| Rabu, 29 Nopember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAKeterjerumusan Irak dalam Konflik Sektarian- Konflik sektarian (Suni versus Syiah) di Irak telah berkembang sedemikian buruk, sampai tidak ada lagi yang tampaknya bisa dilakukan untuk mendamaikan kedua sekte tersebut. Tidak Bagdad, apalagi Washington yang semula mengklaim menjadi sang pembebas Irak dari Sadddam Hussein. Serangan maut silih berganti dilancarkan kedua pihak. Ratusan bahkan ribuan orang telah menemui ajal secara sia-sia. Jumlah korban tewas atau luka di kalangan rakyat Irak itu mungkin jauh lebih banyak daripada korban yang jatuh akibat kekejaman rezim Saddam selama 30 tahun berkuasa sampai disingkirkan oleh invasi pimpinan Amerika Serikat, Maret 2003. - Barangkali, tidak terbayangkan sebelumnya Irak akan terjerumus dalam perang saudara yang parah menyusul kejatuhan Saddam. Bahwa kelompok mayoritas Syiah akan membalas dendam pada minoritas Suni - yang menjadi masyarakat kelas satu selama Saddam berkuasa - memang telah diprediksi. Namun semula kita menduga, pemerintahan baru dukungan Washington - ditunjang pasukan pendudukan Amerika Serikat - mampu mengatasi situasi dalam waktu singkat. Nyatanya tiga tahun telah berlalu dan Irak bukannya menjadi negara demokratis yang aman dan makmur, sebaliknya malah amburadul. Di tengah kekacauan itu, Al Qaedah ikut bermain. - Di tengah kebingungan, muncul wacana untuk mengajak Suriah dan Iran membantu memecahkan konflik tersebut. Gagasan itu mungkin tidak baik, mengingat kedua negara berpotensi membantu salah satu pihak yang bertikai. Iran adalah negara dengan penduduk berhaluan Syiah yang pernah berperang selama delapan tahun (1980-1988) melawan rezim ''Suni'' Saddam. Sementara itu, Suriah sampai sekarang masih dikuasai Partai Baath (sosialis), yaitu partai yang juga berkuasa di Irak selama pemerintahan Saddam Hussein. Keterlibatan emosional kedua negara tersebut dengan pihak-pihak yang bertikai bisa saja malah memperburuk situasi. - Sedikit harapan bisa jadi muncul dari forum Liga Arab yang para menteri luar negerinya akan mengadakan pertemuan di Kairo, 5 Desember mendatang, dengan agenda utama soal Irak. Namun berdasarkan pengalaman masa lalu liga tersebut, agaknya juga tidak bisa diharapkan dapat mencarikan solusi. Liga secara sinis dituding hanya sebatas NATO (no action talk only). Masalah Palestina dan Lebanon saja tidak bisa dipecahkan karena hanya komitmen dan janji yang ditebar, bukannya tindakan nyata di lapangan. Namun, bagaimanapun kita lihat saja dahulu langkah macam apa kira-kira yang akan diambil lewat pertemuan di Kairo tersebut. - Untuk memecahkan suatu konflik, terutama yang sudah telanjur parah, biasanya diperlukan ''orang kuat'' penuh wibawa yang mampu bertindak tegas. Dalam kaitan ini, kita mau tak mau mesti berpaling pada sosok Saddam Hussein yang telah divonis mati atas kejahatan kemanusiaan yang dia lakukan pada masyarakat Syiah. Mantan presiden itu tidak disangsikan lagi masih dicintai kaum Suni, terutama di Tikrit dan sekitarnya. Dialah yang tampaknya masih bisa mengendalikan kelompok itu. Kenyataan perlawanan kelompok tersebut makin sengit belakangan ini, pasti tidak terlepas dari vonis yang dijatuhkan kepada bekas penguasa Irak itu. - Mengampuni Saddam mungkin solusi yang ekstrem. Jelas hal itu sulit dilakukan walaupun pengampunan terhadap seorang eks pemimpin - berdasarkan pengalaman di banyak negara, termasuk Filipina - biasanya dapat menenangkan para pengikutnya. Langkah selanjutnya, beri status otonomi khusus untuk kaum Suni di wilayah utara Irak, berbatasan dengan wilayah otonomi khusus Kurdi saat ini. Jangan mengandalkan Amerika Serikat. Jika pasukan pendudukan angkat kaki, Irak bakal bernasib sama dengan Vietnam Selatan dan Kamboja yang ditinggalkan begitu saja pada 1975. Vietkong dengan leluasa menghabisi musuhnya. Jangan sampai Irak juga menjadi killing field. |