| Rabu, 29 Nopember 2006 | NASIONAL |
"Ngeri Sekali, Saya Trauma"PENGALAMAN paling mengerikan dan membuat trauma, dialami Ayu Patmi (43) seorang ibu rumah tangga. Dia adalah saksi mata yang mengetahui persis kejadian tersebut. Sebab saat itu, dia bersama putri bungsunya, Riski Andriyani yang masih berumur 4,5 tahun, duduk di samping kiri sopir Bus PO Bergas Jaya Winarno, warga RT 2 RW 12, Sasak, Penadaran, Grobogan. Dia dan 14 penumpang yang lain pun segera tanggap, kalau rem bus itu blong ketika meluncur di jalur menurun Jl Setiabudi, Gombel, Banyumanik. Putri bungsunya langsung dia dekap erat-erat. Dia ingin cepat turun dari bus, tetapi takut dan tidak mungkin bisa melakukannya. "Bus itu kencang sekali. Ndak mungkin saya meloncat dari bus. Penumpang yang lain juga begitu. Akhirnya pasrah di dalam bus," tutur dia, saat bercerita kepada Bintara Ita di ruang Unit Kecelakaan Satlantas Polresta Semarang Selatan, Selasa (28/11). "Saya tahu persis saat bus menabrak Kijang mikrolet sehingga mobil itu terguling. Lalu menabrak motor sehingga pengendaranya tewas terlindas, terus menabrak motor lagi dan sebuah mobil, sampai akhirnya menabrak papan reklame kemudian berhenti," tutur dia, sambil menahan sakit di tumit kaki kanannya. "Saya jadi trauma naik bus," ujar dia. Ketika bus menabrak Kijang mikrolet, kaca depan bus langsung pecah. Bahkan pecahan kaca itu mengenai tangan dan wajah penumpang yang lain. Saat itu, Patmi langsung menutup mata dengan tas belanja yang dibawanya dari rumah. Menjerit Setelah itu, putri bungsunya tiba-tiba menjerit kesakitan. Sebab, pecahan kaca depan bus menggores tumit kaki putrinya. Dia pun kembali mendekap erat buah hatinya sambil komat-kamit memanjatkan doa memohon keselamatan. Dia juga melihat sebuah Honda Grand dihajar bus yang dia tumpangi. Motor dan pengendaranya terseret masuk kolong bus. Jerit tangis ketakutan terdengar bersautan dari seluruh penumpang. Kemudian saat bus menabrak Mitsubishi L-300, banyak penumpang yang berjatuhan dan terdorong ke depan. Akibatnya, banyak yang terluka parah. Teriakan Allahu Akbar pun terdengar di antara penumpang yang panik. "Saat akan bepergian, seperti ada yang mengingatkan saya agar naik ojek saja. Ini kok aneh, tidak seperti biasanya," tutur dia. Hari itu, saat dia keluar dari rumah dan hendak naik bus, ada seseorang yang menyapa dan mengingatkannya untuk naik ojek saja. Sebenarnya, dia akan turun di Peterongan dan naik angkot jurusan Kedungmundu untuk menengok saudaranya yang tengah kesusahan. Namun rencana itu batal. Sebab, bus yang dia tumpangi kecelakaan. Akibatnya, dia akan berpikir panjang untuk naik bus kembali. Sebab peristiwa yang mengerikan itu membuatnya trauma. "Anak saya pasti juga trauma," tutur dia. (Riyono Toepra-64m) |