logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 13 September 2003 Internasional  
Line

Dunia Mengecam Israel

JERUSALEM - Israel menghadapi kecaman internasional, Jumat kemarin, atas keputusannya untuk ''mengusir'' Presiden Palestina Yasser Arafat (74). Keputusan itu menyebabkan puluhan ribu pendukung Arafat turun ke jalan membela pemimpin Palestina tersebut.

''Keputusan tersebut mengubah Arafat menjadi pahlawan, dan itu memalukan,'' tulis Roni Shaked di koran terbesar Israel, Yedioth Ahronoth.

Israel mencap Arafat penghambat upaya perdamaian. Negara Yahudi itu masih di bawah tekanan AS yang menuntut agar Arafat tidak diusir setelah dua bom jibaku yang menewaskan 15 warga Israel Selasa lalu. Namun, kabinet keamanan Israel Kamis lalu berjanji ''menghilangkan'' pemimpin Palestina itu ''dengan cara yang akan ditentukan secara terpisah''.

Sumber-sumber yang dekat dengan pemerintah itu mengatakan, pemerintah telah meminta AD Israel memperbarui rencana mengusir Arafat, tetapi tidak dalam waktu dekat.

Setelah keputusan Israel itu, ribuan warga Palestina berkumpul Kamis lalu di depan kompleks kantor Arafat di Kota Ramallah, Tepi Barat. Kompleks kantor tersebut dikepung oleh Israel, sehingga gerak Arafat sangat terbatas selama 21 bulan terakhir. Para demonstran itu bersumpah membela Arafat dengan seluruh jiwa raga mereka.

Dukung Arafat

Massa yang jumlahnya ribuan juga menggelar demonstrasi di kota-kota lain di Tepi Barat untuk mendukung Arafat.

Arafat yang terlihat berseri-seri menyambut hangat para demonstran. Dia melambaikan tangan dan mengacungkan dua jari membentuk huruf ''V'' yang berarti ''kemenangan''. ''Kalian adalah para pemberani dan orang-orang yang saya cintai. Abu Ammar tetap berada di sini,'' katanya.

Calon PM Palestina Ahmed Korei, menanggapi keputusan Israel tersebut, menunda pembentukan kabinet. Dia akan mengambil alih jabatan perdana menteri dari Mahmud Abbas, tokoh moderat yang mengundurkan diri pekan lalu dengan menuduh Arafat dan Israel merusak upayanya.

''Jika kebijakan-kebijakan Israel terus menentang Yasser Arafat, saya kira tidak ada gunanya membentuk pemerintahan atau upaya apa pun untuk mengendalikan situasi,'' kata Korei kepada televisi Al Jazeera yang berbasis di Qatar.

Brigade Syuhada Al-Aqsa, kelompok bersenjata yang punya kaitan dengan kelompok Fatah yang dipimpin Arafat, mengatakan akan menyerang warga Israel ''di mana pun, baik di dalam wiayah Israel maupun di daerah-daerah yang diduduki'', jika Arafat diusir.

Sharon berada dalam tekanan berat dari banyak anggota kabinet sayap kanannya untuk mengusir Arafat. Seruan-seruan agar segera bertindak semakin keras setelah Israel dan Palestina saling melancarkan serangan bom.

Namun Sharon telah menolak seruan pengusiran. Dia khawatir Arafat akan memperoleh simpati dunia internasional.

Hal itu terbukti setelah keputusan Kamis lalu. ''Sangat tidak bijaksana mengusirnya,'' kata Sekjen PBB Kofi Annan di kantor Eropa PBB di Jenewa.

Presiden Prancis Jacques Chirac mengatakan dalam suatu konferensi pers di Spanyol: ''Saya mempertimbangkan Arafat sebagai wakil sah Otoritas Palestina, dan saya kira upaya untuk menyingkirkannya secara politik jelas merupakan kesalahan serius.''

Uni Eropa mengatakan, pengusiran Arafat kemungkinan akan meningkatkan ketegangan Israel-Palestina. Rusia mengatakan, pengusiran pemimpin Palestina itu akan ''menghapus prospek penyelesaian damai''.

RI Juga Kecam

Sementara itu, Indonesia - negara berpenduduk muslim terbesar di dunia - juga mengecam keputusan Israel itu dan menganggap keputusan tersebut akan membahayakan stabilitas dan keamanan dunia Arab.

''Pemerintah Indonesia dengan tegas mengecam keputusan tersebut yang kita anggap berpotensi akan semakin mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah,'' kata Juru Bicara Deplu-RI, Marty Natalegawa, di Jakarta, Jumat.

Indonesia menganggap tidak sepantasnya Yasser Arafat mendapat perlakukan seperti itu dan menekankan bahwa pengusiran Arafat sama sekali tidak membuat situasi di Timteng menjadi baik.

''Pemerintah Indonesia berkeyakinan bahwa upaya untuk menyingkirkan Presiden Arafat tidak akan membantu stabilitas di kawasan Timur Tengah dan jelas tidak mendorong upaya perdamaian di kawasan itu,'' kata Marty.

Selanjutnya, kata Marty, Indonesia mengharapkan agar kecaman terhadap keputusan Israel mengusir Arafat tersebut akan menjadi posisi bersama dalam berbagai organisasi multilateral, seperti PBB, OKI, dan GNB.

Presiden Mesir Hosni Mubarak sebelumnyamemperingatkan, pengusiran itu akan menjadi ''kesalahan monumental''. ''Bukan karena kita cinta Arafat, namun karena kita menginginkan perdamaian, kita menginginkan keamanan. Kita menginginkan stabilitas,'' kata Mubarak setelah perundingan di Roma, Kamis, dengan PM Italia, Silvio Berlusconi, ketua Uni Eropa periode saat ini.(rtr-ben-ant-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA