| Kamis, 12 April 2007 | NASIONAL |
KISAH Menelusuri Rekrutmen Daarul Islam (3-Habis)Gerakannya Lebih Berbahaya dari Orangnya
KETOKOHAN seseorang dalam Daarul Islam (DI)/Jamaah Islamiyah (JI) memang diperlukan, namun bukan satu-satunya hal yang penting. Bagi Sidney Jones, gerakan-gerakan perorangan atau kelompok dalam organisasi tersebut lebih berbahaya. Bahkan dia menyebut tidaklah penting menokohkan si A lebih berbahaya daripada si B. Begitu pula terhadap salah seorang yang paling dicari Polisi saat ini, Abu Dujana. ''Saya tidak melihat Abu Dujana lebih berbahaya dibandingkan dengan lainnya tapi memang dia adalah orang yang harus ditangkap. Sulit melihat apakah si A lebih berbahaya daripada si B. Lebih berbahaya bukan orangnya tapi gerakannya,'' ungkap dia. Bukan saja gerakan dalam arti melakukan tindakan kriminal tetapi juga perekrutan anggota-anggota baru. Selain cara perekrutan langsung, aksi di berbagai lokasi juga sebagai salah satu upaya menarik simpatik, dukungan mereka yang bercita-cita sama. Semakin sering melakukan gerakan terhadap simbol-simbol - menurut mereka kafir - diyakini akan makin mendongkrak simpati sebagian masyarakat. Karena itu mereka mencoba mengalihkan sasaran bukan hanya rakyat sipil dan orang asing namun juga tokoh-tokoh Indonesia seperti tertera dalam dokumen temuan polisi, Kajati Jateng Ismail dan mantan Rektor UKSW Salatiga John Titaley merupakan orang yang diincar. ''Tujuan menjadikan John Titaley dan UKSW sebagai sasaran adalah sesuatu yang simbolis. Salatiga tidak akan dijadikan Poso 2, artinya memicu konflik Islam dan non-Islam. UKSW lembaga pendidikan besar, cukup punya nama, dan bagi mereka (teroris-Red) inilah simbol perlawanan terhadap kafir,'' papar Sidney. Berbeda dengan Kajati Jateng, Ismail. Dia dijadikan sasaran tembak karena menuntut kelompok teroris dengan hukuman berat. Ada dendam pada orang-orang yang telah dianggap menghalangi cita-cita mendirikan NII. Bukan tidak mungkin sasarannya juga orang, tokoh Islam karena Sidney melihat kelompok tersebut frustrasi dengan ulama-ulama dan tokoh muslim yang hanya berpangku tangan tidak melakukan gerakan apa pun atau tidak mendukung upaya mendirikan NII. Jaringan Senjata Pengamat militer MT Arifin menyatakan hal yang sama. Malah dia menegaskan gerakan kelompok Abu Dujana bukanlah teroris tapi lebih tepat disebut sebagai gerilyawan. Pandangan dia, teroris tak akan berkutat di lokasi tertentu saja dan melakukan aksi dengan rentang waktu cukup lama antara aksi satu dan lainnya. ''Teroris itu ada buku pintarnya, juga tak mungkin menyimpan senjata amunisi dalam bunker demikian banyak. Namun, apakah ini ciri tersendiri teroris Indonesia?'' tanya dia. MT, panggilan akrabnya, lebih menyoroti pada polisi agar menindaklanjuti temuan senjata dan amunisi di rumah yang diduga sebagai jaringan teroris. Dia mengatakan, berdasarkan keterangan orang-orang yang ditangkap, polisi bisa mengikuti alur perdagangan senjata dan amunisi. ''Bagaimana hubungan pelaku dengan pasar gelap senjata dan bahan-bahan peledak, itu semua bisa dirunut kalau polisi mau mengungkap tuntas,'' tandasnya. Dia menilai temuan tersebut sangat hebat, tak hanya di tingkat Indonesia, namun dalam tingkatan dunia itu luar biasa. Karena itu orang-orang yang ditangkap dengan senjata dan amunisi demikian banyak tentu mengundang pertanyaan. Apalagi ditemukan di desa, ditanam di bawah tanah. Menurutnya, teroris tidak mengenal model-model seperti membuat bunker untuk menyimpan senjata dan amunisi. Apalagi dilakukan orang-orang yang mengaku petani. Teroris biasanya berpindah-pindah tempat tak hanya berputar-putar di daerah tersebut. ''Sekali gerak, mereka akan menghindari daerah itu, bukannya muter-muter di situ saja. Teroris apa, bukan itu yang jadi tanda tanya,'' tandasnya. Bisa saja, jelas MT, kelompok tersebut sekadar gerakan perlawanan terhadap Barat. Dengan pengungkapan secara transparan bakal diperoleh kejelasan, bukan hanya klaim agar tidak muncul tuduhan semua itu adalah gerakan terorisme yang dibingkai untuk kepentingan tertentu. Temuan dan kesimpulan, imbuhnya, harus disikapi secara kritis. Dia sekali lagi mendesak pemerintah melacak mengenai jalur distribusi senjata dan amunisi, di mana letak kelemahan aparat. Kelemahan bisa terjadi di bea cukai, imigrasi, perizinan dan instansi lain kaitannya dengan pengumpulan bahan-bahan peledak. ''Tak mungkin bahan-bahan itu hanya dari satu tempat, oleh karenanya harus dilacak secara runtut alur-alurnya,'' tegas dia.(Agung PW-64) | ||||