| Sabtu, 02 Juni 2007 | SEMARANG |
''Umat Harus Setabah Sang Budha''SEMARANG- Puluhan orang, baik tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan berjalan beriring-iringan di tengah teriknya sinar matahari. Di depannya 11 Pabaja Samanera (calon biksu) sambil membaca parita-parita (ayat suci), menuntun mereka berjalan antara Pohon Bodi menuju Ruangan Dharmasala Vihara Buddhagaya, Watugong, Jumat (1/6). Tepat pukul 12.00, mereka mulai berjalan, tertunduk, khidmat dalam doa. Sebelumnya pada pukul 10.00 dilakukan prosesi berupa Pindapata. Prosesi ini merupakan pemberian sedekah bagi biksu-biksu dari umat Budha. Puncak peringatan Tri Suci Waisak di Vihara Budhagaya semakin khusyuk di sela-sela suasana kerohanian memperingati kelahiran sekaligus pencapaian sempurnanya Sang Budha Gautama pada bulan Purnama 2551 tahun lalu. Mereka yang hadir tidak saja berasal dari Kota Semarang. Ada pula dari Desa Tekelan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Belum ditambah warga Ungaran, Kota Salatiga, Bandungan, Sumowono. Untuk Lokal Ketua Yayasan Vihara Budhagaya, Halim Wijaya menuturkan, peringatan Tri Suci Waisak yang dipusatkan di Vihara Buddhagaya adalah khusus bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya. ''Kalau peringatan nasional di Candi Borobudur. Yang di sini sifatnya peringatan lokal,'' katanya. Setelah ritual yang menggambarkan perjalanan Sang Budha, umat selanjutnya berdoa di ruangan Dharmasala. Doa dipimpin Romo Sugiyanto dan Bante Gutadammo. Dalam pesan peringatan Tri Suci Waisak, Bante Persada Nayaka Cattamano selaku Padesanayaka Jateng meminta umat Budha harus setabah dan selalu peduli seperti Sang Budha. Karena itulah dalam peringatan kali ini dalam perjalanan dari Pohon Bodi menuju Dharmasala umat diminta merenung. ''Perjalanan Budha dari Pohon Bodi itu, setelah bertapa penuh dengan penderitaan. Namun dia tetap tabah dan peduli pada sesama. Karena itulah dalam renungan kali ini kita harus bisa seperti itu,'' katanya. Kondisi secara nasional mulai dari bencana alam, diakuinya adalah cobaan hidup yang harus dijalani. Meski dengan ada cobaan, umat diminta tidak lupa untuk selalu peduli pada sesama. (H37-18) |