logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Nopember 2006 NASIONAL
Line

Pasar Seng Makkah, Pindah ke Asrama Donohudan

BOYOLALI - Hampir semua jamaah haji asal Indonesia, tahu apa itu Pasar Seng di Makkah. Pasar Seng adalah sebuah lokasi perbelanjaan tradisional model kaki lima, lokasinya hanya beberapa puluh meter dari Masjidil Haram.

Begitu terkenalnya pasar itu sehingga hampir semua jamaah haji asal Indonesia, tak melupakan berbelanja di Pasar Seng seusai melakukan ritual ibadah haji di Makkah.

Bagaimana awalnya, sehingga di sebut Pasar Seng, tak ada yang tahu. Mungkin karena seng-seng karatan banyak memayungi para pedagang di pasar itu. Selain jamaah haji Indonesia, mungkin tak mengenal lokasi itu dengan nama Pasar Seng.

Di Pasar Seng banyak dijual berbagai macam oleh-oleh dengan harga murah. Yang paling banyak dicari jamaah asal Indonesia adalah tasbih, sorban, kerudung, dan sajadah. Barang-barang yang dijual itu buatan China, Pakistan, Afganistan atau Turki.

Tak sedikit pula yang didatangkan dari Indonesia. Di situ juga dijual makanan khas Arab seperti kurma, kacang arab, dan kismis. Yang ini jelas produk asli. Meski produk asli harganya relatif mahal. Seperti di Indonesia, barang-barang itu ditawarkan dengan harga tinggi. Siapa bisa pintar menawar, mendapatkan harga murah.

Bagi jamaah yang tak mau repot-repot membawa oleh-oleh dari Arab Saudi, di Asrama Haji Donohudan, Boyolali ini semuanya komplet tersedia. Barang-barang itu dijual di kantin, bangunan bagian belakang.

Di gedung itu terdapat lebih dari 25 pedagang yang menyediakan aneka kebutuhan berhaji. Dari baju koko, sajadah sampai kurma. Dari pakaian ihram, sandal jepit sampai air zam-zam. Dari aneka macam tasbih, mukena sampai miniatur Masjidil Haram hingga Masjid Nabawi dan kaligrafi.

Tak Mau Repot

Semuanya dijual di sini. Sejumlah calhaj kemarin berbelaja, memesan oleh-oleh. Mereka memang tidak mau repot. Pesan sekarang, diambil saat pulang nanti. Sarmadi salah seorang penjaga kios mengatakan, tahun lalu ia dapat menjual dua ton kurma pesanan para jamaah.

Kurma Mesir dikemas dalam bungkusan 10 kg harganya Rp 100.000. Kurma Lulu' dijual Rp 190.000 (10 kg) dan kurma Nagal Rp 100.000 (10 kg). Kustuk (kacang Arab) dijual Rp 90.000/kg serta kacang tanpa kulit harganya sekilo Rp 40.000.

Seorang pedagang lainnya, Bambang mengaku, tahun lalu dapat pesanan 15.000 jerigen air zam-zam. Satu jerigen berisi 10 liter. Untuk mendapatkan air zam-zam ia bekerja sama dengan mitranya di Makkah.

Selain air zam-zam, pedagang yang sehari-harinya buka toko di Gilingan ini juga menjual aneka makanan seperti kurma dan lain-lain. Ia pun juga menjual aneka busana muslim serta perlengkapan haji lainnya.

Di kantin ini juga dijual aneka perbekalan menyangkut kesehatan tubuh, seperti vitamin-vitamin. Juga pelembap kulit dan wajah serta bibir (lip care). Pelembap bibir ini amat diperlukan karena di Arab Saudi kita yang tak terbiasa dengan iklim di sana, bibir menjadi pecah-pecah. Bahkan bisa berdarah. (Subakti A Sidik-64v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA