| Rabu, 29 Nopember 2006 | OLAHRAGA |
Pemain Terbaik EropaPengakuan untuk CannavaroROMA- Penampilan menonjol yang ditunjukkan oleh Fabio Cannavaro sepanjang putaran final Piala Dunia 2006, yang akhirnya memberi Italia gelar juara, mendapat pengakuan ketika Senin (26/11) waktu setempat dia dinyatakan sebagai Pemain Terbaik Eropa 2006. Kapten Italia itu merupakan batu karang di jantung pertahanan timnya, yang hanya kebobolan dua gol dalam tujuh pertandingan. Dua gol itu pun sebuah gol bunuh diri dan tendangan penalti. Kekuatan Cannavaro adalah visinya, pergerakan cepat, dan tekel-tekelnya yang tepat. Meski tinggi badannya tidak luar biasa, pria Neapolitan berusia 33 tahun itu sangat hebat dalam duel udara. Keras, namun fair. Sayang dia kurang mendapat perhatian sepanjang Piala Dunia. Penghargaan Ballon d'Or (Bola Emas) diciptakan 1956 oleh majalah sepak bola Prancis, France Football, dan diberikan kepada pemain yang dianggap berpenampilan terbaik setiap tahun. Suara diambil dari para wartawan sepak bola terkemuka Eropa. Cannavaro merupakan pemain Italia kelima yang menerima Ballon d'Or setelah Omar Sivori (1961), Gianni Rivera (1969), Paolo Rossi (1982), dan Roberto Baggio (1993). Bek terakhir yang menerima penghargaan tersebut adalah Mathias Sammer dari Jerman, tahun 1996. Cannavaro memulai karier profesionalnya bersama klub kota kelahirannya, Napoli, tempat ia menjadi anak gawang. Dia melakukan debut Serie A melawan Juventus Maret 1993. Saat Napoli mengalami kelumpuhan akibat masalah keuangan pada waktu itu setelah kepergian penyerang legendaris Argentina, Diego Maradona, Cannavaro ''dipaksa'' pergi ke Parma agar klub bisa mendapat dana tunai. Bermain di sisi pemain Prancis, Lilian Thuram, dan di depan penjaga gawang Italia, Gianluigi Buffon, Cannavaro mengembangkan bakatnya. Dia ikut membantu Parma menduduki tempat kedua tahun 1997, tempat tertinggi mereka di Serie A. Musim 1998/1999, dia membantu Parma meraih Piala UEFA dan Piala Italia. Tahun 2002, pemain berpenampilan tenang itu bergabung dengan Inter Milan selama dua musim, sebelum bergabung dengan Juventus, tempat ia bereuni kembali dengan Thuram dan Buffon. Ia membantu Juve menjadi juara Serie A musim 2004/05 dan 2005/06. Tetapi klub Turin tersebut kemudian dicabut gelarnya dan diturunkan ke Serie B setelah terbukti melakukan pengaturan pertandingan. Beberapa saat setelah kemenangan Italia di Piala Dunia, Cannavaro bergabung dengan klub raksasa Sanyol, Real Madrid. Dia dianggap sebagai seorang pria teladan di Italia. Tetapi citranya yang bersih ternoda tahun lalu, ketika televisi Italia, RAI, menayangkan video di mana dia menggunakan neoton menjelang final UEFA Cup 1999. Film itu menunjukkan Cannavaro menggunakan jarum yang ditusukkan ke tangannya di kamar hotelnya di Moskwa. Bahan kimia yang digunakan kemudian dikenali sebagai neoton, obat penguat jantung yang tidak terdapat dalam daftar obat terlarang Badan Anti Doping Dunia (WADA). Parma mengalahkan klub Prancis, Marseille 3-0 di final UEFA itu. "Penghargaan ini memiliki dua nilai besar, karena diberikan kepada pemain terbaik dan sangat jarang seorang pemain bertahan bisa mendapatkannya," kata Cannavaro mengomentari gelar yang diraihnya. Rekannya di timnas Italia, Gianluigi Buffon, mengakui kehebatan Cannavaro. Buffon harus puas berada di tempat kedua dengan selisih 69 suara dari Cannavaro, yang meraih 173 suara. Namun kiper nomor satu Italia itu masih lebih baik daripada bintang Arsenal asal Prancis, Thierry Henry, yang menduduki peringkat ketiga. "Fabio adalah yang terbaik. Ini tahun yang sangat mengesankan baginya karena mampu memenangi titel Serie A dan Piala Dunia," ujar Buffon. (rtr,F3-40) |