| Jumat, 15 Desember 2006 | NASIONAL |
SBY: Jangan Persulit UKM
YOGYAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta perbankan tidak mempersulit pelaku usaha kecil dan menengah yang ingin meminta bantuan modal. Pasalnya, selama ini belum pernah ada cerita UKM macet kredit. ''Belum pernah ada cerita UKM macet dan sejak krisis ekonomi lalu mereka sudah memperlihatkan mampu bertahan,'' tandas SBY ketika berdialog dengan para perajin gerabah di Kasongan, Bantul, Yogyakarta, kemarin. Dia juga meminta perbankan memberikan syarat yang bisa dipenuhi oleh para perajin. Namun sebaliknya dia menyatakan pula kualitas hasil kerajinan ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara lain. Presiden menjawab keluhan salah seorang perajin yang mengatakan sejak gempa lalu sebagian besar usaha gerabah di Kasongan rusak berat. Bangkit Memang, perlahan mereka bisa bangkit kembali. Hanya saja untuk dapat kembali seperti semula memerlukan modal dari luar misalnya kredit lunak. ''Bencana gempa dasyat bulan Mei lalu memang amat berat, namun saya melihat masyarakat dengan penuh semangat telah membuktikan dapat bangkit kembali. Saya sampaikan penghargaan untuk itu,'' papar SBY. Presiden yang menyukai kerajinan rakyat tersebut memaparkan dua strategi guna memajukan UKM di bidang kerajinan. Pertama memperkuat pasar domestik dan berikutnya memperlebar pasar ke luar negeri. Dia menyontohkan dalam berbagai pameran kerajinan di pasar domestik selalu terjadi transaksi cukup besar. Hal itu harus terus dipertahankan karena usaha kecil mampu menyerap tenaga kerja kalau pasar bergairah. Begitu pula di luar negeri, selama ini hasil karya bangsa Indonesia sangat diminati negara-negara lain seperti Eropa, Timur Tengah, Jepang. Pada sebuah pameran di China, jelasnya, terjadi transaksi 35 juta dolar AS hanya dalam tiga hari. ''Ini membuktikan produk kita tidak kalah dengan produk asing, karena itu ke depan perlu peningkatan kualitas agar kepercayaan pasar luar negeri semakin kuat,'' pinta SBY. Seorang perajin, Timbul, mengungkapkan permintaan agar prasarana umum di wilayah Kasongan diperbaiki misalnya jalan dan jembatan yang rusak akibat gempa. Menurutnya 90% karya perajin diekspor dan setiap hari masuk-keluar truk-truk besar. Sayangnya, akses jembatan dan jalan rusak sehingga mengganggu proses pengiriman. Presiden menangggapi dengan meminta aparat kabupaten dan provinsi segera melakukan koordinasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Cegat SBY Puluhan ibu mencegat Presiden dan Ny Ani Yudhoyono ketika keluar dari Timbul Gallery, Kasongan, Bantul, DIY. Beberapa di antaranya mengeluh tak punya uang. ''Sekarang apa yang kurang ibu-ibu,'' tanya Ny Ani. Serentak beberapa orang menjawab, ''Sakniki mboten gadhah arta.'' Kontan para tamu undangan dan aparat keamanan tertawa mendengar ungkapan polos mereka. Ibu-ibu tersebut sejak pagi menunggu kedatangan Presiden. Mereka sengaja meluangkan waktu karena memang ingin melihat dari dekat dan selain itu ada permintaan dari perangkat desa agar keluar rumah melakukan penyambutan. Sejak pukul 09.00, terdengar suara dari pengeras suara yang berada di depan lokasi kedatangan Presiden dan rombongan. Ada imbauan agar warga keluar rumah dan menyambut Kepala Negara di pinggir-pinggir jalan yang dilalui rombongan. ''Bapak-bapak, ibu-ibu, sebentar lagi Presiden Bambang Yudhoyono dan rombongan akan datang. Kami mohon segera keluar dari rumah dan menyambut beliau,'' ujar suara seorang laki-laki dari balik pengeras suara. Tak berapa lama kemudian puluhan ibu berdatangan mendekati lokasi Presiden akan melakukan pertemuan dengan para perajin dan warga setempat. Petugas keamanan meminta mereka berada di pinggir jalan masuk mobil kepresidenan. Ketika rombongan memasuki lokasi, ibu-ibu dan anak-anak melambaikan tangan dan SBY menanggapi dengan membuka jendela dan melambaikan tangan pula. Usai pertemuan, Presiden melakukan peninjauan dan berbicara sebentar dengan salah seorang pekerja Timbul Galeri. Bahkan dia dan istri menyempatkan diri ikut membuat proses pembuatan gerabah. Pengangguran Dia mengakui jumlah pengangguran masih tinggi yakni 10 juta orang. Namun angka itu sudah berkurang satu juta dari sebelumnya 11 juta. ''Pengangguran masih relatif tinggi meskipun setahun terakhir ada penyusutan hampir satu juta dari semula 11 juta. Akan tetapi mengingat tiap tahun ada tambahan angkatan kerja baru sekitar satu setengah juta maka harus kita susutkan jumlahnya,'' jelas Presiden usai melakukan rapat koordinasi khusus membahas langkah-lnagkah bersama untuk mengurangi pengangguran atau menciptakan lapangan perkejaan sekaligus dikaitkan dengan pengurangan kemiskinan. Rapat diikuti sebelas menteri dan para gubernur di Jawa, berlangsung selama lima jam di Gedung Agung Istana Negara Yogyakarta, kemarin. Selanjutnya SBY memaparkan secara nasonal pemerintah sudah memiliki kebijakan dan program untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran tapi kunci keberhasilan adalah perpaduan upaya dari semua pihak. (D19-64) | ||||