| Senin, 27 Februari 2006 | KEDU & DIY |
HIV Berpengaruh terhadap KesuburanYOGYAKARTA - Dokter H Baharudin Hafied SpOG dari bagian SMF Obstetri dan Ginekologi RS Penyakit Infeksi Prof Dokter Sulianti Saroso Jakarta mengemukakan, penularan human immunodeficiancy virus (HIV) dari ibu ke bayi bisa dicegah. Bahkan strategi Penanggulangan AIDS Nasional (PAN) 2003-2007, antara lain memprioritaskan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. ''Depkes serta Komisi PAN telah berkomitmen untuk meningkatkan cakupan program itu di Indonesia,'' ungkapnya pada seminar kehamilan dengan HIV/AIDS bertajuk ''Menumbuhkan Kesiapan Petugas dan Sarana Kesehatan''. Kegiatan ini diselenggarakan Subbagian Fetomartenal Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dokter Sardjito bekerja sama dengan FK UGM dan Asia Link. Tempat acara di auditorium II FK UGM Yogyakarta, Sabtu (25/2). Menurut pandangannya, selama ini jumlah program khusus tentang pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi sangat terbatas. Program tersebut baru yang dijalankan sebuah LSM di Jakarta terhadap ibu hamil di beberapa perkampungan kumuh di DKI Jakarta pada 1999-2000. Pengalaman di RS Penyakit Infeksi Sulanti Saroso dalam menangani kasus ibu hamil dengan HIV positif sejak 1998 hingga sekarang, yaitu persalinan pervaginam 34 kasus dan sexio cesarea 11 kasus. Sementara itu, Tim Medis HIV/AIDS RS Dokter Sardjito Yogyakarta dokte Sumardi SpPD mengemukakan, penelitian di Afrika dan negara maju menunjukkan HIV bisa memberikan pengaruh buruk terhadap infertilitas atau kesuburan seseorang. Bahkan, juga pasangannya baik pada wanita dengan gejala ataupun tanpa gejala HIV. Sementara itu, persentasi kemungkinan hamil lebih rendah pada wanita dengan infeksi HIV dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi. Dan, angka kehamilan ini menjadi lebih rendah lagi pada wanita dengan infeksi HIV yang disertai juga infeksi sifilis. ''Pada kehamilan, HIV tidak menyebabkan kelainan kongenital tetapi ada kecenderungan risiko kegagalan kehamilan seperti keguguran spontan meningkat. Kemungkinan itu bisa terjadi karena penyakit penyerta lainnya dan kehamilan tidak menyebabkan perjalanan HIV menjadi lebih progresif baik HIV stadium awal maupun lanjut,'' paparnya. Dia mengemukakan, HIV bisa ditularkan dalam masa kehamilan, persalinan, dan post partum atau setelah kelahiran. Pada wanita hamil ada penurunan nilai absolut CD4 yang disebabkan hemodilusi. Namun, kondisi ini tidak berbeda pada wanita dengan atau tanpa HIV. ''Karena itu, pencegahan penularan ibu hamil dengan HIV positif kepada bayinya sudah harus dijalankan. Dan, VCT (konseling dan tes sukarela) perlu disebarluaskan,'' pesan dokter Sumardi SpPD. (P12-39j) |