logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 23 Juli 2003 Berita Utama  
Line

Pemilihan Presiden secara Langsung Rawan Konflik

SEMARANG - Bagi pembangunan demokrasi bangsa, proses pemilihan presiden secara langsung adalah kemajuan yang patut disambut dengan hangat. Namun pada tatanan realitas, pelaksanaan pemilihan langsung berpotensi banyak konflik.

Konflik yang diprediksikan paling besar adalah saat proses pemilihan presiden dan wakil presiden memasuki tahap kedua. Pada tahap itu, ma-sing-masing calon memiliki kekuatan dukungan riil yang tidak menutup kemungkinan sama-sama tegang. "Karena itu, kepentingan kelompok yang ada dimungkinkan akan memicu kericuhan," ujar Prof Dr Dahlan Thoyib, direktur Pascasarjana UII saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional tentang Pemilu 2004 Menuju Terwujudnya Good Governance Perspektif HTN-HAN di Unnes, Selasa (22/7).

Selain Thoyib, tampil pula sebagai pembicara Sudardi SH, Ketua AP HTN-HAN Komda Jateng, dan Ketua KPU Jateng Hasyim Asy'ari SH MH. Sementara itu, Prof Dr Mahfud MD yang dijadwalkan menjadi pembicara utama urung hadir.

Dahlan Thoyib menjelaskan, dalam Pemilu 2004, untuk pemilihan presiden tahap pertama kemungkinan akan muncul banyak calon , apalagi ada dua ratus lebih partai politik, semuanya mempunyai calon presiden. Pada tahap itu, konflik yang muncul diperkirakan relatif kecil.

Namun tahap kedua, ketika calon presiden tinggal 2 atau 3 orang saja, maka akan mudah muncul ketegangan. Sebab, banyak kelompok yang memiliki kepentingan, termasuk sejumlah partai yang bakal melakukan koalisi. Mereka akan membangun strategi yang arahnya mengegolkan jago masing-masing.

"Dari sini benturan kepentingan sulit dihindari, terutama jika setiap blok tidak membuka kran demokrasi. Karena itu, mereka harus ditegaskan agar siap untuk menang dan siap untuk kalah," jelasnya. (H1-69n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA