logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Nopember 2006 SEMARANG
Line

Urea Pril Bersubsidi Mulai Sulit Didapat dengan HET

GROBOGAN - Pupuk urea pril belakangan ini di Grobogan laris sekali. Hampir sebagian besar distributor mengaku tidak pernah menstok barang dalam jumlah besar di gudangnya. Sebab, setiap kali didrop dari PT Kalimantan Timur (Kaltim) selaku produsen, barang subsidi itu langsung habis diborong pengecer.

Meski telah didrop dalam jumlah besar, petani mengaku mulai sulit mendapatkan barang tersebut dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 1.200/kg, sesuai dengan ketetapan pemerintah.

''Di Penawangan, harganya mencapai Rp 1.250/kg. Bahkan semakin ke desa harga ecerannya semakin naik menjadi Rp 1.300/kg. Padahal aturannya jauh dekat HET-nya sama, yaitu Rp 1.200/kg,'' kata Ngadiman (47), petani di Penawangan.

Petani di daerahnya memang belum mulai mengadakan pemupukan secara besar-besaran. Sebab, tanam padi mereka baru saja dimulai. Namun diakui, beberapa petani membeli pupuk lebih awal karena takut pada minggu-minggu ini harganya naik lebih tinggi.

Lebih-lebih sebelumnya ada kabar bahwa pada Januari 2007 harga pupuk jenis tersebut akan dinaikkan oleh pemerintah dari Rp 1.200/kg menjadi Rp 1.800/kg.

''Kabar ini sempat ramai di kalangan petani, meskipun akhirnya pemerintah meralat lagi bahwa kabar itu belum pasti. Pasalnya, rencana kenaikan itu masih dalam taraf wacana,'' katanya.

Lepas dari semua itu, yang pasti kabar mengenai rencana kenaikan harga pupuk tersebut membuat panik petani.

Sampai sekarang pun petani masih memercayai, harga pupuk akan dinaikkan. Karena itu, harga pupuk di pasaran cenderung naik.

Sementara itu di Godong, harga pupuk urea pril mulai dinaikkan dari Rp 1.200/kg menjadi Rp 1.250/kg dengan alasan diantar sampai di tempat tujuan.

Padahal di Godong pada umumnya tanaman padi baru dalam taraf persiapan. Sebab, air Kedungombo terlambat masuk ke daerah itu sehingga menyebabkan tanam padi musim Oktober-Maret (Okmar) 1006-2007 ini terlambat dibanding dengan wilayah Toroh.

Sudah Naik

Beberapa petani daerah itu mengatakan, pengguna pupuk pada umumnya mengeluh karena sebelum barang tersebut digunakan, harganya sudah naik.

''Setiap tahun hal seperti ini selalu terjadi, tetapi tidak setiap tahun masalah itu dapat terselesaikan dengan baik oleh pihak terkait,'' kata Ngatno, petani di Godong.

Dia membenarkan bahwa harga pupuk di pasaran naik karena ada kabar dari pemerintah bahwa pada Januari 2007 harga urea pril akan dinaikkan 50% karena subsidi dalam bentuk gas yang diterima pabrik pupuk dinilai tidak cukup untuk proses produksi.

Kabag Humas Pemkab Grobogan Adi Djatmiko mengatakan, harga pupuk dari Kaltim itu naik karena urea pril produk perusahaan lain dijual di atas HET.

Diduga, barang itu dijual di atas ketentuan karena harga barang yang sama di luar daerah cukup tinggi. Kini Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) tingkat kabupaten tengah membahas masalah itu dengan pihak terkait di ruang rapat Wabup. (A23-16n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA