| Jumat, 15 Desember 2006 | KEDU & DIY |
Magelang Kewalahan Pesanan Daging KelinciBOROBUDUR - Kabupaten Magelang kewalahan memenuhi kebutuhan daging kelinci untuk Yogyakarta dan sekitarnya, meski lima hari sekali kelinci yang keluar lewat Pasar Muntilan mencapai 1.000 ekor. "Tetap saja kurang. Jadi, prospek berternak kelinci ini bagus. Sebab, trennya sekarang makan daging yang rendah kolesterol. Daging kelinci kan bisa diolah menjadi masakan yang disukai banyak orang, misalnya satai, gulai, tongseng, bahkan bakso," kata Widodo, kemarin. Ketua Kelompok Peternak Kelinci Mandiri, Dusun Candi, Desa Pakunden, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang itu melukiskan, budi daya kelinci sangat mudah dan cepat. Limbahnya, baik yang padat maupun cair bisa, sangat baik dijadikan pupuk tanaman. Penyakit gudik pada kelinci, menurutnya, mudah diatasi, tetapi penyakit mencret dan kembung relatif agak sulit. Jenis kelinci yang banyak dikembangkan petani antara lain Vlaams, New Zeland, Grant, Rx, Reza. Berat Capai 5 Kg Bobot jenis lokal setelah dewasa 2kg - 2,5kg per ekor, sedangkan kelinci impor bisa mencapai 3,5kg - 5kg per ekor. Padahal makanan dan perawatannya sama. "Harga kelinci timbang hidup Rp 11.000 - Rp 15.000 per kilogram. Karkas Rp 24.000 - Rp 25.000 kilogram. Harga daging kelinci Rp 42.500 - Rp 45.000," kata Widodo yang juga Ketua Perhimpunan Peternak Kelinci Kabupaten Magelang. Kepada rombongan pers tur yang dari Bagian Infokom Pemkab Magelang, ia mengemukakan, sejak merebak isu flu burung, jumlah peternak kelinci terus bertambah. Terakhir, 1.860 tersebar di 21 kecamatan se-Kabupaten Magelang. Mereka tergabung dalam 746 kelompok sehingga memudahkan komunikasi antara Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan (KIPPK) dan BPR Bapas 69 dalam rangka mengembangkan usaha peternakan kelinci. Kepala KIPPK Ir Wiyoto mengemukakan, kampanye besar-besaran gemar makan daging kelinci mengawali pengembangan budi daya ternak kelinci, dilanjutkan dengan pelatihan pengelolaan usaha ternak itu dan program khusus bagi petani kurang mampu. (pr-71) |