| Jumat, 15 Desember 2006 | WACANA |
Surat PembacaTestpen Menyala di Dinding RumahOntran-ontran sekitar sutet (saluran utama tegangan ekstra tinggi) kian berkembang, bahkan ada yang demo dengan menyalakan testpen di dinding/genting rumah atau badan. Menyikapi hal ini, semua pihak perlu hati-hati, karena saya khawatir ada yang ingin menunggangi untuk berbuat kacau. Saya sudah ingin menulis ketika masyarakat Langensari - Babadan Ungaran juga melakukan hal sama dan kini terulang di daerah Mranggen, Demak. Saya tidak yakin kalau testpen bisa menyala hanya karena radiasi tanpa dialiri strom. Jangan-jangan ini hanya ulah orang tidak bertanggung jawab untuk membuat resah masyarakat. Saya khawatir itu trik atau sulap yang dampaknya bisa membuat orang panik dan resah. Jika tidak segera diatasi akan dapat menimbulkan bentrokan fisik yang berakibat jatuhnya korban. Apalagi waktu di Ungaran, mereka tidak mengajak petugas PLN dengan dalih khawatir jaringan listriknya dimatikan lebih dulu. Semestinya mereka melakukan tes di depan masyarakat dan PLN sehingga benar-benar dapat diterima sebagai alasan yang kuat. Untuk membuktikan kebenaran, sekarang masyarakat bawa testpen dan melakukan tes sendiri apakah terbukti menyala atau tidak. Jika tidak, maka dapat dipastikan orang yang melakukan tes tempo hari hanya bohong belaka. Dia pasti punya maksud tertentu di balik demo yang dilakukan. Saya ingin menunjukkan bahwa ada alat tertentu yang dapat membuat testpen menyala jika ditempel di tanah, dinding atau tubuh orang. Bahkan bukan hanya itu, neon pun dapat menyala dipegang tanpa kabel. Biasanya alat tersebut dimasukkan di sol sandal atau sepatu atau ikat pinggang. Karena itu saya imbau jangan terlalu percaya pada orang yang suka membuat kejutan. Jika ingin memiliki alat tersebut saya bersedia menunjukkan pembuatnya . Biasanya alat tersebut untuk pertunjukan sulap. Harganya cuma sekitar Rp 300 ribu s.d Rp 500 ribu. Tidak mahal, tetapi di tangan orang tidak bertanggung jawab, alat ini bisa membuat gempar bahkan mungkin menjadikan pertumpahan darah. Mari budayakan mental jujur pada diri sendiri. Daryoso Jl Tusam 1396, Semarang *** Layanan BCA Siliwangi Beberapa waktu lalu saya mengalami kejadian buruk saat menyetor uang di BCA Siliwangi Semarang. Waktu antre sampai di ujung dan baru akan maju, tiba tiba orang di belakang saya menyerobot maju. Saya ikut maju, menjelaskan ke teller serta minta dilayani lebih dulu tapi teller menolak. Justru dia secara tidak simpatik menyuruh saya kembali ke antrean. Mestinya teller bisa menanyakan ke nasabah lain yang masih antre tetapi mengapa tidak dia lakukan sehingga merugikan saya. Kemudian kembali saya mengalami pelayanan buruk dengan teller yang sama. Saya siatu saat setor uang di bank tersebut, tapi kebetulan belum menulis slipbta. Teller minta lain ka slipi harus ditulis dulu. Saya katakan, sebelum Anda selesai menghitung uang, saya sudah selesai menulis slip setoran. Tapi dia bilang, pokoknya kalau lain kali belum menulis slip dari rumah maka akan menolak setoran. Hebat sekali, Saya coba cari tulisan peringatan yang berbunyi: "Nasabah yang setor, slip harus sudah ditulis dari rumah, kalau tidak setoran akan ditolak''. Saya berpikir memang BCA, bank terbesar di Indonesia yang tidak perlu mencari bahkan tidak butuh uang nasabah sehingga hanya karena belum nulis slip yang hanya makan waktu sekian detik maka uang setoran akan ditolak. Bravo BCA, bravo teller yang merasa gajinya bukan dari nasabah sehingga memperIakukan dan tidak menghargai konsumennya. Samuel Christianto S Jl Jagalan Timur 230, Semarang *** Waspadai Penipuan Belum lama ini sekitar pukul 19.00 ketika saya berbelanja di swalayan ADA Siliwangi Semarang, datang seorang pemuda berusia 20 tahunan mengaku dari luar Jawa. Dia bertanya di mana tempat yang menyediakan area untuk pameran keramik selain di swalayan tersebut. Karena saya juga kurang paham, dia meminta saya untuk menanyakan pada orang lain karena katanya tidak bisa berbahasa Jawa. Dia menunjuk seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahunan yang kebetulan ada di dekat saya. Saya mulai curiga. Dia bercerita bahwa laki-laki itu punya mustika merah delima. Kecurigaan saya bertambah dari cara mereka berdialog yang sebenarnya sudah saling kenal dan sedang berusaha menipu saya. Kemudian mereka mengajak saya melihat mustika tersebut tapi saya tolak. Jujur saja saya tidak tertarik hal semacam itu. Untung saya juga sering mengikuti berita di media tentang kasus penipuan sehingga lebih waspada. Saya imbau masyarakat lebih berhati-hati terhadap orang yang belum dikenal. Jangan mudah tergiur iming-iming apa pun. Bila mengalami kejadian seperti saya, katakan Anda tidak tahu dan segera tinggalkan orang itu. Waspadalah Belinda C Hapsari Perum Kradenan Baru 27, Semarang Program KB Presiden menyatakan, tingkat pertumbuhan penduduk sudah 1,3%/tahun. Angka ini lebih besar dari sebelum reformasi dan jadi "lampu kuning". Untuk menekan pertumbuhan, hanya dengan cara penggalakan program KB. Ini merupakan keprihatinan melihat realita, jumlah penduduk besar tapi berkualitas rendah hingga jadi beban dan menghambat kemajuan bangsa. Jika menilik sejarah suksesnya program KB awal tahun 1970, tak bisa lepas dari kebijakan politik pemerintah untuk rakyat yang membawa dampak positif dan negatif. Sejak itu, gerakan program KB sangat menonjol, mendapat dukungan masyarakat hingga pertumbuhan penduduk dapat ditekan. Hasilnya secara nasional, menurunnya angka kelahiran total (total fertility rate) dari 5,6 anak per wanita usia subur pada tahun 1970 menjadi 2,6 anak tahun 2002-2003. Kini masih ada beberapa pihak menilai, program KB merupakan produk Orde Baru yang dipandang sebelah mata oleh sebagian pengambil kebijakan. Akibatnya pertambahan penduduk sudah mengkhawatirkan dan berkorelasi dengan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, penyediaan lapangan kerja. Ingat, pro dan kontra program posyandu yang juga produk Orba, ternyata bermanfaat dan perlu dilanjutkan sebagai kontrol capaian gizi balita, kesehatan ibu anak, KB dan kesehatan masyarakat. Mengapa gaung program KB kini makin sayup-sayup? Di antaranya akibat diberlakukan otonomi daerah dan beberapa lembaga yang menangani KB ''mati suri''. Hidup-matinya institusi ini memang tergantung kebijakan pimpinan daerah dan DPRD setempat. Komunikasi, informasi maupun edukasi yang terjalin puluhan tahun bersama masyarakat mengalami distorsi interpretasi program. Pada sisi lain, menguatnya pemahaman hak asasi manusia yang dijamin undang-undang di mana tiap orang berhak menentukan jumlah anak. Untuk mengembalikan vitalitas program KB, harus ada revitalisasi yaitu lebih proaktif dan bersifat partisipatif membuka akses pelayanan kepada masyarakat dengan cara memberi pilihan. Di samping itu lebih berorientasi pelayanan kepada keluarga miskin, tak hanya kaum perempuan saja tapi laki-laki pun jadi prioritas. Namun semua itu perlu dukungan anggaran yang mencukupi serta komitmen pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjadikan KB sebagai skala prioritas. Perlu penyadaran semua pihak, program KB merupakan modal investasi jangka panjang pembangunan yang hasilnya tidak seketika bisa dinikmati. Noor EL Mohammadi Kutabanjarnegara Rt 5/Rw 2, Banjarnegara *** Karcis Manunggal Jati Berkaitan dengan tulisan beberapa waktu lalu berjudul "Karcis Manunggal Jati Tak Disobek", kepala Gelanggang Manunggal Jati mengklarifikasi sbb: Terima kasih kepada penulis sebagai bentuk kepedulian dan masukan bagi pengelola kolam renang Manunggal Jati untuk peningkatan pelayanan. Saya berharap penulis atau siapa pun yang melihat petugas tidak menyobek karcis yang kemudian dijual lagi, ada bukti otentiknya, saya silakan langsung melapor. Siapa pun petugas yang melakukan hal tersebut akan ditindak tegas tanpa terkecuali. Penulis saya harap secara sportif menghubungi saya untuk menjelaskan temuannya, agar tidak menimbulkan keresahan dan mengacaukan suasana kerja di lingkungan petugas yang selama ini kondusif. Perlu saya jelaskan, selama ini target pendapatan yang dibebankan Pemkot Semarang telah dapat dipenuhi dengan baik. Drs Murniyati Kepala Manunggal Jati, Semarang
|