| Kamis, 18 Agustus 2005 | PANTURA |
Tujuh Belasan seperti Idul FitriGAUNG HUT Ke-60 RI ternyata tidak hanya di kota-kota besar saja, namun juga membahana di desa-desa. Seperti pada saat peringatan di Desa Gerlang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Desa yang berjarak 37 km dari Kota Batang yang terletak paling selatan, tepatnya utara Dataran Tinggi Dieng itu, hanyut dalam suka cita. Kemarin, bertempat di Lapangan Kayuabang berlangsung upacara tujuh belasan. Lapangan yang lokasinya di lembah itu seakan-akan ikut merasakan kemerdekaan. Desa yang biasanya diselimuti kabut tebal itu kemarin saat berlangsung upacara tampak cerah. Di sekeliling lapangan adalah hamparan tanaman kentang. Upacara bendera layaknya upacara kenegaraan. Kepala Desa Akhmad Mafthukin pun selaku pembina upacara mengenakan seragam pakaian dinas upacara (PDU), setelan baju dan celana putih dengan lencana tanda jabatan di dada kanan. Para peserta upacara terdiri atas murid SD Gerlang bersama dewan guru, tokoh masyarakat, serta alim ulama. "Seragam saya pakai kali pertama saat dilantik menjadi kades. Selanjutnya, dalam satu tahun hanya saat menjadi pembina upacara HUT RI," ujarnya. Memberi Hormat Ketika pembawa acara menyatakan upacara segera mulai, warga mulai memadati lapangan. Begitu ada aba-aba penghormatan kepada sang Merah Putih, semua memberi hormat. Saat Kades membacakan teks proklamasi, peserta pun benar-benar menghayatinya. Rasa kebangsaan benar-benar tertanam saat pembina upacara mengucapkan sila-sila Pancasila dan kemudian mereka menirukan dengan lantang. Dalam amanatnya Kades mengemukakan, kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia bukan hadiah atau hibah melainkan direbut dengan perjuangan panjang para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya. "Saya terharu melihat antusias warga mengikuti upacara. Kemeriahan peringatan tujuh belasan ini sama seperti Lebaran," tutur Akhmad. Selesai upacara dilanjutkan dengan pawai kesenian serta pelepasan balon raksasa. Darto (75) menekankan, sudah selayaknya jika peringatan HUT RI itu itu dirayakan dengan meriah. Sebab, untuk merebut kemerdekaan itu ditempuh dengan nilai pengorbanan yang mahal. "Harga kemerdekaan itu sangat mahal, pokoknya tak ternilai. Karena itu, saya sangat senang jika acara 17-an ini terselenggara secara meriah." Dia mengisahkan, dahulu saat pesawat Belanda terbang di atas Gerlang hanya rasa cemas dan takut. Lebih-lebih saat melihat dari kejauhan gerak pasukan penjajah. "Jadi tepat, jika acara ini meriah. Ya, karena kita telah merdeka," tandasnya. (Arif Suryoto-50j) |