logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Nopember 2006 SEMARANG
Line

Seminar Peneliti Karet di Salatiga

Produksi Karet Mengalami Penurunan

SALATIGA- Produksi karet di Indonesia dan berbagai negara penghasil karet di Asia dan Afrika beberapa waktu terakhir mengalami penurunan, padahal tingkat kebutuhan bahan utama pembuatan ban itu terus meningkat.Penurunan itu disebabkan pohonnya terserang penyakit jamur akar putih atau dalam bahasa Latinnya disebut Rigidoporus Microporus.

Menurut Dr Soekirman Pawirosoemardjo dari konsultan penelitian bidang proteksi tanaman karet Getas, Tuntang, Kabupaten Semarang jamur itu sifatnya mematikan pohon. "Kalau sudah terserang jamur akar putih, produksi karet akan menurun cukup drastis hingga akhirnya pohonnya mati," ungkapnya di sela-sela International Workshop on the White Root Disease on Hevea Rubber yang berlangsung di Hotel Quality Salatiga Selasa (28/11).

Workshop itu dihadiri para peneliti karet dari negara Malaysia, Vietnam, Thailand, Srilanka, Kamboja, dan juga peneliti dari perusahaan ban Michelin yang mewakili Afrika.

Di Indonesia sendiri, kerugian akibat jamur tersebut mencapai antara Rp 8-10 miliar setiap tahunnya. Jumlah lahan karet yang ada di Indonesia saat ini encapai 3,3 juta hektare baik yang dikelola PTPN maupun masyarakat.

Dijelaskannya, tingkat keparahan penyakit di tingkat petani karet yang dimiliki masyarakat mencapai sekitar lima persen. Sedangkan yang dikelola pemerintah angkanya lebih sedikit yakni sekitar tiga persen saja.

Workshop itu sendiri dimaksudkan sebagai ajang pertemuan para peneliti guna menemukan solusi penanganan terhadap penyakit tersebut.

Ditambahkannya, dari Indonesia berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian karet ada dua solusi guna mengatasi jamur akar putih. Pertama adalah mengembangkan pengendalian jamur secara biologi dengan cara memberikan biofungisida yang diformulasikan dalam bentuk dedak sebagai bahan padat bernama Triko SP Plus.

Penghambat Jamur

Biofungisida tersebut adalah bahan bersifat lestari dan ekonomis yang berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan jamur. Cara kedua yag ditawarkan adalah dengan penanaman tumbuhan antagonis, yakni jenis sensivera atau lidah mertua, laos, dan kunyit.

"Tanaman tersebut cukup ditanam di sekitar pohon karet. Tumbuhan akan mengeluarkan zat alami tertentu yang menghambat pertumbuhan jamur itu. Dua cara tersebut adalah alami dan tidak beracun bagi mamalia," tandasnya.

Dua langkah itu mendapat acungan jempol dari para peneliti yang berasal dari mancanegara tersebut. Selama ini di berbagai negara itu masih menggunakan zat-zat kimia untuk memberantas jamur akar putih.

Menurut mantan Direktur Pusat Penelitian Karet itu, jamur muncul dikarenakan kurangnya perawatan dan juga pada saat penanaman pertama kali, lahan belum bersih dari kayu. Kayu itu menurutnya adalah pinang atau tempat berkembangnya jamur akar putih.

Saat ini produksi karet kering di Indonesia baru mencapai 800 kg per pohon per tahunnya atau sekitar dua juta ton per tahunnya. Di Tahiland, meski lahannya lebih sedikit dari Indonesia namun kapasitas produksinya mampu mencapai 2,5 juta ton per tahunnya.

"Permintaan karet saat ini memang masih mencukupi, namun untuk sintetis dan alami permintaannya kian meningkat. Di Cina setiap tahunnya membutuhkan 10 juta ton karet," katanya. (H23-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA