| Kamis, 15 September 2005 | SALA |
Pasar Mebel Kalijambe Mangkrak
SRAGEN- Pasar Mebel Kalijambe, Sragen, kini kondisinya mangkrak. Padahal, pasar yang diharapkan menjadi salah satu pusat jual-beli permebelan di wilayah Kecamatan Kalijambe dan sekitarnya itu, baru diresmikan sekitar dua tahun lalu. Seperti kemarin, pasar yang berada di pinggir jalan Solo-Purwodadi tersebut terlihat sepi. Kondisi demikian bukan hanya disebabkan tak ada pembeli, melainkan juga para pedagang. Sebab dari total 59 ruko, yang ditempati hanya lima toko. Ironisnya, situasi pasar pun telah beralih fungsi. Sebab, dari lima ruko yang ditempati, tak satu pun terdapat pedagang mebel sebagaimana yang ditunjukkan nama pasarnya. Justru yang ada para pedagang kebutuhan rumah tangga seperti toko kelontong, alat-alat mesin jahit, pakan ternak, dan toko sembako. Lebih parah lagi, karena sering sepi, sebagian area digunakan warga untuk keperluan lain. Misalnya untuk menjemur gaplek dan kacang tanah. Sementara bagian area lain, ada yang terlihat sepi dan kosong. Salah seorang pedagang, Agus mengatakan, pasar yang mangkrak tersebut sudah berlangsung lama. Bahkan, hal itu terjadi tidak lama setelah diresmikan penggunaannya hingga saat ini. ''Awalnya memang sempat banyak yang menempati, termasuk pedagang mebel. Namun, beberapa hari kemudian perlahan banyak pula yang meninggalkan,'' tutur pedagang alat-alat mesin jahit tersebut. Karena Sepi Menurutnya, para pedagang yang lari itu disebabkan kondisi pasar sepi. Pembeli yang datang ke tempat tersebut setiap hari bisa dihitung dengan jari. ''Mungkin karena kalau tetap bertahan rugi, banyak yang kemudian memilih tutup,'' ujarnya. Sementara pedagang lain, Suyono mengatakan, sebelum dibangun pasar mebel, tempat tersebut dulu juga sudah berbentuk pasar. Hanya, pasar tidak berupa mebel, tetapi tempat jual-beli kebutuhan rumah tangga. ''Dulu ada sembilan pedagang yang berjualan di sini, sebelum dibangun pasar mebel. Lima pedagang yang masih bertahan sekarang termasuk di antaranya,'' ujar pedagang kelontong itu. Dia menuturkan, setelah dibangun menjadi pasar mebel, untuk bisa menempati ruko pedagang diwajibkan membeli. Satu unit ruko dengan tipe 46, harganya Rp 21 juta. Untuk tipe 36, harganya Rp 20 juta. ''Kebanyakan pedagang yang membeli saat itu tidak dengan cara kontan, tetapi dikredit,'' ungkapnya. Ditanya tentang kondisi pasar sebelum dan sesudah dibangun, dia menyatakan tingkat keramaian memang berbeda. Sebelum dibangun, kondisi pasar sudah lumayan ramai. Namun setelah dibangun malah cenderung sepi. ''Ya seperti yang terlihat sekarang lah.''(G19-42s) |