
| Selasa, 8 April 2003 | Sala |
Gelar Seni untuk Tambah Jam Terbang SiswaDALAM dua pekan terakhir, setiap Sabtu, di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 8 atau lebih dikenal Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo digelar pentas seni siswa. Banyak harapan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Salah satunya untuk menambah ''jam terbang'' para siswa dalam menapaki bidang yang akan dimanfaatkan untuk menjalani kehidupannya kelak. Lembaga pendidikan semacam SMKI termasuk SMK yang ''khusus sekali''. Kekhususan tersebut antara lain melekatnya fungsi ganda yang ada pada sekolah kejuruan itu. ''Bila SMK lain seperti teknologi mungkin hampir di setiap kota ada dua atau bahkan tiga sekolah. Namun, SMKI di Jawa Tengah hanya ada di Solo,'' ujar Kepala SMKN 8, Sugiyarto. Fungsi ganda yang melekat pada sekolah itu, ujarnya, selain sebagai lembaga pendidikan yang memberikan keterampilan kepada siswa, juga menjadi lembaga pengembangan sekaligus pelestari budaya. ''Fungsi ini yang tidak dimiliki SMK lain,'' lanjutnya. Memang menjadi siswa di SMKI tidak semudah dan semudah SMK lain. Tidak mudah karena sejak awal sudah harus terbaca, apakah siswa itu mempunyai sense di bidang seni. Tidak mudah lantaran setiap siswa menjelang tamat, harus mampu menyajikan sebuah pergelaran seni. Padahal, dalam setiap pergelaran diharapkan siswa mampu melahirkan sebuah karya seni, paling tidak mampu membuat sebuah pergelaran yang bisa menjadi tontonan menarik. Di sini setiap siswa harus bekerja sama dengan siswa lain baik sesama jurusan maupun jurusan lain untuk membuat sebuah pergelaran. Misalnya siswa Jurusan Seni bekerja sama dengan siswa Jurusan Karawitan, atau siswa Jurusan Pedalangan dengan Jurusan Karawitan. ''Bila hanya dibatasi waktunya sesuai dengan jam pelajaran, para siswa tidak akan memiliki kemampuan teknis seni yang cukup. Karena itu, perlu ada kegiatan di luar jam pelajaran untuk mengasah dan meningkatkan 'jam terbang'-nya agar bisa siap kerja,'' papar Ketua Unit Produksi Bambang Suhendro. Kesempatan Terbuka Bila pada SMK lain, kesempatan praktik hanya pada saat akhir kelas tiga, tidak demikian untuk siswa sekolah itu. Kesempatan praktik terbuka setiap saat asal mereka dianggap mampu. Bahkan saat mereka masih kelas satu pun sudah diberi kesempatan untuk menuangkan kreativitasnya. Salah satu media adalah lewat gelar seni siswa setiap Sabtu yang sudah berlangsung dua tiga kali. Bisa juga jam terbang siswa bertambah dengan terlibat dalam berbagai kegiatan seni yang melibatkan sekolah baik secara kelembagaan maupun perseorangan. Beberapa kegiatan yang diadakan Pemkot Surakarta dan masyarakat seperti ''Kirab Boyong Kedhaton'' atau acara seremonial lain yang menyuguhkan atraksi kesenian banyak melibatkan siswa. Bahkan, untuk program sistem ganda atau masa praktik, sudah banyak permintaan dari masyarakat yang berniat nanggap siswa sekolah tersebut, misalnya saat peringatan HUT Kemerdekaan RI. Di samping menambah ''jam terbang'' siswa, kegiatan pentas seni siswa setiap Sabtu juga sebagai media promosi sekolah itu bagi masyarakat umum. Dengan pentas terbuka di pendapa joglo sekolah itu, aktivitas siswa dapat dilihat langsung masyarakat kendati dari luar pagar sekolah. ''Kami juga berharap, kegiatan seni setiap Sabtu itu juga menjadi objek wisata budaya di Solo. Wisatawan domestik dan asing bisa bisa menyaksikan langsung ke sini antara satu setengah sampai dua jam pergelaran,'' lanjut Bambang. Dengan pergelaran seni siswa yang terbuka untuk umum, ujarnya, sekolah tersebut berharap apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional meningkat. Dengan apresiasi tinggi, diharapkan juga penghargaan terhadap kesenian juga akan tinggi.(Sri Wahjoedi-42j) |