logo SUARA MERDEKA
Line
 Berita Utama Minggu, 28 September 2003  
Line

Megawati Bertemu Gaddafi

  • Tidak Benar, Libia Latih Militer Orang Aceh

TRIPOLI- Presiden Megawati Soekarnoputri Jumat (26/9) bertemu Presiden Libia Kolonel Muammar Gaddafi. Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut berlangsung di kediaman Gaddafi sesaat setelah Megawati tiba di Bandara Maitiga Tripoli, seperti dilaporkan wartawan Suara Merdeka Fauzan Jayadi.

Kedatangan Mega disambut Gaddafi di halaman kediamannya dengan atraksi beladiri dari pasukan khusus Libia, termasuk sejumlah pasukan wanita. Selepas penyambutan ia dibawa melihat rumah bersejarah Gaddafi yang digempur Amerika sejak peristiwa Lockerbie. Rumah yang menjadi saksi tewasnya dua anaknya itu dibiarkan apa adanya tanpa dipugar.

Pada malam harinya di tempat yang sama Presiden bersama Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Sekneg Bambang Kesowo, dan Menperindag Rini Suwandi dijamu santap malam bersama Presiden Mali yang juga tengah melakukan kunjungan kerja di Tripoli. Secara kebetulan kedua pemimpin datang mengenakan pakaian sewarna, yaitu ungu. Seusai santap malam, Gaddafi sempat mengantar Megawati ke Hotel El Mahari tempat rombongan Kepala Negara menginap.

Dalam pertemuan itu, Presiden Megawati Soekarnoputri mengungkapkan bahwa Gaddafi menentang pemberontakan dalam bentuk apapun di Indonesia. Negara tersebut tetap mendukung keutuhan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

Gaddafi juga menjelaskan kabar bahwa negaranya telah melakukan latihan militer bagi orang-orang Aceh. Menurut dia, di negaranya ada aturan yang mengharuskan semua orang dewasa yang bermungkin di sana, baik itu orang Libia sendiri maupun orang asing harus mengikuti semacam latihan militer.

''Karena itu, ia mengatakan, tidak benar jika selama ini Libia dikatakan melakukan pelatihan militer bagi orang-orang Aceh di sana,'' kata Megawati ketika mengutip pernyataan Khadafi.

Kemudian Megawati mengatakan,"Mungkin hal itu kemudian dilakukan untuk membentuk sesuatu di Aceh.

" Masih menurut Mega, Khadafi mengatakan latihan tersebut biasanya untuk menyiapkan masyarakat Libia dalam menghadapi keadaan darurat, seperti serangan udara, ataupun kebakaran.

Imbal Dagang

Sedangkan secara terpisah Menperindag Rini Suwandi mengungkapkan, Indonesia akan melakukan imbal dagang dengan Libia dengan mengimpor 50.000 barel minyak per hari, dan akan membayarnya dengan aneka komoditas nasional. Bila dibuat dalam besaran ekonomi, nilai 50.000 barel minyak per hari akan setara dengan 40 juta dolar AS/bulan.

Sebetulnya Indonesia menginginkan lebih besar lagi impor minyak dari Libia, hanya saja masalah perjanjiannya masih akan dibicarakan lebih lanjut.

"Sebetulnya perjanjian dasar sudah ditandatangani beberapa waktu, tapi perlu hal yang lebih detil lagi dan sekarang hal itu dibuat perjanjiannya. Diharapkan dengan perjanjian sekarang ini, Indonesia sudah bisa mengimpor minyak dan mengekpor beberapa komoditas nasional ke Libia," tuturnya.

"Pemerintah Libia sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang ekonomi. Pascapencabutan embargo ini, mereka juga ingin memasarkan minyaknya ke kawasan Asia, dan Indonesia siap menjadi pintu gerbangnya serta ingin supaya bisa memasarkan produknya ke kawasan sekitar," tambah Rini.

Beberapa komoditas yang sangat diinginkan Libia, antara lain bahan bangunan, karet, baja, kapal patroli laut, dan pakaian seragam tentara. Khusus untuk seragam tentara, pemerintah Libia sangat menginginkan bisa direalisasikan dalam waktu dekat ini. "Kemarin, saya duduk dengan tokoh militernya, dan mereka ingin secepatnya membeli seragam tentara dan ransumnya karena produk kita halal. Untuk itu, saya akan tarik pengusaha yang bergerak di bidang ini supaya bisa direalisasikan tahun ini juga," katanya.

Sebetulnya, lanjut Rini, ada keinginan dari kedua pihak untuk meningkatkan volume imbal dagang. Indonesia, misalnya menginginkan impor minyak yang lebih besar lagi jumlahnya, dan Libia ingin menambah beberapa produk dan komoditas dalam imbal dagang tersebut.

"Jadi banyak hal yang masih harus ditindaklanjuti. Minyak, misalnya bisa saja lebih dari 50.000 barel/hari hanya saja sisanya dibeli dengan kontan, misalnya. Kemudian mereka juga meminta supaya memasukkan komponen furnitur dan helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia dalam imbal dagang. Mereka juga siap bekerja sama dalam industri petrokimia dan baja," kata Rini.

Khusus tentang pembelian kapal patroli, lanjut Rini, Libia sudah memesan tiga buah kapal patroli ukuran 11 meter, 15 meter, dan 21 meter ke PT PAL. "Ini pengakuan dari luar kepada PT PAL setelah perusahaan itu menerima order pembuatan kapal tanker dari Pertamina. Diharapkan tahun ini akan bisa dikirimkan satu kapal patroli," tutur mantan CEO PT Astra Internasional ini.

Selain kapal patroli, Libia juga tertarik untuk membeli pesawat terbang dan helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia, seperti CN 235, helikopter jenis NBO, dan PUMA. Hanya saja jumlahnya belum ditentukan.

Ditanya tentang kemungkinan mereka berinvestasi di Indonesia, Rini mengaku, Pemerintah Libia ternyata sangat tertarik untuk menanamkan uangnya di Indonesia. Selama ini, mereka telah berinvestasi di Afrika.

"Mereka tertarik dengan recovery Bali pascapeledakan bom. Mereka melihat kita punya kemampuan yang lebih baik dibanding Maroko yang masih terus dilanda krisis," kata Rini. (A20, ant-69)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA