
| Selasa, 8 April 2003 | Semarang & sekitarnya |
Memikirkan Kebudayaan Jawa lewat Siklus 35 HariDI manakah perbincangan mengenai kebudayaan Jawa secara antusias dilangsungkan? Semarang sebenarnya memiliki banyak kelompok yang aktif memperbicangkan persoalan tersebut. Biasanya mereka memiliki tujuan hampir sama: nguri-nguri kabudayan Jawi. Beberapa kelompok dapat disebutkan antara lain Yayasan Swagotra Budaya dan Sanggar Seni Paramesthi. Komunitas pertama, selain aktif nggulawentah keterampilan teknis pranatacara, sering menggelar sarasehan yang memperbincangkan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa. Komunitas kedua, selain aktivitas yang mengekspresikan berbagai bentuk kesenian, memiliki kalender acara rutin dalam siklus selapanan (35 hari-Red). Namanya Rebo Legen dan itu telah berlangsung selama beberapa tahun. Pada acara itu digelar berbagai ekspresi yang berkaitan dengan kejawaan seperti pementasan dan sarasehan dengan tema khusus ''membedah persoalan masyarakat Jawa''. Jauh sebelum Sanggar Seni Paramesthi didirikan, tahun 1985 telah berdiri sebuah komunitas yang aktif pada aktivitas serupa dengan fokus kegiatan berupa sarasehan. Bahkan kelompok tersebut memiliki daya tekan yang kuat untuk ikut memengaruhi kebijakan pemerintah, misalnya mengenai kurikulum pendidikan bahasa Jawa di sekolah. Keterlibatan Gubernur Jateng ketika itu HM Ismail sebagai penggagas sekaligus penyedia tempat acara di Puri Gedeh (rumah dinas-Red) bolehlah menjadi tengara yang cukup signifikan mengenai adanya daya tekan terhadap kebijakan pemerintah. Ketika didirikan, komunitas itu belum bernama, atau sebenarnya tak diberi nama. Yang lebih terkenal adalah siklus acaranya setiap 35 hari dengan sebutan Kamis Legen. ''Tahun 1985, beberapa kalangan yang concern pada kebudayaan Jawa mulai sadar, bahwa ada yang hilang setelah selama 10 tahun bahasa Jawa dihapus dari kurikulum sekolah,'' kata Prof Dr Soetomo WE MPd, Ketua Stiepari sekaligus salah seorang yang ikut menggagas acara Kamis Legen tersebut. Berbagai hal telah dilakukan komunitas ''Kamis Legen'' itu. Agenda cukup spektakuler yang telah dilakukannya antara lain penyelenggaraan Kongres I Bahasa Jawa di Semarang, tahun 1991. Pada tahun yang sama didirikan sebuah yayasan yang selanjutnya memfasilitasi perbincangan wacana tentang Jawa. Namanya Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil dengan Soetomo sebagai ketua dan HM Ismail sebagai ketua pembina. Hindari Kultus Seiring waktu, karena setiap acara Kemis Legen berlangsung di Puri Gedeh, ada kekhawatiran munculnya kultus pada sosok gubernur. Siklus acara diubah menjadi Jumat Kliwonan. Tempat kegiatan pun mulai disebar ke berbagai tempat, misalnya kampus-kampus. ''Berbulan-bulan Kemis Legen selalu di Puri Gedeh. Ada kekhawatiran akan munculnya kultus. Maka acara itu selanjutnya dilangsungkan di beberapa tempat, bahkan di beberapa daerah,'' kata Soetomo. Perubahan terus terjadi terutama dalam siklus kelangsungan acara. Mulai tahun 1996, acara ditajuki dengan ''Slasa Kliwonan'', tetap dengan kegiatan sama yaitu sarasehan dengan fasilitator Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil. Sarasehan pada siklus setiap malam Selasa Kliwon itu masih disetiai hingga sekarang. Mengapa Selasa Kliwon yang akhirnya terus dipakai? Menurut Soetomo, dalam siklus 35 hari, ada dua hari yang secara astronomis memunculkan pertemuan garis dua planet. Bumi dengan Venus pada hari Jumat kliwon, dan bumi dengan Mars pada Selasa Kliwon. Kedua hari itu memiliki daya berupa keluarnya sinar ulatraviolet yang bagus untuk kekuatan energi manusia. ''Jadi, itu alasan pemilihannya.'' Terlepas dari daya magis-astronomis yang ada pada pemilihan hari acara, Slasa Kliwonan selanjutnya menjadi agenda serupa dengan Kamis Legen yang menjadi embrionya. Hasil perbincangan dalam sarasehan yang digelar hampir dipastikan memiliki daya tekan kebijakan. Menariknya, segmen pesertanya pun mulai diperlebar. Dari hanya diikuti kalangan elitis tertentu, kini mulai melibatkan banyak pihak, juga kalangan muda. Itu bisa dibuktikan pada sarasehan Slasa Kliwonan terakhir pada akhir Maret lalu. Peserta yang menghadiri sarasehan dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Drs Soebagyo Brotosedjati MPd sangat beragam. Di samping orang-orang yang hampir selalu ikut, masih ada dari kalangan pendidik dan umum. Sekadar catatan, yang diperbincangkan kala itu adalah mengenai arah pengajaran bahasa dan sastra Jawa di Jateng pasca-Kongres III Bahasa Jawa di Yogyakarta 2001''. Di luar itu semua, memperbincangkan kejawaan (khususnya bagi yang berminat) memang tak selalu harus terpatok untuk menunggu datangnya siklus 35 hari. Bukankah semestinya bisa dilakukan kapan saja? (Saroni Asikin-13) |