logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 25 Juni 2004 WACANA
Line

SURAT PEMBACA

Pengalaman Tak Enak di Stasiun KA Tegal

Beberapa waktu lalu saya mengantar teman membeli tiket KA dari stasiun Tegal ke jurusan Gambir Jakarta. Semula dia ingin membeli tiket KA Kamandanu, tetapi karena menduga KA sudah berangkat maka kemudian beli tiket Gumarang Kelas Bisnis.

Dia membayar penuh harga tiket Gumarang tapi petugas loket dengan agak acuh menjelaskan tiket tersebut tidak punya kursi atau dengan kata lain harus mencari sendiri tempat duduk. Kalau tidak ada kursi, berarti harus berdiri sepanjang perjalanan Tegal - Jakarta. Wagu kan, Kelas Bisnis kok disuruh berdiri ?

Ternyata diperoleh informasi, KA Kamandanu belum berangkat hingga dia langsung saat itu juga ke petugas loket, untuk mengganti dengan tiket Kamandanu, tentu saja dengan menambah biaya kekurangannya.

Dengan ekspresi yang kurang ramah dan cenderung berang, dia memotong paksa harga penukaran tiket Gumarang ke tiket Kamandanu. Saya ingin penjelasan dari PT KA, apakah memang dibenarkan menjual tiket KA (apalagi Kelas Bisnis) yang tidak memiliki tempat duduk/kursi ?

Apa ada aturan pengenaan potongan untuk setiap tiket yang langsung saat itu juga ditukar dengan tiket KA lain ?. PT KA adalah perusahaan public service, saya hanya mengharap agar di setiap personel yang ditugasi langsung berhadapan masyarakat, dibekali performance dan pembahasaan tutur kata yang santun.

Wieluyo Slamet
Sentanan 4, Tegal 52123

***

Tumbuhkan Kemandirian

Saya siswa kelas 1 SMU Loyola di Semarang. Beberapa minggu lalu kami mengadakan live in yang hampir sama dengan KKN. Kami membiasakan diri hidup beberapa hari di desa, bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan mencoba menangkap keprihatinan masyarakat desa yang kami tinggali.

Menurut saya, ini merupakan kegiatan yang sangat baik untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah lainnya, karena bisa menumbuhkan rasa kemandirian, sosialisasi dan kebersamaan dengan orang-orang di desa.

Octavianus Gesit
Jl Sompok Baru 106, Semarang

***

Menulis Buku tentang Kota Semarang

Aku warga Kota Semarang yang berkeinginan dan cita-cita tinggi. Aku pernah jual air, koran, pedagang asongan dan ngamen agar bisa sekolah (dari kelas 4 SD hingga lulus STM). Karena tak bisa sekolah lebih tinggi lagi, aku sering membaca buku teknik (di perpustakaan/toko buku Gramedia).

Dari membaca aku sekarang bisa merencanakan suatu bangunan apa saja.

Selain itu aku gemar menulis. Aku menulis beberapa buku yang berhubungan dengan Kota Semarang dan teknik perencanaan bangunan/kota. Aku ingin menyelesaikan buku tersebut agar bisa dibaca orang lain khususnya Pemkot.

Lewat Surat Pembaca ini, aku harap ada yang mau menyeponsori buku yang aku tulis agar cepat selesai. Syukur aku bisa melanjutkan sekolah.

Buku yang aku tulis untuk Kota Semarang: "Sampah menciptakan lapangan kerja meningkatkan perekonomian, menggali potensi, Semarang bebas rob dan banjir, tol Semarang pendapatan bertambah tanpa menaikkan tarif, Selalu nomor satu, Kota Fantasi".

Untuk umum yang aku tulis: Perumahan, developer dan Pemerintahan, Joglo, Renovasi, Desain Hotel/Apartemen, Sunggi Langit, Pusat perbelanjaan hijau, Indonesia bebas dan merdeka.

Didik Fitriyadi
Jomblang Perbalan Rt 8/Rw 2
Semarang

***

Layanan RS Tugurejo Mengecewakan

Saya pemegang kartu Askes Komersial yang mendapat pengalaman mengecewakan dari RS Tugurejo Semarang. Anak saya, Ammar Hibatullah Syifa' (3) opname selama 4 hari (7-10 Mei '04) di Pav Amarylis RS Tugurejo.

Sejak pertama masuk ke IGD, saya sudah menyampaikan kami menggunakan kartu Askes (surat rujukan, fotokopi Askes dan kartu berobat yang diminta saya penuhi). Bila ada tindakan/pemberian obat di luar Askes tolong saya diberitahu sebelumnya.

Kenyataannya selama opname tidak pernah ada informasi dari pihak rumah sakit tentang tindakan/obat non-Askes. Baru ketika akan pulang saya ditagih untuk tombok sebesar Rp 508.000 dari total biaya sekitar Rp 700.000. Bagi saya jumlah itu sangat besar.

Ketika saya tanyakan, kasir di apotek dengan kata-kata yang tidak mengenakkan dia menyalahkan dokter yang menulis resep dan perawat yang mengambil obat tidak menanyakan apakah obatnya Askes/tidak. Sedang Kabid Pelayanan menyatakan ada prosedur pemberitahuan tertulis bila ada pemberian obat di Iuar Askes.

Beliau juga mengatakan dokter yang menangani anak saya yang bertanggung jawab. Tetapi menurut dr Laily Spesialis Anak yang menangani, petugas apotek seharusnya ikut bertanggung jawab. Mana yang benar? Bagi saya, akan sangat meringankan beban bila RS Tugurejo mempertimbangkan lagi dengan rnengurangi jumlah tagihan.

Untuk rekan-rekan pemegang kartu Askes, saya ingatkan agar lebih berhati-hati sebelum memilih RS. Saya yakin para pemegang kartu Askes pasti menginginkan pelayanan terbaik dari rumah sakit yang menerima peserta Askes.

Jika diberi obat non-Askes tanpa pemberitahuan, apa gunanya kami menggunakan fasilitas kartu Askes dan melengkapi syarat-syarat yang diminta pihak rumah sakit.

Christini TW
Jl Bligo 7 Ngaliyan, Semarang

***

Pasarku Hilang, Lalat Menyerang

Karena tidak tahu musti bagaimana, saya putuskan menulis surat terbuka ini kepada bapak-bapak yang berwenang. Saya laporkan saat ini kondisi pasar Karangjati Kabupaten Semarang pasca kebakaran sangat kumuh dan memprihatinkan.

Betapa tidak, sampah menggunung tanpa ada yang peduli dengan aroma yang aduhai. Tak kalah menarik lalat-lalat yang luar biasa banyaknya. Hal ini tidak ada sebelum pasar terbakar. Pernah diadakan penyemprotan Depkes 2 kali namun tak banyak manfaatnya, jumlahnya tak berkurang. Sebab sampah tetap tidak ada yang membersihkan. Sekarang lalat sudah menyebar di lingkungan sekitar.

Bagaimana ini. Haruskah kita bergumul dengan lalat setiap hari dan bagaimana kalau terkena penyakit. Tolonglah,perhatikan nasip kami wong cilik. Semoga tulisan ini menggerakkan hati bapak-bapak yang berwenang.

Tjoesi Herawati
Tegalsari Rt 1/Rw 8 Ungaran

***

PT Telkom Solo untuk Ibu Endang, Lasem

Ibu Endang Sulistiyawati di Sridadi Pamotan RT 1/RW 13 Lasem, Rembang, terima kasih telah menyampaikan informasi gangguan pesawat telepon melalui Surat Pembaca 20 Juni 2004. Kami mohon maaf dan ternyata gangguan terjadi pada perangkat PCM (pulse code modulation).

Perangkat ini berfungsi sebagai pengganda saluran dan telah dilakukan perbaikan/penggantian alatnya. Saat ini pesawat telepon Ibu telah berfungsi normal. Berdasarkan penelusuran, pesawat telepon yang mengalami gangguan adalah nomor 0295 531810 a.n Bapak Soewarno BA, alamat Desa Sridadi Pamotan RT 1/RW 13 Lasem, Rembang.

Arifin Syah
Manager Pelayanan Pelanggan
Kandatel Solo


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA