| Sabtu, 02 Juni 2007 | EKONOMI |
Laju BI Rate Belum DipastikanJAKARTA-Bank Indonesia belum bisa memastikan tingkat suku bunga (BI rate) bulan depan. Kendati risiko usaha sudah cukup baik, tapi tingginya dana jangka pendek saat ini masih berpotensi risiko bagi penurunan suku bunga bulanan. Demikian diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono di Jakarta kemarin. Dia menyebutkan, dalam menetapkan reference rate, bank sentral selalu mempertimbangkan beberapa faktor. Selain inflasi, faktor lain yang dipertimbangkan yakni tingkat risiko usaha, differential rate atau margin bunga luar negeri terutama the Feds Fund, dan kondisi likuiditas dalam negeri. "Risiko usaha sudah saya pikir cukup baik, tapi bisa saja ada risiko yang besar, karena likuiditas short term yang masih sangat besar," paparnya. Menurut dia, salah satu indikator membaiknya risiko usaha dalam negeri saat ini adalah government bond yang cukup baik. Rating yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga rating internasional juga menunjukkan perbaikan. " Karena itu kami harus memperhatikan apakah resiko usaha di Indonesia benar sudah turun atau tidak, sehingga marginnya (BI rate) bisa diturunkan," ujarnya. Inflasi Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom memperkirakan inflasi Mei ini lebih rendah dari bulan sebelumnya. "Ada kenaikan harga minyak goreng, tapi secara keseluruhan barang yang kami pantau tidak mengalami kenaikan harga," tuturnya. Menurut Miranda, kenaikan harga minyak goreng sudah terjadi sejak April lalu. Harga kebutuhan lain naik Januari-Maret lalu. Sedangkan bulan ini harga kebutuhan tidak mengalami kenaikan. Bahkan harga beras malah turun. Dia juga memperkirakan inflasi year on year bulan ini ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April lalu, inflasi 6,47 persen. "Tapi tunggu hasil BPS," katanya. Miranda tidak mau menjawab ketika ditanya apakah Bank Indonesia akan kembali menurunkan suku bunga dengan penurunan inflasi ini.(bn-33) |