logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Nopember 2006 MURIA
Line

Ersanda Diragukan Sendirian Bunuh Niko

  • Korban Dijerat Tali dan Digorok

BLORA - Ternyata ada warga Blora yang tidak percaya pembunuh Niko hanyalah Ersanda seorang diri. ''Tubuhnya kecil, masak bisa membunuh sendirian,'' celetuk Muwardi (45), seorang warga yang menyaksikan rekonstruksi kasus pembunuhan itu, Selasa (28/11) kemarin.

Mengenai keraguan orang bahwa tersangka melakukan pembunuhan itu sendirian, Kapolres Blora AKBP Lotharia Latif mengatakan dari keterangan tersangka, saksi, dan barang bukti, untuk sementara polisi menyimpulkan pembunuhan itu dilakukan seorang diri.

''Dalam rekonstruksi ini kami menghadirkan pula jaksa dan penasihat hukum tersangka. Mereka bisa menyaksikan sendiri bagaimana tersangka melakukan aksi,'' ujarnya.

Pada rekonstruksi tersebut, tersangka dengan lancar memperagakan adegan pembunuhan itu di hadapan polisi dan ribuan warga yang mamadati TKP, yakni sebuah warung di Pos Ngancar, Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan, Blora.

Mengenakan kaos biru dan jaket coklat tua, Ersanda - warga Desa Nglebur, Kecamatan Jiken - terungkap telah menyiapkan peralatan yang dia gunakan untuk menghabisi nyawa Niko, termasuk seutas kawat dan pisau.

Pada mulanya, kedua remaja yang masih sama-sama duduk di bangku SMA tersebut terlibat membicaraan serius di dalam sebuah warung, Selasa (7/11) malam lalu. Pada waktu itu, pemilik warung sedang pergi.

Tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Korban, yang diperankan seorang polisi, memainkan hp di tangannya, sementara tersangka memperhatikan. Korban kemudian pamit hendak membeli rokok.

Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio, korban meninggalkan tersangka seorang diri di dalam warung. Saat itulah tersangka menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk membunuh.

Pertama, dia mengambil seutas kawat dari dalam bagasi sepeda motor. Kawat itu diikatkan di sepotong bambu. Bambu dan kawat itu diselipkan di balik bajunya. Ketika korban datang kembali setelah membeli rokok, keduanya terlibat pembicaraan lagi.

Pisau Patah

Tersangka kemudian keluar, meninggalkan korban yang duduk di kursi kayu. Tiba-tiba, dari belakang muncul tersangka sambil menjerat leher korban dengan kawat yang telah disiapkan di balik baju.

Korban tidak memberikan perlawanan. Tubuhnya lemas dan jatuh ke tanah. Tersangka kemudian mengambil batu seberat kira-kira tiga kilogram di sekitar warung. Batu itu dia hantamkan empat kali ke kepala korban.

Selanjutnya tersangka mengambil pisau. Dia berniat menggorok leher korban, namun pisau tersebut ternyata tumpul. Tiga kali dia berusaha menggorok, sampai pisau itu patah dua.

Setelah yakin korban telah tewas, tersangka meninggalkan begitu saja mayat Niko di dalam warung. (H18-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA