| Rabu, 29 Nopember 2006 | SEMARANG |
Revolusi Ringan Busana Berlambang Kepasrahan AlamGEMERLAP kehidupan di dunia bukan jaminan sebuah cermin pribadi seseorang. Keterasingan dan kepenatan membelenggu saat orang tersebut merasa tak lagi menjadi diri sendiri. Kini, sudah saatnya segala belenggu itu terurai lepas. Berbagai cara dapat diambil, termasuk mengubah cara berpakaian yang lebih disesuaikan karakter pribadi. Busana yang serba gemerlap dan berpotongan rumit tak menjamin si pemakai merasa nyaman. Karena itu, dalam acara Fashion Tendance 2007, yang digelar di Aula Kampus Study World dan STIMIK Provici Ventlee, Jalan Kyai Saleh 12-14 Semarang, baru-baru ini, menampilkan busana pria dengan potongan sederhana. Revolusi ringan yang disuguhkan itu melahirkan kembali spirit kesederhanaan terhadap si pemakainya. Batik motif kawung dengan latar putih, yang merupakan ciri busana tokoh pewayangan bernama Semar, itu disandingkan dengan bahan katun dan linen. Warna off white yang dipilih melambangkan segala ketulusan hati terlihat chic ketika berpadu dengan warna coklat pada motif kawung, yang identik dengan sifat bersahaja yang dimiliki Semar. Dalam detail busana lelaki pemilik bernama lengkap Vincent Tjahjono Santoso tersebut menghindari segala sesuatu serbarumit. Celana pendek warna off white berkolaborasi dengan kemeja tanpa lengan. Sebagai pemanis, Ventlee memilih kancing warna hitam, yang ditata berurutan. Memang terlihat sederhana dan tidak neko-neko, tapi justru di situlah letak kelebihannya. Ventlee berhasil menunjukkan bahwa sebuah busana elegan tak harus dibuat dengan detail rumit dan serbagemerlap. Ventlee hanyalah satu dari 16 perancang busana yang ikut dalam acara itu. Ke-16 perancang tersebut, di antaranya Soese Asmadhi, Gregorius Vici, Yanti A Mochtar, dan Elkana Gunawan. Mereka yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) itu menampilkan karya-karya terbaiknya. Hasilnya, berbagai karya unik tersaji lewat tangan-tangan terampil mereka. Kehidupan Sirkus Keunikan yang ada terinspirasi dari berbagai macam hal. Tengoklah sebuah karya yang menggambarkan gaya berbusana komunitas sirkus. Keceriaan, kebebasan, dan kemeriahan ditemukan dalam kehidupan komunitas itu telah memberikan inspirasi Gregorius Vici untuk mengambil tema "Cirque de Papillon". Dalam rancangannya kali ini, Vici mencoba berekspresi dengan aneka pallete warna. Jika tidak hati-hati memilih, keanekaragaman warna itu bisa menimbulkan kesan membosankan dan cenderung norak. Menurut pengamatan Ketua APPMI Jakarta, Taruna Kusmayadi, rancangan yang dibuat para desainer itu tidak bisa dikatakan baik atau buruk. Dalam memilih bahan dan warna, mereka bergantung kepada kemauan pasar. "Meski demikian, hasil karya mereka lebih kreatif dibandingkan tahun sebelumnya. Kali ini, mereka sering memasukkan unsur batik,'' kata dia. (Roosalina, Ida N-56h) |