
| Sabtu, 13 September 2003 | Jawa Tengah - Muria |
Sekretariat PDI-P Blora Diobsesikan Kantor RakyatBLORA- Minggu besok DPC PDI-P memasuki babak baru menyusul akan diresmikannya sekretariat di Jl Raya Blora-Cepu KM 4, tepatnya di Desa Seso, Kecamatan Jepon. Sebuah gedung sekretariat yang benar-benar representatif karena tanah tempat berdirinya bangunan secara resmi juga milik partai berlambang banteng mencereng di dalam lingkaran itu. Menurut penuturan ketua panitia pembangunan sekretariat Martono yang juga Sekjen DPC PDI-P Blora, kantor baru tersebut dibangun di tanah 1.980 m2, sementara luas bangunan gedung 400 m2. "Tanah secara resmi sudah sepenuhnya milik partai," jelasnya. Berapa dana yang telah dihabiskan untuk membangun gedung sekretariat yang sedemikian megah itu? Sesuai dengan penjelasan Martono yang Ketua Komisi A DPRD, hingga kini mereka telah menghabiskan dana Rp 700 juta. Sebuah angka yang tidak sedikit untuk ukuran Blora. Hanya, sangat dimungkinkan bahwa angka tersebut sebuah kewajaran, mengingat PDI-P merupakan partai pemenang pemilu tahun 1999. Dia mengemukakan, dana sebesar itu diperoleh dari sumbangan dana parpol APBD II, juga sumbangan dari anggota fraksi PDI-P DPRD Blora. "Tidak ketinggalan sumbangan yang cukup besar masuk dari sejumlah donatur yang dengan hormat tidak mau disebutkan satu per satu," ungkapnya. Tidaklah mengherankan jika pada peresmian besok akan hadir sejumlah tamu undangan. Antara lain pimpinan pusat PDI-P yang rencananya diwakili oleh Gunawan Wirosaroyo, Gubernur Jateng H Mardiyanto, Ketua DPD PDI-P Jateng yang baru saja terpilih, Murdoko. Bupati H Basuki Widodo, termasuk sejumlah ketua DPC kabupaten tetangga yang juga akan hadir. Isu Demo Ada sedikit isu tak sedap menjelang peresmian sekretariat DPC PDI-P Blora, yakni dimungkinkan ada aksi demo dari sekelompok orang yang hingga kemarin belum diketahui datang dari mana. Menanggapi hal itu, Ketua DPC PDI-P Blora H Warsit menyatakan tidak masalah. "Kalau akan ada demo tidak masalah, wong niatan saya itu ingin membesarkan partai," tandasnya ketika dihubungi Suara Merdeka, kemarin. Banyak pihak yang mengharapkan dengan menempati sekretariat baru itu kiranya bisa digunakan sebagai modal dalam menggalang kekuatan besar, melakukan konsolidasi terhadap seluruh kader, dan sebagai sarana untuk menyelesaikan permasalahan. Mengambil ilham dari cerita Mahabarata tentang proses berdirinya Candi Saptorenggo, yang konon meski sempat terjadi saling klaim antara pandawa dan kurawa, akhirnya dengan penuh kearifan semua pihak mereka berhak untuk ngrekso. Martono menuturkan, pada prinsipnya dia sependapat dengan cerita yang penuh filosofi itu. Pihaknya beserta seluruh pengurus, kader, dan simpatisan tidak akan mengklaim bahwa hanya warga PDI-P yang berhak sepenuhnya atas keberadaan kantor sekretariat tersebut. Sadar bahwa PDI-P saat ini sudah milik rakyat maka apa pun yang akan diputuskan dalam gedung sekretariat benar-benar untuk kesejahteraan semua rakyat dari golongan mana pun. "Itu memang obsesi kami dengan seluruh warga besar PDI-P Blora, bahwa kantor ini memang milik semua rakyat," tandasnya. (ud-58s) |