logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Desember 2006 SEMARANG
Line

Penggunaan Air Kedungombo Diminta Irit

GROBOGAN - Petani di wilayah jaringan irigasi Kedungombo diminta mengirit air untuk tanaman padi. Sebab air Kedungombo yang ditampung di Bendung Sidorejo, Sedadi dan Klambu, akan cepat habis bila penggunaannya dilakukan secara sembarangan. Demikian dikatakan Jasman (37), perkumpulan petani pemakai air (P3A) Toroh, Grobogan, kemarin.

Dia mengatakan hal itu sehubungan adanya kecenderungan petani di daerah jaringan Waduk Kedungombo yang tidak memperhitungkan ketersediaan air dari waduk tersebut untuk kepentingan tanam padi musim tanam (MT) Oktober-Maret (Okmar) 2006-2007.

Dikatakan, persediaan air Kedungombo untuk kepentingan tanam padi musim tanam ini memang terbatas. Sebab airnya sudah telanjur digelontorkan dalam jumlah besar pada Oktober-November lalu.

Bahkan saat itu setiap detik digelontorkan 60 m3, sehingga dalam waktu dua bulan, elevasi waduk tersebut langsung habis dan mencapai titik kritis yaitu 67,5 meter.

Meleset

Mungkin kata pengurus PSDA itu, Balai Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Kudus yang berwenang mendisribusikan air Kedungombo untuk pertanian dan air bersih memperkirakan, bahwa hujan akan turun normal bulan Oktober-November.

Sehingga dinilai tak masalah bila waduk tersebut digelontorkan dalam jumlah besar untuk kepentingan tanam padi. Sebab elevasi waduk dipastikan akan terangkat lagi dari hujan tersebut.

''Ternyata perkiraan itu meleset, karena hujan tidak turun pada bulan tersebut. Padahal air Kedungombo sudah telanjur digelontorkan untuk pertanian tanaman pangan dalam debit yang maksimal,'' ujarnya.

Supaya tidak membahayakan keselamatan tanggul, maka Balai PSDA terpaksa menghentikan penggelontoran air Kedungombo itu untuk pertanian. Namun untuk kepentingan air bersih di Purwodadi dan Kota Semarang tetap dipasok sesuai kemampuan.

Hal ini dilakukan karena kebutuhan air untuk minum dirasa mendesak daripada untuk pertanian.

Mengingat untuk pertanian masih bisa dibantu dari air hujan. Meskipun turunnya belum normal.

Kepala Dinas Pengairan Grobogan Rudi Atmoko mengupayakan air untuk kepentingan pertanian tercukupi. Meskipun diambilkan dari tandon Kedungombo di beberapa bendung di bagian hilir.

Bahkan menurutnya, air tandon itu cukup untuk memenuhi kebutuhan tanam padi sampai Januari 2007. Namun petani diminta menggunakannya dengan wajar, sehingga persediaan yang ada tidak cepat habis. (A23-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA