| Sabtu, 02 Juni 2007 | INTERNASIONAL |
Thailand Selatan Memburuk
YALA - Sementara Bangkok masih tegang setelah partai Thai Rak Thai dibubarkan, situasi sama juga terjadi di Thailand selatan Jumat kemarin. Serangan gerilyawan menewaskan 12 prajurit Thailand. Serangan tersebut termasuk yang paling mematikan sejak 2004. Pada Kamis lalu, 11 prajurit tewas saat truk yang mereka tumpangi dibom dan disergap gerilyawan separatis di Yala, salah satu provinsi paling bergolak di Thailand selatan. Korban keduabelas tewas Jumat kemarin. Serangan tersebut terjadi hanya selang sehari setelah ketegangan politik menerpa Bangkok akibat pembubaran partai pimpinan mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra. ''Militan meningkatkan serangan untuk makin menekan pemerintah,'' kata juru bicara militer Acra Tiproch. ''Ini adalah serangan terbesar sejak tiga tahun terakhir.'' Dia mengatakan, gerilyawan sengaja memprovokasi reaksi dari pasukan keamanan supaya terpancing membantai warga di selatan. Kendati sudah ditempuh langkah-langkah untuk mewujudkan perdamaian, Pemerintah Thailand gagal meredam gerakan gerilyawan yang telah menewaskan sekitar 2.200 jiwa sejak Januari 2004. Situasi bahkan makin memburuk. Perdana Menteri Surayud Chulanont berjanji tidak akan membalas. ''Kami harus sabar. Kami harus tetap berpegang pada aturan hukum. Kami tidak akan menambah masalah,'' kata dia, seusai bertemu Panglima Jenderal Sonthi Boonyaratglin kemarin. Sekitar 2.000 mahasiswa dan penduduk di Provinsi Pattani menggelar protes seusai shalat Jumat. Mereka menuntut status keadaan darurat dicabut dan tentara segera ditarik mundur. Aparat mengatakan, demonstrasi itu diorganisir militan. Karena ketegangan terus meningkat, tentara dilarang bepergian di wilayah di Yala, Narathiwat dan Pattani. Hampir setiap hari jatuh korban tewas baik di pihak sipil maupun militer akibat penembakan dan pengeboman. Selain itu, sering terjadi aksi pembakaran gedung sekolah atau gedung pemerintah. ''Situasi di selatan makin lama makin memburuk. Militan meningkatkan serangan untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak sanggup membantu warga di selatan,'' kata Srawut Aree, peneliti senior pada Pusat Studi Islam Universitas Chulalongkorn. Pakar lain menuturkan, serangan tersebut menunjukkan bahwa militan makin canggih dan percaya diri menghadapi tentara pemerintah. ''Serangan tersebut membuktikan bahwa militan makin lihai menyerang pasukan pemerintah,'' kata Panitan Wattanayagorn, pakar keamanan pada universitas itu. Terima Vonis Sementara itu, situasi di Bangkok terlihat lebih tenang Jumat kemarin karena bertepatan dengan Hari Raya Waisak. Pada Kamis lalu, sekitar 2.000 pendukung Thaksin menggelar pawai damai di dekat Gedung Pemerintah. Mereka meneriakkan slogan menentang para pemimpin kudeta yang menggulingkan Thaksin. ''Meskipun Thai Rak Thai telah dilarang, kami tetap setia pada Thaksin,'' kata Jatuporn Prompan, mantan juru bicara partai. ''Mahkamah Konstitusi memvonis Thai Rak Thai bertindak kriminal. Namun, siapa yang akan mengadili junta karena telah menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis?'' kata Jatuporn. Thaksin yang berada di pengasingan di London mengimbau para pendukungnya untuk menerima keputusan Mahkamah Konstitusi. Dia juga mendesak para jenderal untuk mempercepat pelaksanaan pemilu Desember. Menurut analois, rencana pemilu itu bisa terganjal kerusuhan. ''Saya mengimbau semua orang untuk tetap tenang dan tidak bertindak gegabah,'' kata Thaksin. Kendati tidak terjadi kerusuhan setelah vonis tersebut, polisi meningkatkan pengamanan dan menambah pos-pos polisi di seluruh penjuru ibu kota. ''Belum terjadi sesuatu, tetapi kami khawatir ada pihak ketiga yang memprovokasi,'' kata Kepala Kepolisian Bangkok Letjen Adisorn Nonsee.(rtr-gn-25) |