logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 22 Februari 2003 Jawa Tengah - Muria  
Line

AFTA Akan Memacu Mental Konsumtif Lebih Tinggi

JEPARA- Pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas ASEAN atau ASEAN Free Trade Area (AFTA) sejak awal 2003 ini, selain memunculkan peluang juga tantangan tak ringan.

Hal itu dikemukakan Rektor Inisnu KHMA Sahal Mahfudh pada KKN (Kuliah Kerja Nyata-Red) dan AFTA di kampus Pekeng, Tahunan, Jepara, Rabu lalu. Pembicara lain, Drs Poniman (Staf Ahli Bupati Jepara, Bidang Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat), dan Drs Ahmad Zubaidi MEd (Kepala PPM IAIN Walisongo Semarang). Kegiatan diikuti para pembantu rektor, dekan, Ketua STIENU, calon dosen pembimbing KKN, perwakilan mahasiswa, dan kecamatan.

Rais 'Am Syuriyah PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat itu mengungkapkan, di mata para produsen, pemberlakukan AFTA merupakan berkah, karena akan mendapatkan kemudahan finansial dan prosedur. Para konsumen pun akan dimanjakan oleh harga barang murah dan berkualitas baik.

"Dari sisi konsumsi akan mengubah tradisi penindasan konsumen oleh produsen seperti yang selama ini dialami konsumen Indonesia. Namun upaya pemasaran besar-besaran sebagai konsekuensi logis dari melimpahnya komoditas akan semakin memacu dan meningkatkan mental konsumtif bangsa ini hingga ke tingkat yang jauh lebih tinggi dari yang pernah kita saksikan."

Selain ada kalangan pro dan optimistis, juga ada yang pesimistis, mengingat Indonesia memiliki dua potensi masalah besar dunia industri, yaitu pemasaran dan produksi.

Jumlah penduduk Indonesia 210 juta, atau sekitar 40% dari total penduduk 10 negara ASEAN. Sembilan negara tetangga dengan jumlah penduduk 310 juta (data 2001) akan lebih mudah menyerbu pasar Indonesia.

Sementara itu dalam bidang produksi, masih mewarisi akibat buruk dari praktik monopoli oleh perusahaan-perusahaan besar yang dekat dengan penguasa dalam tiga-empat dekade belakangan. Mereka besar lantaran menutup gelanggang persaingan, sehingga langsung guncang saat pasar bebas diberlakukan.

"Dengan dua masalah itu saja, AFTA bisa menjadi pedang ganda yang serentak menikam kita dari depan dan belakang. Bagaimanapun bila ditambah dengan instabilitas politik yang menurunkan tingkat keamanan investasi di Indonesia, sebagaimana terbaca tidak saja dari penutupan berbagai perusahaan multinasional (contoh mutakhir perusahaan elektronik Jepang Sony) tetapi juga penanaman (atau sekadar pemarkiran) modal Indonesia di luar negeri."

Bila kondisi itu tidak segera mendapatkan perbaikan yang sebetulnya cukup terlambat dibicarakan sekarang, ujar Sahal Mahfudh, maka melalui AFTA Indonesia hanya akan menjadi bulan-bulanan pemasaran produksi para negara tetangga. (kar-58j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA