| Rabu, 29 Nopember 2006 | INTERNASIONAL |
PBB Minta Hukuman Mati Saddam DicabutJENEWA - Kelompok Kerja Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pemerintah Irak untuk mencabut hukuman mati terhadap Saddam Hussein. Alasannya, pengadilan Saddam memiliki cacat hukum yang serius. Kelompok Kerja HAM PBB itu menyatakan, mahkamah khusus Irak tersebut tidak mandiri dan tidak berimbang. Saddam juga tidak memperoleh waktu yang memadai untuk menyiapkan pembelaannya. Selain itu, akses Saddam untuk konsultasi dengan pengacara sangat terbatas dan dia tidak memiliki hak untuk menghadirkan saksi yang meringankan. ''Kelompok Kerja ini juga mengimbau pemerintah Irak untuk tidak menjatuhkan hukuman mati dengan cara digantung. Sebab, hal itu tidak sesuai dengan standar dasar mengenai persidangan yang adil,'' demikian pernyataan kelompok HAM PBB, Selasa kemarin. Saddam divonis hukuman mati bulan ini karena dia dinyatakan terlibat dalam pembantaian 148 warga Syiah di Dujail pada 1982. Pembantaian itu terjadi setelah sejumlah orang berusaha membunuh Saddam di desa Syiah itu. Belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan hukuman mati Saddam, karena dia masih memiliki kesempatan untuk mengajukan banding terhadap vonis tersebut. Kini, Saddam diadili atas kasus genosida terhadap warga Kurdi Irak pada akhir 1980-an. Kelompok Kerja PBB yang dipimpin Zerrougui Leila (dari Aljazair) itu terdiri atas lima pakar hukum dan HAM. Pendapat dan pernyataan kelompok itu memiliki kekuatan moral, tetapi tidak mengikat. Militan Mengklaim Sementara itu, dua kelompok militan Irak, yakni Laskar Mujahidin dan Dewan Syuro Mujahidin, mengklaim telah menembak jatuh pesawat tempur F-16 milik AS di Falluja. Demikian laporan televisi Al Jazeera kemarin. Sebelum ini, helikopter-helikopter AS dan Inggris beberapa kali mengalami kecelakaan di Irak. Namun sangat jarang terjadi jet tempur F-16 jatuh di negara itu. Militer AS sebelumnya menyatakan bahwa sebuah F-16 jatuh di sekitar Bagdad Senin lalu. Jet tempur canggih itu sedang melakukan misi tempur. Namun tidak ada keterangan mengenai nasib pilot F-16 dan penyebab pesawat itu jatuh. Seorang jurnalis televisi Irak yang merekam reruntuk F-16 itu di sebelah utara Falluja, Provinsi Anbar, mengatakan bahwa sang pilot telah meninggal. Falluja adalah salah satu titik konflik dan basis perlawanan Suni di Irak. Kemarin, serangan bom mobil di sekitar Rumah Sakit Yarmouk, Bagdad, menewaskan empat orang dan melukai 40 lainnya. Aksi-aksi pengeboman, penembakan, dan penyiksaan juga terjadi di kota-kota lain Irak. Gedung Putih mengakui bahwa konflik di Irak semakin keras. Namun Washington menolak untuk menyebutnya sebagai perang saudara. Pemerintah Amerika Serikat menganggap konflik di Irak itu sebagai perang melawan Al-Qaedah. Saat ditanya dalam konferensi pers di Estonia, Presiden AS George W Bush mengatakan aksi-aksi pengeboman di Irak akhir-akhir ini merupakan pola serangan Al-Qaedah untuk menyulut konflik di antara mazhab agama dan etnis. (rtr-ben-25) |