| Kamis, 08 Desember 2005 | WACANA |
Dilema Sarjana Tanpa SkripsiOleh: Muhammad Sulhanudin - Mahasiswa Sastra Inggris Universitas DiponegoroPEMBUKAAN jalur nonskripsi bagi mahasiswa strata 1 (S1) dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan. Di antaranya akan adanya tumpang-tindih kurikulum antara mahasiswa strata 1 (S1) dan mahasiswa program diploma. Kondisi ini pada akhirnya akan membelokkan orientasi pendidikan mahasiswa S1. Diduga pembukaan jalur nonskripsi tersebut untuk memudahkan kelulusan mahasiswa. Orang jamak tentu sudah mafhum bila skripsi selama ini menjadi momok penghambat kelulusan mahasiswa S1. Dengan dibukanya jalur nonskripsi ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan tersebut. Jurusan Sastra Inggris Undip memang bukan perintis jalur nonskripsi. Universitas Indonesia (UI) telah lebih dulu membuka jalur ini untuk beberapa jurusan. UI bahkan telah membuka kesempatan bagi lulusan S1 jalur nonskripsi untuk melanjutkan ke jenjang S2. Namun demikian, memang tidak semua perguruan tinggi (PT) menerima lulusan jalur nonskripsi untuk program S2. Menurut hemat penulis, ada dua alasan mengapa mahasiswa S1 perlu menulis skripsi. Pertama, lulusan S1 dipersiapkan untuk menjadi tenaga ahli, sesuai dengan keilmuan yang pemah ditekuni semasa kuliah. Kondisi ini mengharuskan mereka memiliki pengalaman dalam penelitian. Kedua, sejauh ini menulis skripsi masih merupakan sarana efektif bagi mahasiswa untuk mempraktikkan penelitian yang merupakan salah satu poin tridarma perguruan tinggi. Berbeda dari mahasiswa S1, mahasiswa program diploma dipersiapkan untuk mengisi pos-pos tenaga praktis. Mereka inilah yang nantinya akan mengisi staf-staf ahli di instansi atau perusahaan, misalnya sebagai sekretaris, tenaga administrasi atau PR (public relation). Ditilik dari kurikulum pendidikannya, mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa S1 dan diploma pun berbeda. Di Fakultas Sastra Undip, misalnya, perbedaan antara program D III Bahasa Inggris dan S1 Sastra Inggris misalnya, terletak pada penggunaan bahasa Inggris. Bagi mahasiswa D III penggunaan bahasa Inggris lebih ditekankan pada kebutuhan praktis, sementara bagi mahasiswa S1 sebagai sarana untuk melakukan penelitian. Pertanyaan yang muncul, bagaimana bila mahasiswa S1 tidak menulis skripsi, lalu apa bedanya dengan mahasiswa D III? Pembukaan jalur nonskripsi di jurusan Sastra Inggris Undip tersebut merupakan salah satu imbas dari penerapan Kurikulum 2000, yang baru diterapkan mulai angkatan 2002, yang lebih menekankan pada kurikulum berbasis kompetensi. Akibat dari pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi tersebut antara lain adanya beberapa matakuliah baru yang ditawarkan. Anehnya, matakuliah yang ditawarkan beberapa di antaranya sama dengan yang ditawarkan di program D III. Selain itu, mulai tahun ini KKN diganti dengan KKP (pemagangan). Lantas apa bedanya KKP dengan PKL yang ditawarkan di program D III? Lagi-lagi tampak adanya tumpang-tindih antara kurikulum yang diterapkan pada mahasiswa S1 dan D III. Dalam jangka panjang, kondisi ini sangat tidak baik bagi lulusan PT. Ada kumungkinan dunia kerja akan lebih memilih lulusan S1 yang memiliki kualifikasi lebih walaupun dengan standar upah yang lebih tinggi. Atau justru sebaliknya, dunia kerja akan lebih memilih lulusan D III, karena pada kenyataannya baik lulusan S1 dan D III tak ada bedanya, dengan begitu mereka bisa lebih menekan pengeluaran untuk membayar upah tenaga kerja. (24) |