logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 30 April 2007 BUDAYA
Line

Ikon Semarang pada Selembar Kain

BERBICARA soal batik, umumnya orang langsung merujuk pada motif-motif dari Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, atau Lasem. Padahal beberapa tahun terakhir ini muncul wacana revitalisasi batik di tiap daerah karena ada keyakinan bahwa setiap daerah, khususnya di Jawa Tengah, memiliki motif batik yang khas.

Umi S Susilo dari Batik 16 Semarang menangkap wacana tersebut dengan menciptakan beberapa motif batik khas Semarangan. Pertengahan April lalu, 11 motifnya telah dipatenkan di Dirjen Haki (Hak Kekayaan Intelektual). Motif-motif itu antara lain "Asemarang", "Gambang Semarangan", "Blekok Srondol", "Lawang Sewu Ngawang", dan "Tugu Muda Kekiteran Sulur".

"Saya menciptakan beberapa motif yang khas Semarang. Sayang sekali, lebih dari 40 motif saya ditiru orang di Yogya," ujar Umi.

Melihat nama motifnya, ciri lokalitas Semarang memang bisa langsung dikenali. Secara visual, orang juga bisa langsung mengenali benda yang jadi rujukan nama motif.

Lihat, misalnya, motif "Gambang Semarangan" yang memperlihatkan seperangkat instrumen Gambang Semarang. Motif "Tugu Muda Kakiteran Sulur" memperlihatkan tugu yang jadi ikon Semarang itu dikitari sulur atau tanaman menjalar. Polanya terinspirasi oleh pembangunan Tugu Muda sebagai monumen Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Ada juga "Asemarang" yang memperlihatkan buah asam dengan ornamen beberapa jenis tanaman menjalar. Polanya terinspirasi oleh legenda nama Semarang yang konon berasal dari kata ''asem'' dan ''arang''. Menariknya, motif ini memiliki tiga varian.

Dengan kreasi seperti itu, pada awalnya tidak mudah bagi Umi menyosialisasikan motif-motif yang dia yakini khas Semarang itu. Di kalangan pecinta batik sempat pula muncul perdebatan seputar apa sesungguhnya motif khas Kota ATLAS itu. Namun, Umi mempunyai referensi yang menyebutkan, sebenarnya sejak zaman Belanda, Semarang telah mempunyai beberapa motif batik.

Salah satu motif yang telah ada memperlihatkan ciri akulturatif, khususnya dengan etnis Tionghoa. Misalnya motif batik yang menonjolkan burung hong.

Umi memahami burung hong sebagai merak. Makanya dari 11 motif yang dipatenkan, ada pula yang hampir mirip dengan motif berciri akulturatif itu. Yakni, "Merak Mlerok Latar Asem", "Merak Mangu", dan "Merak Njeprak".

Umi juga tengah bersiap-siap me-matenkan 11 motif lainnya. "Dinas Perdagangan Pemprov Jateng membantu saya membuatkan canting cap dan pematenannya," harap Umi. (Roni-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA