logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Nopember 2006 NASIONAL
Line

Tiga Setengah Jam yang Menegangkan


PERCOBAAN BUNUH DIRI: Drama percobaan bunuh diri dilakukan Aris Hidayat (31) warga Kampung Karanganyar Selatan No 12 Kelurahan Brumbungan Semarang di tower pemancar Radio Gaya FM, Jl Pringgading No 26 Semarang, Selasa (18/11). Searah jarum jam: Aris hendak meloncat dari puncak tower, mengacung-acungkan parang, dan dibujuk tim SAR agar segera turun. Sesampainya di bawah, dia disambut oleh putra keduanya, Deni Prakosa (4). Aris berada di puncak menara selama kurang lebih 3,5 jam, yakni pukul 15.00-18.30. (57v)

''Pake medhun Pak. Utange wis dibayar. Aku durung adus lho Pak. Bengi iki aku bobok karo sapa, Pak. (Pak turun Pak. Utangnya sudah dibayar. Aku belum mandi lho Pak. Malam ini aku tidur sama siapa, Pak).''

DIPANDU ibunya Dwi Septianingdyah (28), Deni Prakosa (4) berteriak melalui corong megafon. Bocah berkepala pelontos itu membujuk Aris Hidayat (31) ayahnya yang berada di puncak menara pemancar Stasiun Radio Gaya FM, Jalan Pringgading No 26, Semarang, untuk segera turun.

Semula Aris bergeming. Namun demi mendengar suara Deni, pertahanannya luruh. Perlahan-lahan Aris menuruni menara setinggi kurang lebih 70 m tersebut. Maka, drama percobaan bunuh diri yang menegangkan itu pun berakhir. Ratusan orang yang menyaksikan dari bawah spontan bertepuk tangan sebagai ungkapan kelegaan.

Ya, perbuatan nekat Aris memang menegangkan. Selama kurang lebih 3,5 jam, dia berdiri di puncak menara pemancar yang kecil itu. Dia diketahui mulai memanjat pukul 15.00, dan mengakhiri aksinya pukul 18.30.

Masalah apa yang mendera warga Kampung Karanganyar Selatan No 12 Kelurahan Brumbungan Semarang itu, hingga nekat hendak mengakhiri hidup? Menurut adik kandungnya Kiki (19), Selasa siang sekitar pukul 13.00, Aris didatangi seorang tetangga bernama Ny War untuk menagih uang miliknya Rp 440.000. Lantaran tidak mengantongi uang sebesar itu, dia meminta penundaan waktu.

Namun Ny War tak menggubris. Dia bahkan melontar ancaman untuk melaporkan Aris ke polisi jika tak segera mengembalikan uang miliknya. Mendapat ancaman itu, dia ketakutan. ''Tiba-tiba dia menangis, lalu pergi ke dapur. Setelah mengambil parang kakak saya keluar rumah. Ternyata tempat yang dituju adalah kantor Stasiun Radio Gaya FM yang terletak tak jauh dari rumah. Melihat itu saya langsung mengejarnya, '' kata Kiki.

Sesampai di tempat Aris langsung memanjat menara pemancar yang berada di halaman depan. Dengan cepat dia terus naik hingga berada di puncak.

Sanusi (60) petugas keamanan Radio Gaya FM mengira Aris adalah teknisi yang hendak memperbaiki menara pemancar. Namun setelah tahu ia hendak bunuh diri, Sanusi segera mematikan pemancar dan lapor polisi.

Aksi nekat Aris menarik perhatian warga sekitar. Mereka datang berbondong-bondong dan berkerumun di lokasi sekitar menara. Tak ketinggalan orang-orang yang tengah melintas di Jalan Pringgading juga menghentikan kendaraannya. Tak ayal, kerumunan itu mengakibatkan terjadinya kemacetan.

Selama berada di atas menara, Aris membuat warga tegang. Betapa tidak. Tepat di puncak dia berdiri. Dia yang gelisah berkali-kali seperti hendak melompatkan diri. Lebih tegang lagi saat lelaki beranak dua itu mengeluarkan sebilah golok dari balik baju dan mengacung-acungkannya ke udara. Berkali-kali Dwi Septianingdyah dan petugas membujuk Aris menggunakan mikrofon untuk turun, namun tak berhasil.

Sementara itu polisi, petugas pemadam kebakaran, dan Tim SAR yang datang di lokasi kejadian berpikir keras untuk melakukan penyelamatan. Kondisi menara pemancar yang kecil dan tinggi membuat mreka kesulitan. Baru selepas magrib, mereka memutuskan untuk menjemput Aris. Setelah susah payah dibujuk, termasuk menggunakan suara Deni Prakosa, dia bersedia turun.

Mengenai uang Rp 440.000 yang ditagih Ny War, seorang tetangga bernama Ny Sumini memberi keterangan. Menurutnya, itu adalah uang pembayaran rekening listrik dan cicilan kredit sepeda motor yang dititipkan Bejo, suami Ny War. (Dicky Priyanto, Rukardi -41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA