| Jumat, 12 Mei 2006 | NASIONAL |
KISAH Berburu Pekerjaan di Luar NegeriRawat Orang Jompo Rp 4,7 Juta/Bulan
Bisa bekerja di luar negeri masih menjadi impian sebagian besar warga Indonesia. Sebab dengan modal ijazah pas-pasan mereka bisa mendapatkan gaji besar. Bagaimana para penyalur menjaring mereka, berikut laporannya. Anda putus sekolah? Anda tidak bisa melanjutkan SMU? Susah mencari pekerjaan? ........ Kami memberikan solusi supaya anda bisa bekerja di perusahaan elektronik luar negeri/Malaysia BEGITU bunyi penggalan promo lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh salah satu perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang membuka stan di Kantor Unit Pelayanan Satu Pintu Penempatan TKI asal Jateng di Jl Brotojoyo 2 Bulu Lor Semarang. Beberapa PJTKI lain juga melakukan langkah serupa di unit pelayanan milik Pemprov Jateng itu. ''Maaf, lowongan ini khusus perempuan,'' kata Luluk, petugas dari PT Avida Aviaduta, begitu melihat seorang lelaki meminta brosur-brosur pengumuman lowongan kerja di Malaysia. Bisnis penyalur tenaga kerja ke luar negeri memang masih menjadi primadona sejumlah kalangan pengusaha. Dengan iming-iming gaji, misalnya di Malaysia dan Taiwan yang begitu menggiurkan, tak sedikit sejumlah PJTKI akhirnya bisa memberangkatkan ribuan orang setiap tahunnya. Tentunya, para penyalur itu merupakan PJTKI resmi yang dalam aktivitasnya mendapatkan izin dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jateng. Hingga sekarang, Disnakertrans memberi perizinan pada 14 PJTKI untuk menyalurkan calon TKI asal Jateng. PT Radesa Guna Prima (RGP), misalnya, tahun 2005 berhasil memberangkatkan sekitar 1.800 TKI yang sebagian besar dengan tujuan ke Malaysia. Tahun ini, perusahaan yang berkantor di wilayah Banyumanik itu menargetkan 3.000 TKI. ''Tahun ini kami sudah memberangkatkan sekitar 500 orang TKI,'' kata Edi, seorang petugas PT RGP kepada Wagub Ali Mufiz saat membuka Kantor Unit Pelayanan Satu Pintu Penempatan TKI tersebut. PT Avida Aviaduta Jateng menargetkan 400-500 TKI yang dikirim pada tahun ini. Adapun pendatang baru PT Kanzana Rossie, tahun ini hanya menargetkan memberangkatkan 50 orang. PT Malindo Manpower Semarang yang telah memiliki balai latihan kerja luar negeri, menargetkan mengirim 6.000 TKI ke sejumlah negara terutama Malaysia. Faktor ekonomi menjadi alasan utama para calon TKI mengejar pendapatan yang lebih tinggi di luar negeri. Pengakuan dari sejumlah TKI yang ditemui di Unit Pelayanan Satu Pintu Penempatan TKI, rata-rata mereka merasa susah mendapatkan pekerjaan di dalam negeri dengan pendidikan terakhir SMP dan SMA atau sederajat. Kalaupun memperoleh, penghasilannya sedikit. Sementara itu, di Malaysia, misalnya, berbekal minimal ijazah SMP dan persyaratan administrasi lainnya, para TKI bisa bekerja dan menerima gaji minimal 415 Ringgit Malaysia per bulan. Itu belum termasuk tunjangan-tunjangan lainnya. Keseluruhan para TKI bisa menerima penghasilan minimal 600-800 Ringgit Malaysia. Jika dirupiahkan, minimal para TKI yang bekerja di sektor formal seperti operator produksi elektronik, perkebunan, perikanan, bangunan itu, bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 1.500.000/bulan. Semakin tinggi pendidikan, tentunya tempat dan jenis pekerjaan lebih mapan dengan penghasilan lebih tinggi pula. Saat ini, memang bukan Malaysia yang menjadi tujuan utama para TKI. Beberapa negara lain seperti Singapura, Taiwan, Korea Selatan, dan Hongkong juga membutuhkan tenaga kerja di sektor formal. Sebut saja pekerjaan merawat orang jompo di Taiwan. Gaji yang ditawarkan sekitar Rp 4,7 juta/bulan. Atau sebagai juru pancing di perairan Taiwan juga gajinya cukup menggiurkan. Meski tercatat di Jateng terdapat 14 PJTKI yang diizinkan beroperasi, Kepala Disnakertrans Jateng Srimoyo mengingatkan, PJTKI agar memperlakukan para TKI secara manusiawi dan memastikan calon TKI dilengkapi dengan dokumen. (Jamal al Ashari-46v) | ||||