| Jumat, 15 Desember 2006 | NASIONAL |
Menengok SD Negeri Pembaca Suara Merdeka (1)Guru dan Murid Betah, Pelajaran DitambahGEMPA 27 Mei meluluhlantakan 383 gedung sekolah SD-SMA di Kabupaten Klaten. Bancana kemanusiaan itu mengetuk hati para pembaca setia Suara Merdeka untuk ikut membangun gedung yang hancur. Dua gedung sekolah, SD Negeri Pembaca Suara Merdeka Pandansimping II, Kecamatan Prambanan dan SD Negeri Pembaca Suara Merdeka Bawak I, Kecamatan Cawas kini selesai dibangun. Selasa (19/12) dua SD itu akan diresmikan Gubernur Jateng H Mardiyanto dan Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir H Budi Santoso. Jumat 7 Juli , saat Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka H SasongkoTedjo SE MM bersama Bupati Klaten, Sunarna SE meletakan batu pertama pembangunan gedung SDN Pandansimping II kondisinya masih memprihatinkan. Gedung SD yang dibangun tahun 1978 itu luluh-lantak. Puing dan kayu-kayu berserakan. Siswa terpaksa belajar di tenda halaman sekolah. Setelah dua bulan berlalu, pada 11 September SD itu resmi ditempati dengan kondisi yang jauh berbeda. Puing bangunan bersih, tenda yang panas untuk belajar tak berdiri lagi. Kamis pagi (14/12) puluhan siswa terlihat riang bermain di gedung sekolah berlantai keramik kuning gading yang menelan dana Rp 495 juta itu. Mereka duduk dan berguling di lantai tanpa takut baju kotor. Lebih Bagus Sebagian riang bermain di taman kecil. Kondisi enam ruang kelas dan satu ruang guru berukuran 6x7 meter tampak cerah dan luas. ''Yang dibangun saat ini justru lebih bagus dibanding SD lama sebelum gempa, guru dan murid jadi betah,'' kata wakil kepala sekolah SD Negeri Pembaca Suara Merdeka Pandansimping II, Suharni kemarin. Sebelum gempa, gedung yang berdiri di atas tanah seluas 600 m2 itu kekurangan ruangan kelas. Terpaksa untuk kelas VI meminjam gedung SD Pandansimping I di sebelahnya. Untuk buang air juga menumpang di SD tetangga itu. Sebab tidak ada WC dan kamar mandi. Sekarang semuanya lengkap. Empat kamar mandi dan WC dibangun. Meja dan kursi pun baru. Tak hanya itu, perpustakaan dan laboratorium yang dilengkapi komputer sudah dimiliki. Dari segi bangunan lanjut dia, yang dibangun pembaca Suara Merdeka juga lebih bagus. Sebelum gempa, siswa tidak ada yang bermain di halaman karena atap teras sempit sehingga panas dan tak mampu menahan air saat hujan. Akibatnya mereka bermain di jalan. (Achmad Hussain-64) |