| Rabu, 29 Nopember 2006 | KEDU & DIY |
Dana Renovasi Sebaiknya untuk SDYOGYAKARTA- Di Indonesia, terdapat 137.396 sekolah dasar (SD) atau 825.354 ruang kelas pada jenjang SD. Namun, hanya ada 345.212 ruang kelas dalam kondisi baik. Selebihnya atau 257.257 ruang kelas rusak ringan dan 215.935 rusak berat. Untuk jenjang SMP, 12.037 sekolah dengan ruang kelas 143.184, ternyata yang baik hanya ada 114.950 dan 19.651 rusak ringan, serta 7.228 rusak berat. Untuk 3.634 SMA atau 48.937 bangunan, yang baik 42.856 dan 4.100 dalam kondisi rusak ringan serta 1.468 rusak berat. Hal itu merupakan hasil penelitian oleh Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Sukardi dan kawan-kawan, yang diungkapkan pada seminar bertajuk "Studi Kemampuan Renovasi dan Pembangunan Gedung Sekolah", di kampus UNY bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas, Senin (27/11). Menurut Prof Sukardi, penyebab kerusakan bangunan sebagian besar disebabkan oleh usia (SD 85%, SMP 81%, dan SMA 95%). Lama kerusakan rerata untuk SD 8,5 tahun, SMP lima tahun, dan SMA 5,3 tahun. Dari seluruh bangunan sekolah yang rusak, sebagian besar terjadi pada konstruksi atap berupa kebocoran dan kelapukan struktur (SD 92%, SMP 87%, dan SMA 95%). Besarnya biaya renovasi untuk SD Rp 102,6 juta atau biaya maksimal Rp 300 juta dan biaya minimal Rp 5 juta. Untuk SMP biaya renovasi rerata Rp 117 juta atau biaya maksimal Rp 625 juta dan biaya minimal Rp 11 juta, sedangkan untuk SMA biaya renovasi Rp 176 juta atau biaya maksimal Rp 1.766 juta dan biaya minimal Rp 5 juta. Bervariasi Dia mengatakan, besarnya dana renovasi gedung sekolah bervariasi, tergantung pada kondisi geografi dan sosial ekonomi daerah setempat. Indeks terendah zona satu dengan rentang antara satu-1,3 berturut-turut adalah Jateng, Jatim, NTB, DKI, Kalbar, Sulteng, Sultara, dan Sulut. Zona dua dengan rentang indeks 1,31-1,60 terdiri atas Sumsel, Bali, Sulsel, Sumbar, Kalteng, Kaltim, dan Riau. Indeks tertinggi adalah Provinsi Irian Jaya yang berada di zona enam. Sehubungan hasil penelitian yang direkomendasikan oleh Prof Sukardi, kerusakan ruang dan gedung sekolah sebagian besar di SD, sehingga prioritas kebijakan alokasi dana renovasi pemerintah sebaiknya ditujukan untuk SD. Renovasi atap perlu memperhatikan konstruksi yang sesuai dengan iklim di Indonesia, terutama terkait dengan pemilihan bahan penutup atap. Sebaiknya dipilih bahan yang kedap terhadap kondisi air embun, agar konstruksi plafon di bawahnya menjadi awet. (P12-39s) |