logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Maret 2007 BUDAYA
Line

Andrea Tak Melawan Pasar

HUJAN deras, Andrea Hirata kecil duduk di kelas. Lewat jendela terbuka, dia memandangi air berjatuhan dari atap teras. Saat dia menerawang, seorang perempuan berjilbab tiba-tiba melintas. Lamunan Andrea terlibas.

Muslimah Hapsari, perempuaan itu, berjalan perlahan. Dengan selembar daun pisang, guru kinasih yang akrab disapa Bu Mus itu melindungi tubuh dan pakaian dari air hujan. Empati Andrea seketika muncul hingga menerbitkan nazar, "Suatu saat nanti aku harus menulis buku untuknya."

Bertahun-tahun kemudian, nazar itu terwujud. Andrea menulis novel Laskar Pelangi yang diterbitkan Bentang. Tak terduga, novel tentang pengalaman dia pada masa kecil itu meledak di pasaran. Setahun dicetak lima kali. Buku kedua, Sang Pemimpi, juga beroleh sambutan menggembirakan.

Apa sejatinya yang membuat karya lelaki kelahiran Belitong itu laris? Padahal, sebagai penulis nama Andrea sebelumnya tak dikenal. Dia yang berlatar pendidikan ekonomi manajemen tak berkarib dengan sastra. Tak pernah sekalipun menulis cerpen, novel, atawa prosa. Teks-teks Andrea bahkan disebut-sebut menyimpang dari tren pasar. Yap, di tengah kemerebakan karya teenlit, chiklit, metropop, dan sastra lendir (istilah untuk karya sastra bertema seks), Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi bagai menyeruak ke permukaan.

Dorongan Hati

Dalam "Bincang dan Temu Penulis Bersama Andrea Hirata" di joglo Fakultas Sastra Undip, kemarin, penulis berambut ikal itu menuturkan proses kreatifnya terjadi begitu saja. Semula dia tak mengonstruksi Laskar Pelangi untuk konsumsi khalayak. Dia menulis semata-mata karena dorongan hati, ingin menggali kenangan semasa kecil di sebuah pulau terpencil - yang meski kaya timah, tak beroleh perhatian, termasuk dalam pendidikan.

Lantaran itulah, saat menulis Andrea seperti tak punya beban. Dia lancar bertutur, tanpa memusingkan kaidah kesusastraan. Maka, bukan keajaiban, jika karya 529 halaman itu cuma dia selesaikan selama tiga minggu. Itu pun dia kerjakan tiga jam sehari, di luar kesibukan.

"Dalam Laskar Pelangi, saya merasa mendapat kenikmatan menulis. Sangat berbeda dari Sang Pemimpi; saya merasa tidak happy. Apalagi saat menulis Edensor, saya kehilangan diri sendiri."

Acara yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk dan toko buku Toga Mas itu dimoderatori Agus M Irkham dan menghadirkan pemerhati sastra Aulia Muhammad Asyahidin. Aulia menyatakan teks Andrea tak pernah sungguh-sungguh melawan pasar.

Dua novel itu, kata dia, sukses karena meretas kejumudan pasar terhadap karya yang bersikutat dengan tema seks, remaja, dan sebangsanya. Dia menganalogikan kesuksesan Laskar Pelangi dengan Veri AFI atau Ikhsan Indonesian Idol.

Jika Veri dan Ikhsan mampu menarik simpati jutaan pemirsa televisi karena berasal dari keluarga papa, demikian pula Andrea. Dia menawarkan ironi dunia pendidikan dan fakta kehidupan orang-orang marjinal di sebuah pulau kecil. (Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA