logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 17 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Hartono Ancam Panwas

  • Jika "Antek Soeharto" Dipersoalkan

DENPASAR - Ajakan Ketua Umum PKPB Jenderal (purn) R Hartono untuk menjadi ''antek Soeharto'' dalam kampanyenya di Yogyakarta, sepertinya berbuntut panjang. Setelah KPU Yogyakarta akan memberikan peringatan kepada dirinya, kini sebaliknya Hartono ganti mengancam akan memperkarakan KPU dan Panwas Pemilu Yogyakarta (DIY) jika mempersoalkan pernyataan "antek Soeharto" dalam kampanyenya tersebut.

Ancaman itu disampaikan Hartono usai menjadi jurkam PKPB yang dihadiri ribuan simpatisannya di Gedung Kesenian Gde Manik, Jalan Udayana Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (6/3). "Apa salahnya bilang Orde Baru? Siapa yang melarang? Silakan, nanti saya tuntut juga dia," tegas Hartono. "Silakan (KPU/ Panwas Pemilu-Red) mau menuntut. Saya juga akan menuntut balik, kalau betul omongan itu," sambung mantan KSAD itu.

"Silakan, karena saya juga bisa menuntut. Karena hak saya untuk berbicara yang benar, kok dilarang. Itu pun kalau betul omongan KPU dan Panwas. Kalau tidak, mungkin ada yang mengada-ada," demikian Hartono.

Ketua KPU DIY Suparman Marzuki menyatakan, kampanye R Hartono dengan mengajak warga Yogyakarta menjadi antek Soeharto tidak seusai dengan pasal 71 ayat (5) UU No 12/2003 dan pasal 4 (3) SK KPU No. 1/2004.

"Aturan itu mengatur bahwa dalam kampanye itu harus sopan santun dan tata krama. Kalau RH Hartono menyatakan seperti itu, jelas sebuah pernyataan yang emosional. Apa tidak ada kalimat lain, sehingga harus berkata seperti itu," komentar Suparman.

Sedangkan anggota Panwas DIY M Wafiek menilai, pihaknya masih mencari pasal-pasal mana yang bisa untuk menjerat Hartono.

"Panwas juga masih terus menunggu laporan masyarakat tersebut," demikian Wafiek.

Bodohi Rakyat

Pernyataan Ketua DPP Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) R Hartono yang mengajak untuk menjadi "antek Soeharto'' ternyata tidak hanya dikecam KPU dan Panwas Yogyakarta, tetapi juga banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak. Bahkan secara terang-terangan sejumlah jurkam menolak ajakan tersebut, karena dinilai membodohi rakyat.

Fungsionaris DPP dan jurkam PKB Chotibul Umam Wirano mengajak, seluruh fungsionaris dan pimpinan parpol yang berada dalam barisan reformis untuk menggalang, dan menjelaskan soal kebobrokan ekonomi pada saat itu.

''Ekonomi baik, tapi kan untuk keluarga dan kroninya. Bagi masyarakat tidak, sehingga mudah terpuruk, seperti sekarang. Berapa besar uang yang diambil mereka saat itu,'' ujar Umam kepada Suara Merdeka di Jakarta, kemarin.

Pernyataan senada juga disampaikan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid dalam kampanye, kemarin di gedung olahraga Sumantri Brojonegoro Kuningan, Jakarta Selatan. ''Kami menolak mereka yang ingin mengembalikan jarum sejarah, dengan menjadi antek Soeharto,'' ujarnya dihadapan sekitar 2.000 massa PKS.

Dia kembali mengajak, agar PKS menolak mereka yang mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi anteknya Soeharto, dan kembali ke masa lalu. ''Soeharto yang menghadirkan tragedi Tanjung Priok. Soeharto yang membuat Indonesia terpuruk dengan utang triliunan rupiah. Soeharto yang membuat Indonesia berada di bawah ketiak IMF,'' tegasnya.

Nur Wahidd menegaskan, PKS tetap komit serius untuk memberantas korupsi. ''Ketika kami mengatakan akan memberantas korupsi, kami tidak sedang mengobral janji, tapi menghadirkan bukti dan fakta.''

Dikatakan, komitmen PKS bukan omong kosong, karena kader-kader PKS di legislatif, baik pusat maupun daerah terbukti menolak suap. Menurutnya, mantan Presiden PK Nur Mahmudi Ismail, saat menjadi Menteri Kehutanan, telah menyelamatkan dana reboisasi sebesar Rp 7,8 triliun.

Sementara itu, mantan Ketua DPP PDI-P Prof Dr Dimyati Hartono menilai wajar jika Hartono berbicara seperti itu, mengajak orang untuk menjadi antek Soeharto, karena dia dibesarkan oleh penguasa Orde Baru.''Kalau bicara lain justru dia tidak benar.''

Menangis

Di pihak lain Hartono juga mengatakan, banyak orang menangis begitu melihat gambar mantan presiden Soeharto.

"Para transmigran yang saya temui di berbagai daerah, seperti Palu, Bengkulu, dan Sumut menangis begitu melihat gambar Soeharto," katanya di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa, sebelum bersama rombongan termasuk calon presiden dari PKPB Siti Hardiyanti Rukmana berangkat ke Denpasar, Bali untuk selanjutnya ke kota Singaraja untuk berkampanye. (di, dtc,ant-69,58e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA