| Rabu, 29 Nopember 2006 | SALA |
Longsoran Material Makin Besar
KLATEN - Longsoran material dari puncak Gunung Merapi yang memasuki alur Kali Woro ternyata semakin besar. Senin (27/11) sore, terjadi longsoran dalam jumlah yang cukup besar dari sebelumnya. Meski belum bisa dikategorikan lahar dingin, material erupsi yang terbawa erosi diperkirakan mencapai 500 meter di selatan tanggul Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. Sekitar pukul 15.00, aliran material bercampur air dan lumpur masuk ke Kali Woro. Penduduk Balerante dan petani sempat kaget dengan kejadian itu. Sebab, di wilayah setempat tidak ada hujan. Hujan terjadi Minggu lalu pukul 14.00 - 14.30, tetapi hanya terjadi di puncak Gunung Merapi. ''Sebagian penduduk ada yang melihat longsoran di sisi atas tebing sungai Kali Woro kecil,'' ungkap Jainu, Kadus Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, kemarin. Meski sempat keluar rumah karena suara gemuruh cukup keras, masyarakat Balerante, Kemalang tidak panik. Mereka justru memperhatikan material yang masuk Kali Woro, apakah ada campuran pasir yang cukup banyak atau tidak. Besarnya banjir yang berisi air bercampur ladu (lahar) itu masuk hingga lokasi sungai di selatan dam Kali Woro sejauh 500 meter. Diduga, air dan material erupsi masuk melalui Kali Woro kecil dari sungai yang hulunya berada di sisi kanan Bukit Kendil. Kali Woro kecil ini bertemu dengan Kali Woro besar di sisi barat Pesanggrahan Objek Wisata Deles Indah, sehingga terdorong ke selatan. Jainu tidak bisa memastikan banyaknya ladu yang masuk ke Kali Woro. Hanya, lubang galian pasir para penambang semakin tertutup. Ketebalannya juga masih relatif kecil, meski lebih banyak dari sebelumnya. ''Kalau lokasinya rata, materialnya tampak tipis. Namun, di lokasi yang dalam, terlihat cukup tebal,'' lanjut dia. Sampai saat ini warga masih tenang, sebab longsoran serta banjir kecil itu biasa terjadi. SAR Klaten hingga kemarin siaga penuh menjaga segala kemungkinan. Kontak antara petugas SAR dan penduduk setempat aktif dilakukan. Kendati tidak menggelar personelnya di seputar Merapi, SAR aktif memantau perkembangan situasi Merapi. Baik dengan cara berkoordinasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta maupun mengirim personel untuk patroli. Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas), Drs Eko Medi Sukasto mengatakan, banjir yang terjadi sampai kemarin masih belum membahayakan. ''Kami sudah berkoordinasi dengan semua potensi termasuk BPPTK. Meski belum bahaya, tetap harus waspada,'' ujarnya. Banjir yang bercampur ladu itu diduga akibat endapan air hujan sebelumnya. ( H34-67d) |