logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 20 November 2003 Debat  
Line

Seks Mahasiswa, Pembusukan Etika

Oleh: Sawali - Mahasiswa S2 Bahasa Indonesia Unnes

UNTUK kesekian kalinya, kampus kembali mendapat sorotan miring. Setelah "skandal masjid" tercium pers, banyak kalangan menuding, kampus kehilangan idealisme untuk menegakkan kultur akademik. Mahasiswa dianggap lebih memuja hura-hura dan hedonisme ketimbang memburu sesuatu yang lebih terhormat dan bermartabat. Tawuran, penyalahgunaan narkoba, atau ulah tak terpuji lainnya seakan-akan sudah menjadi stigma yang lekat dalam kehidupan mahasiswa. Terkuaknya fenomena seks bebas jelas makin mempertebal stigma itu.

Fenomena seks bebas di kalangan mahasiswa, menurut hemat saya, jelas merupakan salah satu bentuk pembusukan etika, pendangkalan nilai religius, dan menodai fitrah sebagai makhluk Tuhan yang berakal-budi.

Nilai-nilai luhur hakiki seolah-olah sudah terdistorsi oleh kebuasan naluri purba yang menghamba pada kenikmatan sesaat. Nilai-nilai religi tidak lagi menjadi basis spiritual yang mencerahkan. Firman Tuhan dan sabda nabi hanya dipahami sekadar dogma yang mengapung dalam kitab-kitab suci. Maka, terjadilah degradasi nilai dan involusi budaya di kalangan mahasiswa.

Gaya Khotbah

Memang, kita tidak bisa menggeneralisir fenomena secara membabi-buta. Tidak sedikit mahasiswa yang masih memiliki idealisme.

Namun, ibarat nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Kewibawaan kampus sebagai basis pengembangan kultur akademik jadi ternoda akibat ulah beberapa gelintir mahasiswa yang gagal membendung kobaran nafsu selera rendahnya.

Banyak faktor yang melatarbelakangi maraknya perilaku seks bebas. Pertama, kegagalan pendidikan agama. Diakui atau tidak, pendidikan agama yang berlangsung di lembaga pendidikan kita cenderung bergaya informatif, dogmatis, monoton, dan miskin inovasi.

Dari tahun ke tahun, pendidikan agama berlangsung dengan gaya khotbah yang membosankan, tanpa pendalaman. Akibatnya, para peserta didik gagal menjadikan nilai-nilai agama sebagai roh yang mampu menuntun sikap dan perilakunya.

Kedua, sikap masyarakat yang permisif. Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju arus global dan mondial, pergeseran nilai menyergap di segenap lapis dan lini kehidupan. Masyarakat yang diharapkan menjadi media kontrol terhadap merajalelanya perilaku menyimpang pun bersikap masa bodoh.

Masyarakat menganggap pembusukan etika dan pendangkalan nilai agama sebagai fenomena yang lumrah terjadi di tengah atmosfer perubahan dan pergeseran nilai.

Ketiga, minimnya keteladanan orang-orang yang layak dijadikan anutan. Secara jujur mesti diakui, negeri ini miskin figur publik yang bisa dijadikan teladan generasi muda. Mereka yang tengah berada dalam lingkaran kekuasaan, misalnya, bahkan cenderung berperilaku curang dan korup.

Dalam kondisi masyarakat kita yang cenderung paternalistik, sangat beralasan jika generasi muda berusaha menemukan jati diri dengan cara mereka sendiri yang kadang bertentangan dengan nilai moral dan agama.

Dan keempat, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua. Secara psikologis, mahasiswa adalah sosok "setengah dewasa" yang baru matang secara fisik. Mentalitas dan perilakunya masih amat labil dan rentan dipengaruhi. Mereka masih butuh perhatian dan kasih sayang orang tua dalam menemukan jati dirinya.

Bagaimanapun juga, seks bebas merupakan persoalan serius yang urgen untuk segera ditangani. Membiarkan mereka terjebak dalam perilaku anomali sama saja menggadaikan masa depan negeri ini ke dalam situasi tak menentu. Orang tua, guru, tokoh masyarakat, agamawan, para pemimpin, dan para petinggi kampus harus saling bersinergi membebaskan anak-anak bangsa (termasuk mahasiswa) dari belenggu hedonisme dan kemunafikan.(33)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA