| Sabtu, 25 Februari 2006 | NASIONAL |
Disesalkan, Masih Ada Balita Bergizi BurukSEMARANG - Penemuan balita yang terkena gizi buruk amat disesalkan Komisi E DPRD Jateng, terutama saat Jateng justru sedang menikmati surplus beras. Dari data Pemprov diketahui, sekarang masih terdapat 9.829 penderita. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah. "Fenomena ini seperti gunung es. Sekarang yang ditemukan kebanyakan di sekitar kota besar seperti Semarang dan daerah tetangga baik Kendal maupun Demak. Bisa jadi angka di daerah-daerah lain lebih tinggi tetapi belum terdata," ujar Siti Aisyah Dahlan, anggota Komisi E DPRD Jateng, Jumat (24/2). Kondisi itu, mestinya menjadi peringatan bagi Pemprov. Sebab bila masalah tersebut tidak segera ditangani, angka kasus bisa tiba-tiba lebih fantastis. Apalagi belakangan mulai ditemukan masyarakat yang mengonsumsi nasi aking (nasi sisa yang dikeringkan dan dimasak lagi-Red). Mengherankan Kasus gizi buruk itu sebenarnya cukup mengherankan. Menurut Aisyah, dalam persetujuan anggaran, dana untuk sektor kesehatan adalah terbesar kedua setelah sektor pendidikan. Secara total, dana yang dikucurkan dari APBN mencapai Rp 4,1 triliun. Belum lagi, anggaran yang dari APBD yang realisasinya Rp 2,94 triliun dari nilai ditetapkan Rp 3,19 triliun. Dengan demikian, masih ada sisa dana yang belum terpakai Rp 250 miliar. Namun dalam praktik, dana yang dimanfaatkan untuk makanan, aktivitas posyandu, dan pusat kesehatan itu masih menemui banyak kendala. Pemberian makanan misalnya, ternyata tidak sesuai dengan yang dibutuhkan si anak. (H12, G17-29m) |