logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Juli 2006 KEDU & DIY
Line

Rindu Budaya Bersih

SEBUAH pertanyaan kritis perlu dilontarkan dalam pencanangan Gerakan Wonosobo Menanam, Sabtu (22/7) lalu. Mengapa kegiatan ini dilakukan justru pada musim kemarau? Bukankah tanaman mudah mati karena air tak mudah diperoleh? ''Kita justru melakukannya pada musim kemarau, agar masyarakat mau merawat bibit yang baru ditanam,'' kata Ketua Panitia Peringatan Hari Jadi, Drs H Muntohar.

Ini merupakan filosofi yang menarik. Seperti hendak membalik logika, namun mampu membidik sasaran yang lebih besar lagi. Kalau ditanam pada musim hujan, kata Muntohar yang juga wakil bupati, tanaman mudah tumbuh dengan sendirinya. Artinya, masyarakat tidak perlu merawarnya.

''Kalau sekarang masyarakat kan harus merawat dan memeliharanya. Ini dapat menjadi test case, apakah masyarakat Wonosobo benar-benar peduli terhadap upaya penghijauan,'' kata Muntohar. Bila pengujian ini berhasil, mudah bagi Pemkab untuk menggulirkan aneka program lainnya melibatkan peranserta masyarakat.

Partisipasi masyarakat memang menjadi salah satu esensi dari pelaksanaan desentralisasi yang digulirkan pusat sejak 1 Januari 2004. Masyarakat harus menjadi subjek, bukan lagi sekadar objek. Itu sebabnya, seluruh rangkaian peringatan hari jadi tahun ini juga digelar dengan mengundang keterlibatan masyarakat sebanyak-banyaknya.

Hal ini bisa dilihat dari Gerakan Wonosobo Menanam. Pengadaan bibit tidak semata-mata dari pemerintah daerah, tapi justru melibatkan partisipasi pihak lain seperti Indonesia Power, PT Tambi, dan sebagainya.

1 Juta Batang

''Yang terlibat dalam penanaman ini justru warga masyarakat, termasuk pelajar dan santri di seluruh wilayah kabupaten. Para pegawai negeri sipil serta anggota TNI dan Polri juga dilibatkan. Dinas hanya bertanggung jawab terhadap kelancaran acara ini, sekaligus pembinaan selanjutnya. Setiap dinas membawahi satu kecamatan,'' tambah Muntohar.

Lahan yang ditanami bibit sebanyak 1.000.000 batang ini meliputi sekolah-sekolah dan pondok pesantren, perkantoran, tepi jalan, hingga bantaran sungai. Setiap siswa SD menanam satu batang, SMP dua batang, SMA tiga batang, dan pegawai lima batang. Pada tahap pertama baru separonya, sementara sisanya harus ditanam sebelum Oktober 2006.

Kalau program ini berjalan sesuai dengan skenario, kata Muntohar, Pemkab yakin budaya bersih pun bisa dihidupkan kembali seperti dulu. Budaya bersih memang tergerus dalam lima tahun terakhir ini, sehingga wajah kota nampak kumuh. ''Masyarakat sudah merindukan budaya bersih, sehingga mereka pun harus mendukung program di bidang kebersihan.'' (32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA