
| Sabtu, 22 Februari 2003 | Budaya |
SineFleksi Benny BenkeCinta, Kesetiaan"Pergilah. Aku akan menantimu sampai kembali." DIALOG itu terjadi di pagi buta berkabut di tepi anak sungai, antara Nak -seorang istri yang tengah hamil hamil muda- dengan suaminya, Nang. Sebuah dialog yang terjadi di pelosok Thailand dengan setting tahun 1866. Nak, perempuan jelita itu, berikhtiar untuk menjaga rapi kesetiannya pada suaminya yang akan berangkat ke medan pertempuran. Maka, dengan pandangan sang istri, Nang mendayung sampan sembari selalu memalingkan muka ke arah perempuan di ujung dermaga bambu itu. Dan di sana, Nak tak henti-hentinya menangis sambil terus melambai dan sesekali menyebut nama suaminya. Di medan pertempuran, Nang luka parah dan frustasi. Baginya, perang adalah kejahatan yang paling mengerikan; kawan karib seperjuangan, anak-anak, dan perempuan tak berdoasa terkapar berkalang tanah. Dalam garis batas antara hidup dan mati; sakaratul maut, imaji Nang melayang kepelukan istri. Jauh dari tempat Nang, Nak ternyata juga tengah melakukan pertempuran dalam bentuknya yang lain; meregang nyawa mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan anaknya. Perang selesai. Hanya satu yang kemudian menjadi keinginan Nang; pulang menemui istrinya. Maka, sebagaimana keberangkatannya, bersampanlah ia menyusuri anak sungai. Di pintu rumah, ia disambut Nak dengan bayi di pangkuan. Apa yang lebih mengharukan, juga indah, dari kesetiaan istri semacam itu? Hari-hari setelah itu adalah surga bagi Nak-Nang. Nak menanak nasi, Nang mencari kayu bakar. Nak mencuci, Nang menjala ikan. Namun, mengapa para tetangga satu demi satu menghindari setiap kali mereka bertemu Nang? Laki-laki itu bertanya dan mencari jawab. Namun, lagi-lagi kawan-kawan sepermainan ingin memberi jawaban, mereka justru mati secara tak wajar. Tak ada cara lain, Nang pun berkeluh pada istrinya. Ending film itu berakhir tragis, mungkin juga mengharukan. Nang, akhirnya tahu bahwa Nak dan anaknya yang selama ini terlihat bahagia dan penuh pengabdian, ternyata hantu belaka. Ya, hantu. Sebab, Nak beserta anak yang dilahirkan sebenarnya telah meninggal dunia ketika proses persalinannya gagal. Tapi, barangkali bukan perkara ending yang miris itu yang ingin disampaikan film Nang-Nak. Tapi mungkin ini; betapa sebuah kesetiaan dan rasa cinta yang luar biasa bisa mengalahkan apa pun, termasuk kematian. Nak-Nang sendiri adalah film flamboyan yang menjadi box-office di Thailand, mengalahkan film-film laris produksi Hollywood. Saya agak terperangah ketika menyudahi film berdurasi sekitar dua jam ini. Dari sub-title-nya, Death Never Do Us Part, awalnya saya menebak film besutan Nonze Nimibutr (1999) itu seperti film-film yang berangkat dari roman picisan. Tapi ternyata tidak. Dari Nak-Nang, sungguh, kita bisa belajar banyak tentang tentang kesetiaan, juga cinta -lebih khusus dalam kehidupan suami istri. Film ini agaknya juga bisa menjadi semacam di tengah kehidupan rentan gurun rumah tangga yang mudah terbelah. Beranjak dari kursi, lamat-lamat saya masih terbayang gambar Nak yang tetap setia menanak nasi, membuatkan kopi, juga air hangat untuk mandi bagi Nang, suaminya. Padahal, Nak telah lama menjadi hantu. Kesetiaan, cinta, adakalanya mampu mengalahkan kematian.(79) |