logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 15 Desember 2006 KEDU & DIY
Line

Kepedulian terhadap PMKS Perlu Digelorakan

TEMANGGUNG- Permasalahan sosial yang terjadi pada bangsa kita dewasa ini kian bertambah kompleks. Ini ditandai dengan semakin banyaknya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Untuk itu, kebersamaan dan persatuan untuk lebih peduli membantu para PMKS agar berdaya dan mandiri meningkatkan kesejahteraan, perlu digelorakan.

Demikian dikatakan oleh Gubernur Mardiyanto dalam sambutannya yang dibacakan oleh staf ahli Gubernur Bidang Kesra, Didik Samadikun, pada peringatan Hari Internasional Penyandang Cacat (Hipenca) dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2006 tingkat provinsi di Pendapa Pengayoman, Temanggung, kemarin.

Dalam acara yang diikuti oleh sekitar 500 peserta, antara lain dari Muspida Tingkat Provinsi dan Kabupaten Temanggung, penyandang cacat, PNS, Mahasiswa/pelajar, LSM, dan Karang Taruna itu, dia juga mengatakan, sebetulnya selama ini kualitas kesejahteraan rakyat setapak demi setapak telah ditingkatkan.

"Akan tetapi, terjadinya berbagai permasalahan di tanah air, termasuk Jawa Tengah akhir-akhir ini, seakan-akan menjadikan apa yang telah berhasil dicapai, mengalami kemunduran,"ujarnya.

Belum Rata

Permasalahan itu antara lain, belum merata serta masih rendahnya status sosial ekonomi masyarakat, meningkatnya biaya kebutuhan hidup dan terjadinya bencana alam yang sambung menyambung.

"Oleh karena itu, dengan peringatan HKSN ini, mari kita jadikan pendorong guna mengatasi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan PMKS, termasuk penyandang cacat,"ajaknya.

Dikatakan, upaya meningkatkan harkat martabat penyandang cacat melalui rehabilitasi sosial di panti-panti, mutunya harus selalu ditingkatkan. Juga, guna memperluas jangkauan pelayanan, perlu ditumbuhkembangkan pembinaan nonpanti yang berbasis masyarakat.

"Kemudian di bidang pendidikan, agar ditingkatkan pula metode pembelajaran dan kurikulum sekolah-sekolah luar biasa (SLB) ke arah berbasis kompetensi, tetapi tentunya disesuaikan dengan kekhususan SLB dan kondisi fisik serta potensi peserta didik,"paparnya.

Dia juga meminta, agar pengembangan kurikulum hendaknya yang memiliki relevansi dalam memenuhi pasar kerja, terutama di bidang industri dan jasa. (H24-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA