logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 10 Nopember 2005 INTERNASIONAL
Line

Berantas Korupsi, Haiti Memecat 50 Polisi

PORT-AU-PRINCE - Kepolisian Haiti memecat dan memenjarakan 50 personel polisi. Langkah radikal itu ditempuh untuk memberantas korupsi yang sudah merasuk di tubuh lembaga kepolisian.

Kepala Kepolisian Haiti Mario Andresol mengatakan, langkah itu juga sebagai persiapan menyongsong pemilu presiden.

''Kami berniat membersihkan lembaga kepolisian dan itulah yang kami lakukan,'' kata Andresol. Dia kembali dari pengasingan di Amerika Serikat dan menjabat kepala kepolisian Juli lalu.

Kepolisian Haiti sempat goyah saat pemberontakan berdarah yang menggulingkan eks presiden Jean-Bertrand Aristide pada Februari 2004. Sejak kudeta itu, polisi sering dituduh melakukan represi politik terhadap para pendukung Aristide.

Negara miskin di Karibia itu berencana menggelar pemilu presiden di bawah pengawasan PBB akhir tahun ini. Namun, kekerasan kriminal dan kekerasan politik mengakibatkan pemilu itu ditunda. Kurangnya perencanaan serta minimnya dana juga ikut mengakibatkan penundaan pemilu.

Jumlah personel polisi saat ini sekitar 7.000 orang. Jumlah itu masih ditambah 770 perwira baru lulusan Akademi Kepolisian. Sejak Juli, sebanyak 50 perwira polisi dipecat atau ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam kriminalitas dan korupsi.

Pada akhir pekan ini, sebanyak 14 personel polisi ditangkap karena terlibat dalam pembunuhan kelompok penggemar sepakbola di permukiman kumuh Port-au-Prince pada 20 Agustus. Dua orang di antaranya berpangkat perwira tinggi. Mereka diajukan ke pengadilan Senin ini dan didakwa melakukan pembunuhan.

Kelompok advokasi HAM mengatakan, para polisi dan sekelompok warga sipil bersenjatakan parang menewaskan sedikitnya 10 orang pada pertandingan seoak bola yang disponsori USAID.

Tanggapan Positif

Sejak Aristide tumbang, puluhan operasi digelar di kawasan-kawasan permukiman kumuh yang merupakan basis dukungan Arsitide. Ratusan orang tewas dan ratusan lainnya ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan yang asal-asalan.

Banyak orang tak berdosa tewas saat polisi menggelar operasi terhadap kelompok-kelompok bersenjata. Menurut Komisi Pengacara untuk Hak-hak Individu, kelompok bersenjata itu meneror penduduk.

Puluhan polisi juga tewas dalam berbagai operasi atau diserang oleh kelompok kriminal.

Sejak Andresol menjadi kepala polisi, korban-korban dari pihak penduduk makin sedikit. Sebab, polisi menggelar operasi secara lebih profesional dan cermat dalam menentukan sasaran.

''Kami mulai mendapat tanggapan positif dari penduduk. Masyarakat sudah bersedia bekerja sama untuk menumpas kelompok-kelompok kriminal. Kepercayaan masyarakat sudah mulai pulih karena operasi kami makin bersih seiring dengan pembersihan di tubuh polisi,'' Michael Lucius, direktur Polisi Yudisial, satuan yang membidangi pemberantasan obat terlarang dan kelompok kriminal.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA