
| Rabu, 23 Juli 2003 | Tajuk Rencana |
Stimulus Fiskal Tetap Belum Bisa Diharapkan- Menteri Keuangan Boediono telah memaparkan prediksi RAPBN 2004 yang pada intinya memberikan gambaran tentang rendahnya kekuatan stimulus fiskal melalui anggaran pembangunan dan dana perimbangan. Begitulah kenyataan pahit yang harus dihadapi di tahun depan dan mungkin pada tahun-tahun mendatang. Masih untung defisit anggaran bisa ditekan, karena sekarang stimulus fiskal tidak bisa lagi diharapkan. Bukan tidak ada sama sekali, melainkan angkanya relatif kecil. Tidak mungkin lagi menjadi kekuatan pendorong, apalagi yang utama, bagi pertumbuhan ekonomi seperti cerita sukses pada masa Orde Baru. Yang jadi problem saat ini justru bagaimana menghindari fiscal distress. Sebab, beban pemulihan ekonomi akibat krisis ekonomi sejak 1997 sebagian besar ditanggung oleh anggaran pemerintah.
- Digambarkan RAPBN 2004 amatlah ketat alias tidak longgar. Maklumlah beban pengeluaran rutin yang diakibatkan kebijakan pemulihan ekonomi menjadi demikian besar. Terlebih lagi kita mulai dengan babakan baru, yakni terlepas dari ketergantungan pada Dana Moneter Internasional (IMF). Pemerintah harus membayar obligasi dan utang luar negeri yang amat besar, setelah belum ada penjadwalan utang dari Paris Club. Sementara itu, pendapatan dari hasil penjualan aset privatisasi BUMN relatif sedikit. Ada banyak persoalan, termasuk imbas politik, yang memengaruhi realisasi privatisasi BUMN. Di sisi lain defisit APBN sudah ditetapkan tak lebih dari 1%. Dari sanalah tergambar betapa sulit ruang gerak APBN nanti. Untuk yang sudah pasti saja sudah berat, apalagi memikir pengeluaran pembangunan.
- Apakah ini pertanda perekonomian kita masih sakit? Sebenarnya tidak juga. Pada dasarnya stimulus dari anggaran bukanlah sesuatu yang baik. Hanya, kita masih terobsesi dengan kinerja pada masa-masa lalu, yakni ketika rezeki minyak membanjir dan swasta belum berkembang seperti sekarang. Jadi, kekuatan stimulus yang relatif kecil dan terbatas tetap diperlukan dan diarahkan ke sektor-sektor yang tak mungkin ditangani swasta serta lebih menyangkut nasib rakyat kecil seperti pendidikan, kesehatan, dan pengembangan sektor mikro. Selain itu, prasarana fisik berupa jalan, saluran komunikasi, dan pembangkit energi tetaplah menjadi tugas pemerintah untuk memikirkannya. Tidak hanya terpusat pada Pulau Jawa karena kebutuhan penyebaran dan pemerataan makin mendesak. - Jadi, dari mana stimulus diharapkan muncul untuk menopang laju pertumbuhan 4-5%? Tidak ada lain kecuali sektor swasta. Kegiatan investasi dan perdagangan menjadi motor. Secara teoretis pertumbuhan yang digerakkan oleh sektor riil ini yang paling dominan serta tidak semu. Selain menciptakan lapangan kerja, menambah nilai produksi juga mempunyai efek multiplier yang relatif besar. Untuk itulah, kita tak perlu terlalu pesimistis dan menganggap pengetatan fiskal sebagai kiamat ekonomi. Justru sebaliknya, inilah momentum untuk terus menggiatkan sektor swasta dengan mendorong penciptaaan kebijakan-kebijakan baru yang lebih propasar. Bagaimanapun daya saing ekonomi suatu negara pada akhirnya juga ditentukan oleh daya saing para pelaku usahanya, sebagaimana ditunjukkan oleh negara-negara lain.
- Kendati RAPBN 2004 masih serbaketat, ada beberapa kemajuan yang patut dicatat. Di sisi lain realisasinya tidak mudah, mengingat berbagai persoalan di Tanah Air yang masih dihadapi sampai sekarang. Antara lain soal Aceh, pemutusan hubungan dari IMF, dan pelaksanaan pemilu tahun 2004 yang bisa berimbas ke dalam kehidupan ekonomi. Dari angka-angka asumsi RAPBN 2004, kita melihat prospek yang cukup cerah walaupun tentu tak bisa terlalu spektakuler karena berbagai kendala baik internal maupun eksternal seperti digambarkan di atas. Prediksi itu tak terlepas dari kinerja selama semester pertama tahun 2003 yang memang cukup baik. Misalnya laju inflasi yang terkendali, penurunan bunga SBI, dan penguatan kurs rupiah. Sayang, realisasi kredit dan investasi belum seperti yang diharapkan.
- Perubahan-perubahan paradigmatik ke depan perlu diarahkan pada upaya mendorong kegiatan sektor swasta katimbang menggantungkan peran pemerintah melalui kebijakan fiskal. Untuk sekarang apalagi, kebijakan fiskal justru menjadi problem berat yang harus dihadapi. Jadi, biarkan tim ekonomi berkonsentrasi menyelamatkan anggaran sementara yang lain terus berusaha mendorong penciptaan iklim kondusif agar kegiatan investasi dan perdagangan utamanya ekspor bisa bergerak lebih cepat. Di sinilah kuncinya daripada sekadar mengotak-atik anggaran yang sudah serba sulit dan ketat itu. Harus diakui pemerintah baru berhasil menciptakan stabilitas ekonomi dan moneter namun belum efektif membuat stimulus-stimulus baru bagi dunia usaha dengan serangkaian kebijakannya. |