, seng Rp 600/kg, serta aluminium Rp 12.000/kg. ''Namun, tidak ada satu pun pedagang yang menjual alumunium. Barang-barang rongsok ini saya jual ke pengepul besar di Semarang. Setiap kilo, saya mendapat keuntungan berkisar Rp 200.'' Dia menambahkan, dirinya tidak berani membeli besi-besi rangka bangunan kios. Sebab, besi-besi dan bangunan tersebut merupakan milik pemerintah. ''Kalau pun ada yang menjual, saya tidak mau membelinya.'' Bukan tanpa dasar, jika tak ada satu pun pedagang yang menjual aluminium. Lantaran memiliki nilai jual tinggi, sebagian besar aluminium telah dijarah orang- orang tak bertanggung-jawab. ''Kemarin pagi, saya mengumpulkan beberapa lembar aluminium bekas pintu roling di depan kios. Tadi pagi, ketika saya cari dan berniat menjual, ternyata sudah tidak ada di tempatnya,'' kata Ny Haslinda pemilik kios kain di Blok A Pasar Boja. Musibah kebakaran yang terjadi di Pasar Boja, telah meludeskan dua kios miliknya beserta seluruh barang dagangan berupa bahan kain dan kain bordir. Akibat peristiwa itu, ia menderita kerugian mencapai Rp 100 juta. (Setyo Sri Mardiko- 16) |